Juda Agung Bakal Dilantik Jadi Wamenkeu Gantikan Thomas Djiwandono? Ini Kata Istana

Juda Agung disebut-sebut menjadi kandidat kuat Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) baru pengganti Thomas Djiwandono.

oleh Septian DenyDiterbitkan 05 Februari 2026, 12:40 WIB
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung mencatat sumbangan devisa dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) mencapai USD 14,2 bilion di sepanjang 2023. Nilai ini setara Rp230,6 triliun dengan asumsi kurs Rp16.243. (Merdeka)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto akan melantik Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) baru di Istana Negara Jakarta, Kamis (5/2/2026) sore. Nama mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung, yang disebut-sebut sebagai kandidat Wamenkeu.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi enggan membenarkan kabar tersebut.

"Nanti akan diumumkan pada waktunya," ujar dia, Kamis (5/2/2026).

Adapun saat ini posisi Wamenkeu kosong usai Thomas Djiwandono terpilih menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Sebelumnya, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung, termasuk salah satu nama yang dipertimbangkan untuk mengisi posisi Wakil Menteri Keuangan yang kini masih belum terisi usai Thomas Djiwandono mengundurkan diri.

Purbaya mengakui telah bertemu langsung dengan Juda Agung. Dari pertemuan tersebut, nama Juda disebut sebagai kandidat yang memiliki peluang besar untuk mengisi jabatan tersebut.

"Kelihatannya (Juda Agung). Kan saya sudah ketemu dengan beliau, dan kelihatannya sih salah satu calon yang kuat ya," kata Purbaya.

 

 

Tak Ada Plh Wamenkeu

Persetujuan tersebut menjadi penutup proses uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR, sekaligus mengisi posisi yang ditinggalkan Juda Agung sejak mengundurkan diri pada 13 Januari 2026. Tampak dalam foto, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih, Thomas Djiwandono (kanan) menyalami anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setelah Rapat Paripurna DPR RI Ke-12 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025–2026 di Kompleks Parlemen Republik Indonesia, Jakarta pada Selasa 27 Januari 2026. (Foto oleh AFP)

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudi Sadewa tidak ada Pelaksana Harian (Plh) wakil menteri keuangan (wamenkeu) setelah ditinggalkan Thomas Djiwandono yang terpilih menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Hal ini disampaikan Purbaya usai menghadiri pelantikan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) di Istana Kepresidenan.

"Enggak ada (Plh), di bawahnya kan ada dirjen-dirjen. Saya ngendaliin sama wamen yang ada sekarang, enggak ada masalah," kata Purbaya, Rabu (28/1/2026).  Nama Juda Agung BeredarKemudian saat disinggung mengenai posisi wamenkeu yang akan diisi oleh Juda Agung. Purbaya menyebut, bakal dilakukan pada Februari 2026 mendatang.

"(Pelantikan) Saya dengar Februari," ujarnya.

Kendati demikian, ia belum bisa memastikan secara pasti kapan pelantikan itu bakal dilaksanakan.

"Enggak tahu, saya enggak tahu. Bertanya di dalam aja yang mau tahu bocorannya tuh," pungkasnya.

 

Thomas Djiwandono Resmi Terpilih Jadi Deputi Gubernur Bank Indonesia

Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono. Seorang politikus yang menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Gerindra sejak tahun 2014. Pada 18 Juli 2024, ia diangkat menjadi Wakil Menteri Keuangan II mendampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumya, rapat internal Komisi XI menetapkan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Penetapan itu dilakukan setelah melaksanakan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) kepada tiga calon kandidat.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyatakan, keputusan itu disepakati dalam rapat internal Komisi XI hanya sekitar 30 menit usai proses fit and proper test rampung.

"Telah dilakukan kemudian kesepakatan melalui proses musyawarah mufakat, dan kemudian dimasukkan dalam rapat internal di Komisi XI, bahwa yang menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia pengganti Bapak Juda Agung yang mengundurkan diri adalah Bapak Thomas AM Djiwandono," ujarnya di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (26/1/2026).

Usai penetapan itu, keputusan final bersama akan dibawa oleh Komisi XI untuk disahkan dalam rapat paripurna pada Selasa (27/1/2026) besok.

Misbakhun menyampaikan, ada beberapa alasan anggota parlemen memilih keponakan Presiden Prabowo Subianto tersebut sebagai pejabat baru Bank Indonesia. Selain alasan politik, Thomas Djiwandono dipercaya mampu membangun sinergi erat antara sektor fiskal dan moneter.

"Pertimbangannya bahwa Bapak Thomas adalah figur yang bisa diterima oleh semua partai politik. Figur Bapak Thomas tadi juga menjelaskan dengan sangat bagus soal bagaimana perlunya membangun sinergi antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Sehingga memberikan penguatan terhadap pertumbuhan ekonomi itu seperti apa," tuturnya.

"Dan bagaimana membangun agile, katanya kelincahan dalam proses pengambilan keputusan. Menurut saya memang itu isu yang sedang kuat saat ini, bagaimana membangun sinergi yang saling menguatkan antara monetary policy dan fiscal policy," imbuh Misbakhun.

Profil Thomas Djiwandono

Deputi Gubernur Bank Indonesia terpilih Thomas Djiwandono saat media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Rabu (28/1/2026). (Foto: Liputan6.com/ Tira Santia)

Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono, lahir pada 7 Mei 1972 di Jakarta. Ia merupakan anak pertama dari pasangan Soedradjad Djiwandono, mantan Gubernur Bank Indonesia, dan Biantiningsih Miderawati, yang juga merupakan kakak kandung Prabowo Subianto. Dengan latar belakang keluarga yang kuat, Thomas memiliki jejak yang cemerlang dalam karir dan politik.

Thomas Djiwandono dikenal sebagai seorang Katolik yang menikah dan memiliki tiga orang anak. Ia merupakan cicit dari R.M. Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank BNI 46. Keluarganya yang terlibat dalam dunia ekonomi dan politik menjadikannya salah satu tokoh I yang diperhitungkan di Indonesia.

Pendidikan Thomas dimulai dari SMP Kanisius di Menteng, Jakarta, sebelum melanjutkan ke Haverford College di Pennsylvania, Amerika Serikat, untuk meraih gelar sarjana di bidang Sejarah. Ia kemudian melanjutkan studi di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies (SAIS) di Washington, D.C., dengan fokus pada Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya