Liputan6.com, Jakarta - IIHS membuka babak baru dalam standar keselamatan kendaraan dengan fokus pada perlindungan cedera leher akibat terjadinya benturan belakang yang menjadikan salah satu jenis cedera yang paling sering terjadi pada kecelakaan nyata.
Dalam evaluasi ini, IIHS (Insurance Institute for Highway Safety) menilai bagaimana kursi dan sandaran kepala dapat menjaga kepala dan tulang belakang sebuah pengemudi tetap dalam posisi yang lebih aman saat kendaraan mengalami tabrakan dari belakang, khususnya dengan simulai benturan pada 20 mph dan 30 mph.
Advertisement
Hasil dari tahap pertama pada pengujian ini yang sudah dilakukan pada 18 SUV kecil menunjukkan bahwa hanya empat model saja yang mampu mendapatkan rating tertinggi “Good” untuk perlindungan whiplash, hal ini menandakan bahwa kemampuan yang terbaik dalam menjaga bentuk alami leher dan tulang belakang dummy pada uji tabrak saat terjadi benturan.
Dilansir laman thedrive, SUV yang mampu mencapai prestasi ini adalah Audi Q3, Hyundai Ioniq 5, Subaru Forester, dan Toyota RAV4 yang menunjukkan dukungan kursi dan head restraint lebih efektif dibandingkan dengan pesaingnya dalam simulasi tabrakan.
Sementara itu, sejumlah SUV lain yang hanya memperoleh rating “Acceptable”, “Marginal”, atau “Poor”. Rating acceptable mencakup pada model-model yang populer lainnya meskipun tidak buruk, belum mampu untuk memberikan perlindungan leher setinggi empat SUV terbaik.
Sedangkan pada rating marginal dan poor menandakan perlindungan terhadap risiko whiplash masih sangat kurang pada beberapa model yang diuji.
Fokus Uji Baru IIHS Cegah Cedera Leher
Uji whiplash yang telah diluncurkan IIHS dirancang untuk menilai kemampuan kursi dan sandaran kepala menjaga posisi kepala dan tulang belakang saat kendaraan ditabrak dari belakang.
Model yang diuji telah dipasangkan pada sled khusus yang mampu menghasilkan dua pulsa percepatan simulasi yaitu pada satu kecepatan sekitar 20 mph dan satu lagi sekitar 30 mph. Metode ini memberikan gambaran bagaimana kursi dapat menahan gerak kepala dan tubuh dummy saat terjadi benturan yang nyata.
Seperti yang sudah dijelaskan dalam laporan IIHS, evaluasi ini menambahkan beberapa metrik penting selain waktu kontak kepala dengan sandaran kepala, termasuk seberapa baik kepala dan panggul tetap stabil serta bagaimana tenaga benturan mampu diserap oleh kursi sebelum diteruskan ke tulang belakang.
Pada tes ini mempunyai tujuan yang mampu mengukur kemampuan desain kursi dalam mengurangi gerakan tak wajar kepala yang sering menjadi penyebab cedera leher kronis.
Pendekatan ini juga melibatkan data klaim cedera asuransi yang dianalisis oleh IIHS dan institusi terkait untuk menentukan parameter uji yang paling relevan dengan cedera whiplash nyata.
Melalui uji ini, IIHS berharap produsen kendaraan akan terus memperbaiki desain kursi dan sandaran kepala agar lebih efektif dalam menahan kepala dan tulang belakang saat benturan belakang.
Pengenalan uji tabrak whiplash baru oleh IIHS menandai inisiatif penting dalam meningkatkan keselamatan mobil di aspek yang sebelumnya belum banyak ditangani secara spesifik. Penilaian ini menjadi acuan penting bagi konsumen yang mementingkan perlindungan keselamatan tingkat lanjut pada kendaraan mereka.