MRT Kembangan-Balaraja Mulai Tahap Studi, Ini Daftar 7 Pengembangnya

PT MRT Jakarta telah resmi menyepakati penjajakan awal kerja sama pengembangan jalur MRT Line Timur Barat Fase 2.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 05 Februari 2026, 05:35 WIB
Rangkaian kereta MRT melintas menuju stasiun di Jakarta, Kamis (20/10/2022). Setelah penaikan pada 3 September 2022, rata-rata pengguna MRT per hari mengalami kenaikan rata-rata sebesar 3,8 persen dari 61.014 orang per hari menjadi 63.339 orang per hari. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - PT MRT Jakarta resmi menyepakati penjajakan awal kerja sama pengembangan jalur MRT Line Timur Barat Fase 2 (Kembangan-Balaraja dengan tujuh pengembang (developer).

Rincian pengembang tersebut adalah PT Serpong Cipta Kreasi (Summarecon Serpong), PT Alam Sutra Realty, Tbk (Alam Sutera), PT Lippo Karawaci (Lippo Land), dan PT Paramount Enterprise International (Paramount Land).

Lalu PT Serpong Cipta Cahaya (Summarecon Tangerang), PT Sinar Puspapersada (Intiland Development Tbk), dan PT Metropolitan Karyadeka Development (Metland Cyber Putri).

Kesepakatan dengan para pengembang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang dilakukan langsung oleh DirekturPengembangan Bisnis PT MRT Jakarta Farchafd Mahfud.

Penandatanganan MoU juga disaksikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Banten Andra Soni, dan Direktur Utama PT MRT Jakarta Tuhiyat.

"Lintas Timur-Barat merupakan koridor yang sangat strategis yang menghubungkan kawasan hunian, kawasan industri, serta pusat pertumbuhan baru di Jakarta, DKI Jakarta, dan Provinsi Banten," ujar Tuhiyat di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu 4 Februari 2026.

Menurut Tuhiyat, MRT mengambil inisiatif untuk membantu pemerintah pusat selaku pemilik proyek dalam hal mendorong konektivitas dan efisiensi anggaran proyek melalui kerja sama studi dengan para pengembang di area Provinsi Banten.

Harapkan Studi Bisa Bantu Kemenhub

Suasana sepi saat Lebaran di salah satu stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) di Jakarta, Minggu (24/5/2020). Di tengah pandemi virus corona COVID-19, pengguna MRT terpantau sepi dan tak seperti libur Lebaran sebelumnya. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Tuhiyat berharap studi ini dapat membantu Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI dalam hal perencanaan, baik perencanaan kelembagaan maupun perencanaan keuangan di Lintas Timur-Barat fase kedua.

"Kurang lebih ada sepanjang 30 kilometer dari Kembangan menuju Balaraja," ucap Tuhiyat.

Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa belum ada anggaran dana yang disepakati terkait dengan pembangunan MRT Kembangan-Balaraja ini. MRT Jakarta akan melakukan kajian pengembangan terlebih dahulu bersama para pengembang terkait.

"Kajian itu kurang lebih sekitar antara 8 sampai 10 bulan selesai. Itu untuk tiga hal, pertama kajian kelembagaan, kemudian kajian keuangan, kemudian yang ketiga terkait dengan teknis, seperti trase dan sebagainya," jelas Tuhiyat.

Tuhiyat menekankan, persoalan anggaran yang akan dikucurkan untuk pembangunan bakal sangat tergantung dari hasil kajian atau studi yang dilakukan.

Infografis Keunggulan dan Strategi MRT Jakarta. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya