Liputan6.com, Kuala Lumpur - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menanggapi kemunculan namanya dalam email terkait kasus Jeffrey Epstein yang dirilis Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (AS). Tanggapan tersebut disampaikan Anwar melalui unggahan singkatnya di akun media sosialnya dengan nada santai pada Minggu (1/2/2026) malam.
Dalam unggahannya, Anwar mengaku bahwa ia baru mengetahui keberadaan email itu kemarin.
Advertisement
"Baru hari ini saya tahu ada pihak luar yang mahu bertemu dan siap 'petik' nama saya dalam emel melibatkan kes Epstein," ungkap Anwar dalam unggahannya di platform media sosial Threads.
"Alhamdulillah, dah belasan tahun seperti yang disebut dalam emel, dan saya langsung tiada kaitan dengan mana-mana pihak yang berbalas email tu, terutama Epstein. Ok, saya nak sambung jalan-jalan di Johor Bahru. #DoneExplain."
Mengutip laporan FTM, email yang dimaksud bertanggal 21 Februari 2012. Dalam email tersebut, seorang rekan Epstein yang identitasnya tidak diketahui—dan namanya disunting oleh Kementerian Kehakiman AS—menanyakan apakah perlu diatur sebuah pertemuan antara Anwar dan seseorang bernama "Jes". Tujuan pertemuan itu disebut untuk menjajaki potensi manfaat di masa depan bagi "JPM", yakni perusahaan jasa keuangan JP Morgan, di mana Jes Staley menjabat sebagai kepala eksekutif divisi perbankan investasi pada saat itu.
Dalam email tersebut, rekan Epstein itu menulis, "Haruskah kita mengatur pertemuan pribadi antara Jes dengan Anwar? Jika ia menjadi perdana menteri Malaysia, ia akan membereskan keadaan dan ini bisa menjadi tambang emas bagi JPM."
Penulis email itu juga mengklaim mengenal Anwar dengan baik dan telah lama menjalin kedekatan dengannya, meskipun sebelumnya banyak pihak yang meragukan kembalinya Anwar ke panggung politik.
"Saya mengenal Anwar dengan baik, selalu dekat dengannya selama bertahun-tahun meskipun semua orang mengatakan ia sudah selesai dan tidak akan pernah kembali. Sekarang terlihat berbeda," tulisnya.
Sebagai balasan, Epstein menyarankan agar pertemuan tersebut diadakan pada bulan Mei. Ia menanyakan apakah Anwar akan bepergian ke AS atau Eropa, serta menyarankan agar rekannya menggoda Anwar dengan prospek produksi film Hollywood di Malaysia.
"Anda bisa mengatakan kepadanya bahwa Woody Allen sedang bersama saya di Paris dan banyak negara yang menawarkan uang kepadanya untuk membuat film di negara mereka," tulis Epstein dalam balasannya.
Siapa Epstein?
Epstein adalah seorang profesional di bidang keuangan asal AS yang dikenal luas karena kasus kejahatan seksual yang melibatkan anak-anak di bawah umur dan jaringan pergaulan elite tingkat tinggi.
Ia membangun karier di bidang keuangan sejak 1970-an dan kemudian mendirikan perusahaan pengelolaan investasi sendiri yang mengelola aset klien bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS. Kekayaan tersebut memberinya akses luas ke kalangan selebritas, pengusaha, akademisi, dan tokoh politik ternama.
Pada 2008, setelah penyelidikan atas kasus permintaan layanan prostitusi dari seorang anak di bawah umur, jaksa federal dan jaksa negara bagian mencapai kesepakatan hukum mengenai penanganan perkara Epstein. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Epstein tidak dituntut di tingkat federal, tetapi tetap diproses di pengadilan negara bagian, dijatuhi hukuman penjara, dan terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual.
Pada 2019, Epstein ditangkap di New York dan didakwa menjalankan jaringan besar perdagangan seks yang melibatkan anak-anak perempuan di bawah umur. Ia menyatakan tidak bersalah atas tuduhan tersebut dan ditahan tanpa kemungkinan jaminan sambil menunggu persidangan.
Epstein meninggal dunia di dalam sel penjara New York pada 10 Agustus 2019 sebelum persidangan digelar.
Setelah kematiannya, berbagai dokumen penyelidikan kriminal Kementerian Kehakiman AS terkait kasusnya dibuka ke publik berdasarkan undang-undang transparansi. Kumpulan dokumen tersebut dikenal sebagai "Epstein Files" dan terus menjadi sorotan karena mengungkap detail penyelidikan serta jaringan pergaulan Epstein yang mencakup sejumlah nama-nama besar dunia.