Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu, 1 Februari 2026 mengatakan India akan membeli minyak Venezuela. Langkah ini membantu menggantikan sebagian minyak Rusia yang dibeli oleh importir minyak terbesar ketiga di dunia itu.
“Kami sudah membuat kesepakatan itu, konsep kesepakatannya,” ujar Trump dikutip dari CNBC, Senin (2/2/2026).
Advertisement
Amerika Serikat (AS) telah memberi tahu India kalau dapat segera melanjutkan pembelian minyak Venezuela untuk membantu menggantikan impor minyak Rusia, mengutip tiga orang yang mengetahui masalah tersebut, demikian berdasarkan laporan Reuters.
India berhenti membeli minyak dari Venezuela tahun lalu setelah Trump pada Maret memberlakukan tarif 25% pada negara-negara yang membeli minyak Venezuela.
Dalam komentarnya pada Sabtu, Trump mengatakan India akan membeli minyak Venezuela sebagai pengganti minyak mentah Iran. Namun, New Delhi berhenti mengimpor minyak dari Iran pada 2019 karena sanksi AS atas program nuklir Teheran.
Kilang minyak India beralih ke minyak AS untuk menutupi kekurangan pasokan dari Iran, kemudian mengurangi pembelian dari AS dan menjadi pembeli utama minyak Rusia yang dijual dengan harga diskon setelah negara-negara Barat memberlakukan sanksi terhadap Moskow atas invasinya ke Ukraina pada 2022.
Pada Agustus, Trump menggandakan bea masuk impor dari India menjadi 50% untuk menekan New Delhi agar berhenti membeli minyak Rusia, dan awal bulan ini mengatakan tarif tersebut dapat naik lagi jika India tidak mengurangi pembeliannya.
Tarif Tambahan
Namun, Menteri Keuangan Scott Bessent memberi sinyal pada Januari bahwa tarif tambahan 25% untuk barang-barang India dapat dihapus, mengingat apa yang disebutnya sebagai pengurangan tajam impor minyak Rusia oleh India.
Pemerintah AS minggu ini mencabut beberapa sanksi terhadap industri minyak Venezuela untuk mempermudah perusahaan AS menjual minyak mentahnya. Komentar Trump pada Sabtu tampaknya mencerminkan peningkatan berkelanjutan dalam hubungan AS-India, yang tegang sepanjang tahun lalu.
Trump juga mengatakan China dapat membuat kesepakatan dengan AS untuk membeli minyak Venezuela. "China dipersilakan untuk masuk dan akan membuat kesepakatan yang bagus untuk minyak,” kata Trump, tanpa memberikan detail apa pun.
OPEC Sepakat Tahan Produksi Minyak hingga Maret
Sebelumnya, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) disebut telah mencapai kesepakatan prinsip untuk mempertahankan penundaan kenaikan produksi minyak hingga Maret. Kesepakatan ini diambil meski harga minyak mentah dunia telah menyentuh level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Mengutip channel News Asia, Senin (2/2/2026), keputusan tersebut disepakati oleh delapan negara anggota OPEC+ dalam pertemuan yang digelar Minggu. Kesepakatan ini tercapai di tengah kekhawatiran pasar bahwa Amerika Serikat berpotensi melancarkan serangan militer terhadap Iran, yang juga merupakan anggota OPEC.
Harga minyak Brent ditutup mendekati USD 70 per barel pada Jumat, atau tidak jauh dari level tertinggi enam bulan di USD 71,89 yang tercapai sehari sebelumnya. Penguatan harga terjadi meski muncul spekulasi potensi kelebihan pasokan minyak global pada 2026 yang berpotensi menekan harga.
Delapan negara produsen tersebut, yakni Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman, sebelumnya telah menaikkan kuota produksi sekitar 2,9 juta barel per hari dari April hingga Desember 2025. Kenaikan itu setara sekitar 3 persen dari total permintaan minyak global.
Namun, rencana kenaikan lanjutan untuk Januari hingga Maret 2026 dibekukan karena konsumsi minyak yang cenderung melemah secara musiman.