Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan pada perdagangan saham 26-30 Januari 2026. Aksi jual oleh investor asing menambah beban IHSG. Analis menuturkan, salah satu sentimen aksi jual oleh investor asing itu didorong pengumuman MSCI.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (1/2/2026), IHSG anjlok 6,34% ke posisi 8.329,60. Pada pekan ini, IHSG berada berada di level tertinggi 9.058,04 dan level terendah 7.481,98.
Advertisement
Seiring koreksi IHSG, kapitalisasi pasar saham turun 7,37% menjadi Rp 15.046 triliun dari pekan lalu Rp 16.244 triliun. Sementara itu, kenaikan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian BEI sebesar 29,28% menjadi Rp 43,76 triliun dari Rp 33,85 triliun pada pekan lalu.
Selanjutnya, rata-rata frekuensi transaksi harian naik 1,59% menjadi 3,82 juta kali transaksi dari 3,76 juta kali transaksi pada pekan lalu.
Sementara itu, volume transaksi harian merosot 3,69% menjadi 63,3 miliar saham dari 65.73 miliar saham pada pekan lalu.
Di tengah koreksi IHSG, investor asing melakukan aksi jual saham sebesar Rp 13,92 triliun selama sepekan. Aksi jual saham ini lebih besar dari pekan lalu Rp 3,25 triliun. Dengan aksi jual saham pada pekan ini, investor asing telah melepas saham Rp 9,88 triliun pada 2026.
Pada pekan ini, aksi jual terbesar terjadi pada Rabu, 28 Januari 2026 yang mencapai Rp 6,17 triliun. Saat itu, penyedia indeks global Morgan Stanley Capital Indonesia (MSCI) mengumumkan akan menerapkan pembekuan sementara pada perubahan terkait indeks tertentu untuk sekurtas Indonesia yang dihasilkan dari tinjauan indeks (termasuk tinjauan indeks Februari 2026) atau peristiwa korporasi.
Dengan demikian, MSCI akan membekukan semua peningkatan pada faktor inklusi asing atau Foreign Inclusion Factors (FIF) dan jumlah saham atau number of shares (NOS). Selain itu, MSCI tidak akan menerapkan penambahan indeks pada indeks pasar investasi MSCI atau MSCI Investable Market Indexes. Kemudian MSCI juga tidak akan menerapkan migrasi ke atas di seluruh indeks termasuk dari small cap ke standard.
Aksi jual oleh investor asing berlanjut pada Kamis, 29 Januari 2026. Investor asing melepas saham Rp 4,63 triliun. Selanjutnya aksi jual saham oleh investor asing terjadi pada Jumat, 30 Januari 2026 yang mencapai Rp 1,53 triliun.
Kata Analis
Dalam catatannya pada Rabu pekan ini, seiring aksi jual saham yang terjadi, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menuturkan, sangat masuk akal sebagian besar investor asing terutama active global fund sudah mengurangi atau memitigasi risiko.
"Ini bukan panic selling, melainkan pre-emptive adjustment untuk mengurangi eksposur sebelum sentimen MSCI benar-benar dikonfirmasi dan berpotensi memicu arus pasif yang lebih besar. Dengan demikian, front-running sudah mulai terjadi, meski skalanya belum agresif seperti forced selling,” ujar dia dikutip Minggu pekan ini.
Ia menambahkan, kebijakan pembekuan sementara MSCI itu membuat Indonesia kehilangan satu katalis struktural penting yang biasanya menopang valuasi kapitalisasi besar.
"Selama isu transparansi kepemilikan dan konsentrasi belum dibereskan, Indonesia akan dipandang sebagai market dengan risk premium lebih tinggi, bukan market yang sedang naik kelas,” ujar dia.
Prediksi Arah Pasar
Ia mengatakan, pengaruh terhadap minat investor asing jelas negatif, terutama dari dana pasif dan benchmark-driven funds.
"Dana pasif MSCI praktis dibekukan kontribusinya, sementara active funds akan lebih selektif dan cenderung underweight Indonesia hingga ada sinyal perbaikan regulasi yang kredibel. Risiko terbesar bukan hanya freeze, melainkan ancaman downgrade ke Frontier Market, yang berpotensi memicu forced selling dari dana yang mandatnya hanya boleh berinvestasi di Emerging Market. Oleh karena itu, sentimen MSCI ini langsung menekan appetite asing dan bukan bersifat sementara,” kata Liza.
Liza menuturkan, dalam jangka pendek, sekitar 1-4 minggu, sentimen MSCI berpotensi menjadi overhang utama pasar. Hal ini karena penghapusan katalis rebalancing Februari 2026. Meningkatnya volatilitas akibat rotias portofolio asing, serta melemahnya kepercayaan terhadap market structure Indonesia.
Liza mengatakan, dalam jangka menengah, arah pasar akan lebih ditentukan oleh respons kebijakan dibanding narasi.
“Jika regulator mampu meningkatkan granularitas data kepemilikan, menekan risiko konsentrasi serta transaksi terkoordinasi, dan meyakinkan MSCI sebelum Mei 2026, maka tekanan dapat mereda dan risk premium mulai turun. Sebaliknya, jika isu ini berlarut, IHSG berisiko underperform dibanding regional peers meskipun kondisi makro domestik relatif stabil,” tutur dia.
Alasan MSCI
Langkah MSCI membekukan saham-saham Indonesia dalam indeks tertentu setelah menyelesaikan konsultasi mengenai penilaian free float sekuritas Indonesia. Meskipun beberapa pelaku global mendukung penggunaan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data referensi tambahan, banyak investor menyatakan kekhawatiran yang signifikan tentang ketergantungan pada kategorisasi pemegang saham KSEI.
Meskipun telah ada peningkatan kecil pada data float BEI, investor menyoroti bahwa masalah fundamental terkait kemampuan investasi masih berlanjut karena kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat.
Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran ini, informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk kemungkinan pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, diperlukan untuk mendukung penilaian yang kuat terhadap free float dan kemampuan investasi di seluruh sekuritas Indonesia.