Jumlah WNI di Jepang Meningkat 37,2 Persen dalam Setahun, Tertinggi di Prefektur Aichi

Ada lebih dari 230 ribu orang WNI di Jepang yang tersebar di berbagai prefektur.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 04 Februari 2026, 13:44 WIB
Ilustrasi Shimokitazawa, Tokyo, Jepang. Jumlah WNI di Jepang meningkat 56.876 pada periode Juni 2024-2025. (Dok. Unsplash.com/Matt Hanns Schroeter)

Liputan6.com, Tokyo - Dalam satu tahun terakhir, periode Juni 2024-2025, jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di Jepang meningkat 37,2 persen dan kini mencapai 230.689 orang, tersebar di berbagai prefektur di seluruh Jepang.

"Prefektur dengan jumlah WNI tertinggi adalah Aichi sebanyak 18.484 orang, lalu Tokyo 14.439 orang, Osaka 13.592 orang, Saitama 12.652 orang, dan Chiba 12.229 orang," demikian dikutip dari data KBRI Tokyo yang dipublikasikan via media sosial.

Per Juni 2025, total terdapat 230.689 orang WNI di Jepang.

Di balik angka ini, ungkap KBRI Tokyo, ada cerita tentang perjumpaan, kerja keras, dan kontribusi nyata.

"WNI hadir sebagai pelajar, pekerja, perawat, pelaku seni, peneliti, hingga wirausaha, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang," sebut KBRI Tokyo.

"Pertumbuhan ini bukan hanya soal angka, tetapi tentang people to people connection yang semakin kuat dan hubungan Indonesia–Jepang yang terus berkembang melalui interaksi langsung antarwarganya di berbagai prefektur."

Lebih lanjut, KBRI Tokyo mengingatkan, "Pertambahan ini juga menjadi pengingat bahwa tugas mulia sebagai duta bangsa tersemat di pundak kita semua untuk selalu menjaga nama baik pribadi, keluarga, dan tanah air di tanah rantau. Kita lakukan bersama dengan menghormati, menjaga, dan mematuhi norma, adat istiadat, dan aturan hukum yang berlaku di Jepang."

Hidup Tenang dan Tertib

Ilustrasi kota Tokyo, Jepang. Jumlah WNI di Jepang meningkat 56.876 pada periode Juni 2024-2025. (Unsplash/agafapaperiapunta)

Kenyamanan yang hadir di Jepang, sebut KBRI Tokyo bukan hanya soal aturan yang tertulis, tetapi juga tentang kesepakatan tak tertulis untuk saling menjaga hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.

"Mungkin kita bertanya, kenapa orang Jepang jarang menegur secara langsung. Di balik sikap diam itu, ada harapan agar setiap orang bisa membaca suasana atau kuki wo yomu. Teguran biasanya menjadi pilihan terakhir karena harmoni dijaga jauh sebelum situasi menjadi tidak nyaman," ungkap KBRI Tokyo.

"Mulai dari menjaga volume suara di kereta, memberi ruang di trotoar, hingga menghormati privasi saat mengambil foto, semua adalah bentuk saling menghargai ruang bersama."

KBRI Tokyo menggarisbawahi, "Beradaptasi dengan budaya setempat bukan berarti kehilangan jati diri. Justru lewat sikap yang santun, kita menunjukkan wajah terbaik Indonesia di mata dunia. Yuk, kita rawat kenyamanan bersama dan jaga nama baik Indonesia, di mana pun kita berada."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya