Liputan6.com, Jakarta - Di antara gedung-gedung tinggi Jakarta Utara, Kampung Tongkol berdiri sebagai potret lain wajah ibu kota. Permukiman yang terletak di RT 07/RW 01, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan ini tumbuh di sisi rel kereta api. Hanya beberapa meter dari lintasan KRL Commuter Line Bekasi/Cikarang–Kampung Bandan. Tiap kereta melintas 2–5 menit sekali, tembok rumah sempit itu mengguncang.
Di balik suara logam yang beradu, ratusan warga hidup di lorong-lorong sempit yang nyaris tak pernah disentuh matahari.
Advertisement
Liputan6.com coba mendatangi lokasi Kampung Tongkol pada Rabu, 14 Januari 2026 sore. Setibanya di sana, terlihat beberapa sudut gang di Kampung Tongkol yang tidak ada lampu. Alhasil, saat melaluinya harus perlahan dan hati-hati agar tidak tersandung.
Rumah-rumah berdempetan, gang selebar bahu orang dewasa, dan lampu menyala siang-malam seolah menggantikan peran cahaya yang tak pernah benar-benar hadir.
Di ruang sempit inilah ratusan warga membangun hidup, bertahan, dan menua di tengah kota yang terus bergerak maju dan udara yang nyaris tak bergerak dihimpit tembok-tembok yang rapat.
20 Tahun Bertahan Hidup dalam Temaram
Maryunah, perempuan 61 tahun sudah tinggal di kampung ini selama dua dekade. Bangunan dua lantai yang dia tempati adalah satu-satunya harapan tempat untuk bernaung bersama keluarga kecilnya.
“Udah 20 tahunan, suami saya emang orang seberang sana di Jalan Kunir, jadi saya kan dibawa sama suami, terus tinggal di sana, di sana dibongkar, saya pindah ke Parung, cuma enggak betah,” ujar Maryunah, warga Kampung Tongkol yang telah menua bersama lorong-lorong gelap itu.
Kampung Tongkol bukan sekadar potret kemiskinan kota. Ia adalah jejak bagaimana Jakarta tumbuh tanpa selalu membawa semua warganya ikut serta.
Mungkin, sebagian orang memandang kampung ini hanyalah 'ruang sisa'. Wilayah yang ada, tetapi tak pernah sungguh direncanakan. Tetapi bagi Maryunah dan beberapa orang di sana, tempat temaran ini adalah istana. Tempat anak-anak mereka tumbuh, hidup gotong royong dan tertawa bersama meski sadar tak ada ruang nyaman pernah didapat.
Sinar Mentari Merayap Dalam Celah
Padatnya bangunan semi permanen di sana membuat sinar matahari sulit menembus rumah warga. Mungkin bisa dihitung dengan jari. Itupun, sinar masuk hanya merayap dari celah kecil yang menganga. Sementara di banyak hunian lainnya, bahkan di sepanjang lorong benar-benar gelap sepanjang hari. Warga akhirnya memasang lampu di depan rumah dan gang setapak agar tidak membahayakan.
"Setiap ada jembatan tangga ke atas lorong begini ke pinggir rel kereta itu ada masuk juga kan cahaya matahari terbuka,” katanya sambil menatap celah-celah sempit.
Berbeda dengan kawasan lain, lampu di Kampung Tongkol menyala 24 jam, siang dan malam, agar kampung tidak tenggelam dalam gelap. Di beberapa sudut yang tak terjangkau lampu, warga harus melangkah perlahan agar tidak tersandung.
Bagi warga Kampung Tongkol, tinggal di rumah tanpa cahaya memang ideal, tetapi menjadi satu-satunya pilihan. Apa daya, sulitnya mata pencarian membuat mereka menerima saja keadaan yang ada.
Warga Kampung Tongkol mayoritas bekerja sebagai buruh pelabuhan, pekerja ekspedisi, pedagang kecil, dan kuli bangunan. Tak mewah, setidaknya ikut serta menggerakkan roda perekonomian dari ruang yang nyaris tak terlihat.
Dari Kebun jadi Lorong Sempit
Dua dekade lalu, kawasan ini belum sepadat sekarang. Kampung Tongkol pernah menjadi ruang terbuka yang rimbun. Tapi seiring waktu, arus urbanisasi mengubahnya menjadi harapan buat segelintir orang. Bangunan semi permanen satu persatu tumbuh meski tak terlihat di peta pembangunan kota.
Maryunah masih mengingat perubahan itu. Bisa dikatakan, dia saksi hidup atas perubahan besar di sana.
"Dulu masih kebun di sini, masih kebun-kebun, ada pohon timbul, pohon pisang, masih jarang diinjak orang banyak, di situ dulu gudang-gudang, kalau daerah di sini kan sebutnya Jalan Tongkol Dalam," ujarnya dengan nada getir, seolah menelan memori yang tak bisa kembali.
Kini, rumah-rumah itu saling berdempet tanpa jeda. Baginya tak masalah, karena sudah menjadi miliknya. Meski tak ada surat menyurat resmi yang dia tunjukkan.
“Ini rumah sendiri, kalau listrik itu per bulan ya kadang Rp500 ribu, kadang Rp500 ribu kebawah, ya tergantung pemakaian aja, pakai 900 VA,” ujarnya.
Bagi Maryunah, makna kenyamanan tidak selalu identik dengan rumah yang luas atau lingkungan yang mewah. Justru rasa dekat dengan keluarga, kemudahan menjalani hidup, serta kebersamaan antarwarga menjadi alasan utama ia betah tinggal di sana.
“Ya nyaman aja menurut saya sih tinggal disini, udah gitu bapaknya kan kerja juga deket gak ngongkos, disini warga nya bersatu, guyub, kalau ada orang sakit, ada orang sunatan, ada apa aja langsung kerja bakti," ujar Maryunah dengan bangga, mata berbinar mengenang solidaritas tetangga.
Dia juga melihat anak-anak tumbuh selayaknya. Seolah, kehidupan telah membentuk rasa terbiasa pada keadaan sejak dini.
"Anak-anak nyaman-nyaman aja, cucu-cucu saya juga udah sampai pada gede, sampai udah SMP, jadi nyaman-nyaman aja," ungkapnya.
Kompak Hadapi Banjir
Hidup di perkampungan tanpa perhatian membuat ikatan antarawarga begitu kuat. Termasuk ketika mereka menghadapi bencana. Dalam situasi sulit, rasa kebersamaan menjadi sandaran utama untuk saling bertahan.
Bagi warga Kampung Tongkol, musibah bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang berbagi. Mereka yang luput dari genangan justru bergerak membantu tetangga yang terdampak.
“Saya selama di sini ya dulu tahun 2017 tuh pernah banjir di daerah kampung ini. Kita yang engak kebanjiran, bisa ngasih bantuan ke warga lain, kita bikin dapur umum, kita beli-beli tempe lah, beli ini itu," ujarnya sambil tersenyum kecil.
Kekompakan itulah yang membuatnya begitu terikat dengan tempat ini, meski hidup serba terbatas.
“Warganya enak, kompak, makanya saya gak mau kalau ini sampai dibongkar,” ujarnya.
Antara Takut Digusur
Bagi Maryunah, ancaman terbesar warga Kampung Tongkol bukan gelap atau bising kereta, melainkan penggusuran. Sampai detik ini, dia belum punya rencana ke mana berpindah jika penggusuran itu terjadi.
“Ya kalau punya rumah, ya pengen sih saya pindah, kalau enggak punya rumah begini, di kampung juga gak punya rumah, mau pindah gimana?,”
Meski, katanya, impian memiliki hunian tetap selalu ada dalam doanya. Untuk sebuah kehidupan lebih baik sampai ke anak cucunya kelak.
“Makanya ini doang satu-satunya punya rumah, kalau ini dibongkar mau diem di mana kita-kita,” ujarnya.