Liputan6.com, Jakarta - Telefarmasi ApoTech merupakan inovasi teknologi bidang kesehatan pertama di Indonesia. Sistem ini bukan sekadar mesin vending biasa, melainkan sebuah layanan farmasi digital yang memungkinkan pengguna berkonsultasi langsung dengan apoteker berlisensi melalui panggilan video sebelum membeli obat.
Manajer Retail, Harie Wijayanto mengatakan fokus utama dari inovasi ini bukan bisnis tapi tetap memastikan setiap konsumen mendapatkan informasi akurat mengenai cara pakai obat untuk menghindari kesalahan informasi kesehatan yang fatal.
Advertisement
“Layanan farmasi ini buat edukasi ke masyarakat, jadi masyarakat tidak mesti beli obat atau ke apotek untuk bisa mendapatkan penjelasan tentang obat, cukup melalui mesin ini yang rencananya 24 jam beroperasi," ujar Harie dalam acara Exclusive First Reveal of ApoTech di M Blok pada Minggu, 5 Februari 2026.
Melalui fitur telefarmasi, apoteker dapat memberikan pemahaman mendalam, seperti menjelaskan bahwa sebuah merek obat tertentu sebenarnya memiliki kandungan yang sama dengan merek lain, atau menjawab keluhan penyakit konsumen.
Cara Kerja Mesin
Setelah berada di depan mesin, Anda bisa pilih produk kesehatan yang dibutuhkan langsung melalui layar sentuh. Namun, jika Anda memiliki resep atau pertanyaan soal obat, Anda bisa konsultasi langsung lewat fitur telefarmasi, dan sudah terhubung dengan apoteker berlisensi.
Jika konsultasi atau proses pembelian sudah selesai, Anda bisa langsung bayar dengan metode pembayaran non-tunai yang tersedia. Setelah itu, mesin akan keluarkan obat sesuai pilihan Anda.
Apoteker Bisa Menolak Resep Obat Jika Mencurigakan
Proses pemberian obat dilakukan dengan sistem keamanan yang ketat, dan tidak langsung mengeluarkan resep obat begitu saja. Tetapi, apoteker memiliki otoritas penuh untuk menolak transaksi jika resep dokter yang diunggah dianggap mencurigakan atau resep palsu.
“Jika ada yang ingin menebus obat dari dokter, Anda bisa memasukan resep obatnya, tapi nanti ada farmasinya, dia akan cross check resepnya, jika resepnya aneh dia tidak akan menuruti permintaan tersebut,” jelas Harie.
Menjaga Kualitas Obat
Sistem ini juga menerapkan standar Good Distribution Practice (CDOB) dengan menjaga suhu penyimpanan tetap stabil di angka 25 derajat Celsius menggunakan material aluminium untuk mencegah kondensasi.
Selain itu, terdapat sistem waste box internal, jika obat dinilai sudah tidak layak atau tidak bagus untuk diberikan. Obat tersebut akan dialirkan ke kotak pembuangan khusus agar tidak diberikan ke konsumen.
“Kita tetap menjaga kualitas obat seperti menjaga suhu yang stabil, tidak menggunakan sistem dorong saat mengambil obat agar tidak jatuh, dan terdapat sistem experience date untuk mengeliminasi obat tersebut," ungkapnya.
Dengan adanya pengawasan ketat mulai dari konsultasi hingga manajemen stok yang terintegrasi, inovasi ini diharapkan mampu menekan angka penyalahgunaan obat sekaligus memberikan perlindungan maksimal bagi kesehatan masyarakat selama 24 jam penuh.