Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 6,94% ke posisi 8.329 selama sepekan pada perdagangan saham 26-30 Januari 2026. Koreksi IHSG itu didorong sejumlah sentimen terutama dari domestik. Sentimen itu antara lain, aksi jual oleh investor asing, pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) hingga mundurnya Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman dan sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis IHSG turun 6,94% ke posisi 8.329,60. Pada pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 9.058,04 dan level terendah 7.481,98.
Advertisement
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksono mengatakan, IHSG melemah 6,94% selama sepekan terdampak sentimen pengumuman MSCI pada Rabu, 28 Januari 2026. Hal itu mendorong aksi jual dan aliran dana investor asing yang keluar cukup besar. Selama sepekan, investor asing melepas saham Rp 13,92 triliun. Aksi jual ini lebih besar dari pekan lalu Rp 3,25 triliun.
“Setelah itu disusul oleh downgrade rating dari Goldman Sachs dan UBS terkait pengumuman MSCI tersebut,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan, pemerintah memastikan langkah perbaikan dilakukan cepat dan tegas, sehingga investor yang paham dinilai punya peluang untuk mulai "serok" saham-saham berkualitas. Apalagi, nilai saham sempat turun beberapa hari ini hingga memaksa BEI harus menerapkan penghentian sementara perdagangan atau trading halt dua kali dalam dua hari.
"Ini positif kalau orang yang ngerti. Kalau enggak ngerti? bye! Serok-serok,” ujar Purbaya sambil tertawa saat ditemui awak media di Wisma Danantara, Jumat, 30 Januari 2026.
Ia melanjutkan, langkah pemerintah untuk memperbaiki pasar modal maupun di riil sektor adalah sinyal positif bagi investor. Pemerintah telah memberikan respons cepat atas peristiwa menegangkan tersebut dalam dua hari ini.
"Jadi yang tadinya ragu-ragu mustinya akan lebih yakin bahwa arah ke depan adalah lebih baik. Jadi mereka akan investasi di pasar modal maupun di real sector, di FDI,” tutur dia.
Momen untuk Serok Saham?
Seiring IHSG yang mengalami tekanan, apakah momen ini jadi waktu untuk serok saham?
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico menuturkan, semua akan kembali kepada perspektif dan persepsi pelaku pasar dan investor terkait hal tersebut.
“Mengapa demikian? Karena semua akan kembali kepada toleransi pelaku pasar dan investor dalam melihat risiko. Apabila risiko tersebut dapat diterima dengan keyakinan bahwa perekonomian Indonesia baik-baik saja dan akan mengalami kenaikan pada tahun ini, beli merupakan sebuah kesempatan terutama ketika harga harga saham mengalami penurunan,” ujar pria yang akrab disapa Nico ini saat dihubungi Liputan6.com.
Ia mengatakan, beberapa kali IHSG mengalami koreksi, seperti saat Covid-19, tetapi, IHSG tetap bangkit dan pulih sebagai bentuk keyakinan terhadap perekonomian Indonesia.
"IHSG yang mengalami kenaikan sejak tahun lalu, membuat IHSG mengalami kenaikan tidak berhenti. Narasi dan ekspektasi menopang kenaikkan tersebut. Apa yang bisa dilakukan saat ini? Dibutuhkan koreksi untuk mengalami kenaikan kembali. Dan ternyata kenaikan tersebut, diberikan oleh MSCI kemarin,” tutur dia.
Harus Selektif
Saat IHSG melemah dan berdampak terhadap koreksi harga saham emiten dinilai menjadi momen untuk membeli atau buy on weakness. Namun, menurut analis, hal tersebut juga perlu pertimbangan. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menuturkan, soal buy on weakness, pendekatan ini harus sangat selektif.
“Secara prinsip, buy on weakness hanya relevan untuk saham big caps dengan free float relatif bersih, struktur kepemilikan transparan, likuiditas tinggi, serta fundamental earnings yang defensif atau memiliki visibility kuat,” kata dia.
Lisa mengatakan, valuasi saham big caps mulai menarik, tetapi waktu tetap krusial karena aliran dana asing belum stabil.
Terkait MSCI yang meminta agar struktur kepemilikan saham lebih transparan, Nico menilai, sejauh ini merupakan salah satu momentum untuk memperbaiki tata kelola yang ada, karena transparansi akan meningkatkan kredibilitas pasar itu sendiri.
"Oleh sebab itu, apabila tata kelola diperbaiki, kami yakin capital inflow akan kembali masuk. Apalagi ditopang oleh terjaganya perekonomian Indonesia ke depannya," ujar Nico.