IHSG Lengser dari 9.000 ke 7.000, Ini Pemicu Awalnya

IHSG terjerembap akibat rentetan sentimen negatif, mulai dari pencabutan izin tambang Martabe hingga efek domino pengumuman MSCI.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 03 Februari 2026, 15:40 WIB
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, dalam Morning Investview, Selasa (3/2/2026). Fanny menjelaskan menyebab IHSG terus berada di zona merah selama berhari-hari. (Liputan6.com/Tira)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami penurunan dari semua di kisaran 9.000 menjadi saat ini di sekitar 7.000. IHSG menghadapi badai koreksi yang dipicu oleh kombinasi bencana alam, kebijakan global, hingga guncangan di kursi regulator.

Analis BNI Sekuritas, Fanny Suherman, mengungkapkan bahwa tren penurunan ini bermula dari sentimen pencabutan izin operasional sejumlah perusahaan akibat banjir besar di Sumatera, termasuk tambang emas Martabe yang berdampak langsung pada saham berkapitalisasi jumbo seperti UNTR dan Astra Group.

Ia menjelaskan bahwa sentimen tersebut menjadi pemicu awal koreksi pasar. Menurut Fanny, salah satu kasus yang cukup memengaruhi pergerakan IHSG adalah tambang emas Martabe.

"IHSG kalau diperhatikan sebenarnya kapan sih mulai turunnya? Jadi kalau teman-teman lihat dari pergerakan IHSG mulai turun itu pertama kali ketika ada pencabutan izin beberapa perusahaan terkait dengan banjir Sumatera yang cukup berpengaruh contohnya ini tambang Martabe," kata Fanny dalam Morning Investview, Selasa (3/2/2026).

Tambang ini memiliki kapitalisasi pasar yang besar dan keterkaitan dengan emiten berkapitalisasi jumbo seperti United Tractors (UNTR) serta Astra Group, sehingga dampaknya terasa signifikan di pasar saham.

"Ketika tambang Martabe ini diumumkan kena imbas soalnya lumayan gede ini Capsnya yaitu UNTR dan juga Astra ricis itu yang membuat pertama kali IHSG mulai mengalami koreksi," ujarnya.

Sentimen negatif tersebut membuat investor mulai melakukan aksi jual, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang utama indeks. Kondisi ini menandai fase awal koreksi IHSG setelah sebelumnya bergerak relatif stabil.

Dampak Laporan MSCI

Karyawan melintasi layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Setelah sentimen dari sektor tambang, pasar kembali diguncang oleh pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berdampak signifikan terhadap perdagangan saham domestik.

Fanny mencatat, efek dari pengumuman tersebut membuat IHSG sempat mengalami trading halt hingga dua kali dalam waktu berdekatan. Pada hari pertama trading halt, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih atau net sell sekitar Rp 6 triliun.

"Setelah itu kalau diperhatikan muncul pengumuman dari MSCI yang akhirnya membuat IHSG kita sempat dua kali mengalami trading halt dan di hari ketiga mulai rebound lagi. Sejak diumumkan dan karena halt pertama itu asing sudah netsell kurang lebih sekitar Rp 6 triliun," ujarnya.

 

Trading Halt Terus Menerus

Pejalan kaki duduk di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Fanny mengatakan, tekanan berlanjut pada hari kedua dengan net sell asing yang kembali mencapai sekitar Rp 5 triliun. Memasuki hari ketiga, IHSG memang mulai menunjukkan rebound dan menguat sekitar 1,2 persen.

Namun demikian, aliran dana asing masih belum sepenuhnya pulih karena investor asing kembali mencatatkan net sell sekitar Rp 1,9 triliun meskipun indeks bergerak naik. Baru pada perdagangan terakhir, asing mulai membukukan net buy sebesar Rp593 miliar.

Meski begitu, IHSG justru terkoreksi hampir 5 persen, dipengaruhi sentimen tambahan berupa pengunduran diri Kepala Eksekutif Bursa Efek Indonesia serta sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menambah ketidakpastian di pasar.

"Ini kemarin akhirnya pertama kalinya asing mulai membukukan net buy Rp 593 miliar, walaupun IHSG nya memang koreksi lagi hampir 5 persen. Ini ada efek pengunduran diri dari kepala eksekutif bursa efek Indonesia hingga pejabat OJK kurang lebih itu yang terjadi di market kita belakangan ini," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya