Putin Dikunjungi Presiden Suriah, Pangkalan Militer Rusia Jadi Agenda Pembahasan

Kenapa isu pangkalan militer ini penting dalam pertemuan Putin dan Sharaa? Berikut penjelasannya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 30 Januari 2026, 07:03 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden interim Suriah Ahmed al-Sharaa saat bertemu di Grand Kremlin, Moskow, Rusia pada Rabu (28/1/2026). (Dok. Maxim Shipenkov/AP)

Liputan6.com, Moskow - Presiden interim Suriah Ahmed al-Sharaa melakukan kunjungan ke Moskow pada Rabu (28/1/2026) untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari empat bulan. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Vladimir Putin menegaskan kesiapan Rusia untuk membantu Suriah membangun kembali perekonomiannya yang hancur akibat perang berkepanjangan.

"Saya tahu masih banyak hal yang perlu dipulihkan di Suriah dan para pelaku ekonomi kami, termasuk sektor konstruksi, siap melakukan kerja bersama ini," ujar Putin seperti dikutip dari Associated Press.

Selain isu pemulihan ekonomi, pembicaraan juga diperkirakan menyoroti masa depan pangkalan militer Rusia di Suriah, yang merupakan pijakan strategis utama Moskow di kawasan Laut Mediterania.

Al-Sharaa, yang pertama kali mengunjungi Rusia pada Oktober lalu, menyampaikan terima kasih kepada Putin atas peran Rusia dalam membantu menstabilkan Suriah. Al-Sharaa dikenal sebagai tokoh yang memimpin serangan cepat kelompok pemberontak pada Desember 2024, yang berhasil menggulingkan presiden Suriah sebelumnya, Bashar Assad. Selama bertahun-tahun, Assad mendapat dukungan kuat dari Moskow dalam perang saudara yang menghancurkan Suriah.   

Rusia, yang dalam beberapa tahun terakhir lebih memusatkan perhatian pada konflik di Ukraina dan hanya mempertahankan kontingen militer kecil di Suriah, tidak berupaya menghadang ofensif pemberontak tersebut. Setelah Assad melarikan diri dari Suriah, Rusia memberikan suaka kepadanya beserta keluarganya.

Belakangan ini, militer Rusia mulai menarik pasukannya dari sebuah pangkalan di timur laut Suriah, wilayah yang masih dikuasai oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, setelah kelompok itu kehilangan sebagian besar wilayahnya dalam serangan oleh pasukan pemerintah.

Dalam pertemuan mereka, Putin mengatakan kepada al-Sharaa bahwa Moskow selalu mendukung keutuhan wilayah Suriah dan mengucapkan selamat atas keberhasilannya merebut kembali kendali atas wilayah tersebut. Ia menyebut langkah itu sebagai tahap yang sangat penting.

"Seperti yang Anda ketahui, kami selalu berpihak pada upaya pemulihan keutuhan wilayah Suriah dan mendukung semua langkah yang Anda lakukan ke arah tersebut," kata Putin.

 

 

Pentingnya Pangkalan AL di Suriah

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden interim Suriah Ahmed al-Sharaa saat bertemu di Grand Kremlin, Moskow, Rusia pada Rabu (28/1/2026). (Dok. Maxim Shipenkov/AP)

Menurut laporan kantor berita pemerintah Suriah, SANA, dalam pertemuan tersebut al-Sharaa menekankan pentingnya peran Rusia dalam mendukung persatuan dan stabilitas Suriah. Ia juga menyampaikan bahwa pada 2025, Suriah telah berhasil mengatasi tantangan besar, yang terbaru adalah penyatuan kembali wilayah-wilayahnya, serta menyatakan harapan akan transisi menuju stabilitas dan perdamaian.

Awal bulan ini, pertempuran sempat pecah antara SDF dan pasukan pemerintah setelah perundingan mengenai kesepakatan penggabungan kekuatan mengalami kebuntuan. Saat ini, gencatan senjata telah diberlakukan dan sebagian besar berjalan baik. Setelah gencatan senjata empat hari berakhir pada Sabtu, kedua pihak mengumumkan perpanjangan gencatan senjata selama 15 hari.

Meski sebelumnya berada di pihak yang berseberangan dengan Moskow selama perang saudara, pemerintah interim di Damaskus kini memberi sinyal kesiapan untuk mengembangkan hubungan dengan Rusia. Langkah ini dilandasi harapan bahwa Rusia dapat membantu membangun kembali negara yang porak-poranda akibat perang serta menjadi sarana untuk mendiversifikasi kebijakan luar negeri Suriah.

Bagi Kremlin, mempertahankan pangkalan angkatan laut dan udara di pesisir Suriah sangat penting. Pangkalan tersebut merupakan satu-satunya pos militer Rusia di luar wilayah bekas Uni Soviet dan berperan krusial dalam menjaga kehadiran militer Rusia di Laut Mediterania. Otoritas Rusia menyatakan harapan untuk menegosiasikan kesepakatan guna mempertahankan pangkalan udara Hmeimim dan pangkalan angkatan laut di Tartus.

Menteri Pertahanan Rusia Andrei Belousov dan kepala intelijen militer, Laksamana Igor Kostyukov, termasuk di antara pejabat tinggi yang turut serta dalam pembicaraan di Kremlin pada Rabu.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan sebelum pertemuan bahwa semua isu terkait kehadiran militer kami di Suriah akan dibahas dalam perundingan. Ia menolak berkomentar mengenai laporan yang menyebut pemerintah interim Suriah mendesak agar Assad diekstradisi.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya