Direktur Bayan Resources Beli 73.500 Saham BYAN, Segini Nilainya

Direktur Bayan Resources (BYAN) Neil Russell John kini genggam 5,9 juta saham BYAN.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 07 Februari 2026, 06:00 WIB
Direktur Bayan Resources (BYAN) Neil Russell John melepas 73.500 saham BYAN pada 3-5 Februari 2026. (Foto bayan.com.sg)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Bayan Resources (BYAN) Neil Russell John melepas 73.500 saham BYAN pada 3-5 Februari 2026. Penjualan saham BYAN itu dalam rangka divestasi.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (7/2/2026), Direktur PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Neil Russell John melepas saham BYAN dalam tiga tahap. Pertama, ia menjual 54.500 saham BYAN dengan harga Rp 15.024 per saham pada 3 Februari 2026. Kedua, penjualan saham BYAN sebesar 16.700 dengan harga Rp 15.018 pada 4 Februari 2026. Ketiga, Neil melepas 2.300 saham BYAN dengan harga Rp 15.000 per saham pada 5 Februari 2026. Dengan demikian, total penjualan saham BYAN sebesar 73.500 senilai Rp 1,10 miliar.

"Tujuan transaksi divestasi dengan status kepemilikan langsung,” seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Setelah transaksi penjualan saham BYAN, ia mengenggam 5.926.500 atau setara 0,018% dari sebelumnya 6.000.000.

Pada penutupan perdagangan saham Jumat, 6 Februari 2026, harga saham BYAN turun 2,35% ke posisi Rp 14.575 per saham. Harga saham BYAN dibuka stagnan di posisi Rp 14.925 per saham. Saham BYAN berada di level tertinggi Rp 14.925 dan level terendah Rp 14550 per saham. Total frekuensi perdagangan 113 kali dengan volume perdagangan 267 saham. Nilai transaksi Rp 392,3 juta.

Mengutip data RTI, IHSG Jumat pekan ini ditutup turun 2,08% ke posisi 7.935,26. Indeks saham LQ45 terpangkas 1,66% ke posisi 815,58. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.

Jelang akhir pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 8.025,14 dan level terendah 7.861,68. Sebanyak 646 saham melemah sehingga menekan IHSG. 107 saham diam di tempat dan 68 saham diam di tempat.

 

Sektor Saham

Karyawan memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2018 di Kantor BEI, Jakarta, Jumat (28/12). Presiden Joko Widodo atau Jokowi menutup langsung perdagangan IHSG 2018. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Total frekuensi perdagangan saham 2.248.150 kali dengan volume perdagangan 35,6 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 19,7 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.870.  Tekanan IHSG ini terjadi tengah aksi beli saham oleh investor asing. Tercatat investor asing beli saham Rp 944,31 miliar. Sepanjang 2026, investor asing lepas saham Rp 11,01 triliun.

Dari 11 sektor saham, hanya sektor saham transportasi yang menguat 0,53%. Sementara itu, sektor saham consumer siklikal turun 5,11% dan catat koreksi terbesar. Sektor saham industri terpangkas 4,51%, sektor saham energi turun 3,25% dan sektor saham basic turun 3,01%.

Selanjutnya sektor saham consumer nonsiklikal melemah 1,26%, sektor saham kesehatan terpangkas 0,004%, sektor saham keuangan susut 0,94%, sektor saham properti tergelincir 2,11%, sektor saham teknologi merosot 1,82% dan sektor saham infrastruktur terpangkas 2,95%.

Sentimen IHSG

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menuturkan, sentimen negatif IHSG berasal dari penurunan outlook peringkat utang pemerintah Indonesia yang menjadi negatif, meskipun peringkat utang tetap stabil di level Baa2 (investment grade).

Selain itu, S&P Global Ratings menuturkan, volatilitas pasar saham belum mengubah pandangannya terhadap peringkat Indonesia yaitu tetap dengan “outlook” stabil.

“Walaupun S&P meningkatkan bahwa pelemahan fiskal dapat menambah tekanan penurunan peringkat jika tidak diimbangi oleh perbaikan di area lainnya,” ujar Ratna dikutip dari Antara.

Sementara itu, data ekonomi domestik, cadangan devisa (cadev) Indonesia tercatat di USD 154,6 miliar pada Januari 2026, atau menurun dari sebelumnya USD 156,5 miliar pada Desember 2025.

Penurunan itu akibat pembayaran utang valuta asing (valas) pemerintah dan upaya stabilisasi Rupiah oleh Bank Indonesia (BI).

Sementara itu, indeks harga properti di Indonesia tumbuh 0,83 persen year on year (yoy) pada kuartal IV-2025, atau cenderung stabil dari sebelumnya 0,84 persen (yoy) pada kuartal III-2025, serta merupakan pertumbuhan paling lambat sejak 2023.

“Pada pekan depan, dari sisi domestik, pelaku pasar akan mencermati rilis data consumer confidence, data retail sales, serta data penjualan sepeda motor dan mobil,” kata dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya