Militer Pakistan Klaim Tewaskan 92 Anggota Separatis dalam Serangan Terkoordinasi di Balochistan

Militer Pakistan menyebut para anggota separatis sebelumnya menyerang warga sipil.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 01 Februari 2026, 15:05 WIB
Ilustrasi bendera Pakistan (pixabay)

Liputan6.com, Islamabad - Militer Pakistan mengklaim telah menewaskan sedikitnya 92 militan yang dituduh berada di balik serangkaian serangan terkoordinasi di Provinsi Balochistan, Pakistan barat daya, pada Sabtu (31/1/2026).

Bentrokan tersebut menewaskan sedikitnya 15 personel keamanan dan 18 warga sipil, menjadikannya salah satu hari paling berdarah di wilayah itu dalam beberapa tahun terakhir, dikutip dari laman BBC, Minggu (1/2).

Dalam pernyataan resminya, militer menuduh India mendukung kelompok militan yang terlibat dalam serangan tersebut. Pemerintah India secara konsisten membantah tuduhan itu. Kelompok separatis Tentara Pembebasan Balochistan (Balochistan Liberation Army/BLA) sebelumnya mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menyatakan telah menewaskan puluhan tentara Pakistan. Klaim dari kedua belah pihak belum dapat diverifikasi secara independen.

Militer Pakistan menyatakan para militan melancarkan serangan yang menargetkan warga sipil dan fasilitas keamanan di sekitar ibu kota provinsi Quetta serta sejumlah kota lain. Menanggapi serangan itu, pasukan keamanan meluncurkan operasi “pembersihan” di berbagai wilayah Balochistan dan, menurut militer, berhasil menggagalkan rencana lanjutan kelompok pemberontak.

Sepanjang Sabtu, sejumlah gedung pemerintahan penting di Quetta dan jalan-jalan utama di sekitarnya ditutup. Layanan telepon seluler dilaporkan terganggu, sementara layanan kereta api regional dihentikan sementara sebagai langkah pengamanan.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif memuji tindakan militer dan menyatakan pemerintah akan “melanjutkan perang melawan terorisme hingga benar-benar diberantas”.

 

Serangan Granat dan Senjata Api

Kedutaan besar Pakistan di Indonesia merayakan Hari Nasional Pengibaran Bendera Pakistan, Sabtu (24/03/2024). (Liputan6.com/Fitria Putri Jalinda).

Sebelumnya pada hari yang sama, kelompok militan bersenjata granat dan senjata api menyerang sedikitnya 12 kota dan desa di seluruh provinsi. Target serangan mencakup instalasi polisi dan paramiliter, penjara, serta gedung-gedung pemerintah.

BLA menuduh pemerintah federal mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam Balochistan—provinsi terbesar di Pakistan—tanpa memberikan manfaat yang adil bagi penduduk setempat. Aktivis lokal juga menuduh pasukan keamanan melakukan penghilangan paksa terhadap warga Baloch, tuduhan yang dibantah keras oleh pemerintah Pakistan.

Pemberontakan di Balochistan telah berlangsung sejak 1948, tak lama setelah Pakistan merdeka dari kekuasaan Inggris. Kelompok militan menuntut otonomi yang lebih luas hingga pembentukan negara merdeka bagi etnis Baloch.

Balochistan berbatasan langsung dengan Iran dan Afghanistan yang kini dikuasai Taliban, serta memiliki garis pantai panjang di sepanjang Laut Arab. Wilayah ini dinamai dari suku Baloch yang telah mendiami kawasan tersebut selama berabad-abad dan hingga kini menjadi kelompok etnis terbesar, disusul oleh suku Pashtun.

Meski mencakup sekitar 44 persen dari total wilayah daratan Pakistan, Balochistan hanya dihuni sekitar 5 persen dari lebih dari 240 juta penduduk negara itu. Provinsi ini juga dikenal sebagai wilayah terkaya di Pakistan dalam hal sumber daya alam, termasuk gas dan berbagai mineral strategis.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya