Liputan6.com, Jakarta - World Gold Council (WGC) mencatat kenaikan harga emas yang tajam sepanjang 2025 membawa dampak signifikan terhadap pola konsumsi emas dunia. Saat harga emas mencetak rekor, permintaan terhadap perhiasan emas justru mengalami penurunan di hampir seluruh negara yang dipantau.
Head of Asia Pacific (ex China) dan Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan, mengatakan permintaan perhiasan emas secara global turun sekitar 18 persen sepanjang 2025.
Advertisement
“Tren lain terkait permintaan akan perhiasan emas secara global disemua negara dipantau, saat harga emas naik permintaan akan perhiasan emas justru menurun dan penurunan ini mencapai 18 persen secara global,” kata Shaokai dalam Konferensi Pers Laporan Gold Demand Trends Tahun 2025, di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Di Indonesia trennya kurang lebih mirip, hal ini dikarenakan perhiasan emas dikategorikan sebagai barang mewah.
“Jadi, secara nilai sebenarnya naik karena harga emasnya meningkat, tapi disisi lain daya beli masyarakat terhadap perhiasan yang semakin mahal harganya menjadi menurun,” ujarnya.
Penurunan ini menunjukkan bahwa harga yang semakin tinggi membuat perhiasan emas semakin sulit dijangkau, terutama bagi konsumen ritel.
“Di negara-negara dengan banyak pembeli ritel terjadi tren dimana para pembeli beralih dari perhiasan emas ke investasi. Hal serupa juga terjadi di Indonesia,” jelasnya.
Investor Beralih ke Bulion dan Koin Emas
Di tengah melemahnya permintaan perhiasan, investasi emas justru menunjukkan pertumbuhan signifikan. Permintaan emas batangan, koin, dan produk berbasis emas seperti exchange traded fund (ETF) meningkat tajam sepanjang 2025.
“Selain itu, permintaan investasi ini merupakan hasil penjumlahan dari permintaan akan ETF, emas batangan dan emas koin. Kenaikan ini terpantau disemua negara yang kami amati,” ujarnya.
Ia menyebut tren ini terjadi hampir di semua negara yang diamati. Investor ritel maupun institusi lebih memilih emas bulion karena lebih mudah diperdagangkan dan lebih langsung mencerminkan pergerakan harga emas.
Indonesia Ikut Berubah, Investasi Emas Kian Dilirik
Tren global tersebut juga tercermin di Indonesia. Permintaan emas di dalam negeri tercatat meningkat sekitar 2 persen sepanjang 2025, sejalan dengan rata-rata global meski lebih rendah dibandingkan beberapa negara di kawasan ASEAN.
“Tren di Indonesia juga turut meningkat untuk permintaan emas naik 2 persen. Mungkin angka ini sedikit lebih rendah dibanding negara-negara tetangga di Kawasan Asean, tapi angk ini kurang lebih mirip dengan rata-rata global,” ujarnya.
Di sisi lain, permintaan perhiasan emas di Indonesia turut tertekan. Perhiasan emas masih dikategorikan sebagai barang mewah, sehingga kenaikan harga membuat daya beli masyarakat melemah meski secara nilai transaksi meningkat.