Nilai Merek Tesla Anjlok Rp 257 Triliun, Efek Politik Elon Musk Jadi Sorotan

Nilai merek Tesla anjlok USD 15,4 miliar sepanjang 2025. Brand Finance menyoroti minimnya inovasi, harga mahal, serta dampak aktivitas politik Elon Musk terhadap persepsi konsumen.

oleh Haniah NabilahDiterbitkan 29 Januari 2026, 09:54 WIB
Nilai merek Tesla mengalami penurunan tajam sepanjang 2025. Penurunan itu terjadi terutama di Eropa dan Kanada.(AP Photo/Matt Rourke)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai merek Tesla mengalami penurunan tajam sepanjang 2025. Perusahaan kendaraan listrik milik Elon Musk itu tercatat kehilangan nilai merek hingga USD 15,4 miliar atau sekitar Rp 257,68 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.730, menurut laporan terbaru perusahaan riset dan konsultan merek global, Brand Finance.

Mengutip CNBC, Kamis, (29/1/2026), penurunan tersebut setara dengan 36 persen dan menjadi penurunan tahunan ketiga secara beruntun bagi Tesla. Dalam laporan Brand Finance 2026, nilai merek Tesla kini diperkirakan berada di level USD 27,61 miliar atau Rp 461,98 triliun, turun signifikan dari USD 43 miliar pada awal 2025, USD 58,3 miliar pada 2024, dan rekor tertingginya USD 66,2 miliar pada Januari 2023.

CEO Brand Finance, David Haigh, menilai merosotnya nilai merek Tesla dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah minimnya inovasi model baru, serta harga kendaraan listrik Tesla yang dinilai relatif lebih mahal dibandingkan para pesaingnya. 

Selain itu, Haigh menyoroti menurunnya fokus Elon Musk terhadap bisnis otomotif Tesla, seiring dengan keterlibatan sang CEO yang semakin dalam di dunia politik global.“Campur tangan berlebihan Elon Musk dalam isu geopolitik turut menggerus persepsi publik terhadap Tesla,” ujar Haigh dalam laporannya.

Brand Finance berbasis di London dan melakukan penilaian dengan menganalisis laporan keuangan ribuan perusahaan global. Dengan menganalisis pendapatan, perjanjian lisensi, margin keuntungan, serta dikombinasikan dengan survei konsumen berskala internasional untuk memperkirakan nilai moneter sebuah merek.

 

 

Pengenalan Merek Tesla justru Meningkat

Elon Musk. (Patrick Pleul/Pool via AP, File)

Direktur Valuasi Brand Finance, Lorenzo Coruzzi, mengungkapkan skor merek Tesla mengalami penurunan tajam terutama di Eropa dan Kanada. Penilaian tersebut didasarkan pada indikator utama seperti reputasi, tingkat kepercayaan, rekomendasi konsumen, dan daya tarik merek.

Di Amerika Serikat, skor rekomendasi Tesla bahkan menyentuh titik terendah baru, yakni 4,0 dari 10. Angka ini menunjukkan konsumen semakin enggan merekomendasikan Tesla kepada keluarga atau kerabat. Sebagai perbandingan, skor rekomendasi Tesla di AS sempat mencapai 8,2 pada 2023.

Survei Brand Finance melibatkan sedikitnya 1.000 responden di 18 negara, yang diminta memberikan penilaian terkait persepsi mereka terhadap merek Tesla. Meski demikian, pengenalan merek Tesla secara umum justru meningkat di sebagian besar pasar. Hal ini dinilai wajar seiring ekspansi geografis perusahaan dan posisinya yang kini bukan lagi sebagai perusahaan rintisan.

 

 

Loyalitas Pelanggan Tesla Meningkat

Ilustrasi mobil Tesla (Foto: Tesla)

Menariknya, loyalitas pelanggan Tesla di AS justru mengalami peningkatan, dari 90 persen menjadi 92 persen pada 2025. Artinya, mayoritas pemilik kendaraan Tesla masih berencana menggunakan mobil mereka setidaknya selama 12 bulan ke depan.

Di sisi lain, persaingan di industri kendaraan listrik semakin ketat. BYD menjadi pesaing paling signifikan bagi Tesla, terutama di pasar China. Nilai merek BYD melonjak sekitar 23 persen menjadi USD 17,29 miliar, naik dari USD 14,03 miliar tahun sebelumnya.

Dalam daftar Brand Finance tahun ini, setidaknya lima produsen otomotif mengungguli Tesla, di antaranya Toyota, Mercedes Benz, Volkswagen, dan Porsche. Toyota tercatat sebagai merek otomotif terkuat dengan nilai merek mencapai USD 62,7 miliar.

Brand Finance menilai penurunan nilai merek Tesla mencerminkan perbedaan tajam antara pandangan konsumen umum dan optimisme Wall Street terhadap perusahaan milik Musk tersebut.

Sepanjang 2025, saham Tesla juga mengalami gejolak harga yang kuat. Di awal tahun, posisi saham sempat menguat seiring bergabungnya Musk dalam pemerintahan Presiden AS Donald Trump, untuk memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah.

Namun, kerja sama Musk dengan Trump, pernyataan politik yang memicu perdebatan publik serta dukungannya terhadap tokoh-tokoh politik di Eropa memicu reaksi negatif konsumen. Tantangan lain datang dari penghapusan insentif pajak federal untuk pembelian kendaraan listrik di AS.

Meski sempat tertekan, saham Tesla kembali menguat pada paruh kedua 2025, didorong oleh peluncuran layanan Robotaxi percontohan di Austin, Texas, serta pembelian saham Tesla senilai USD 1 miliar oleh Elon Musk secara pribadi.

 

Saham Tesla Naik

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Hingga akhir 2025, saham Tesla tercatat naik sekitar 11 persen, bahkan mencetak rekor baru pada pertengahan Desember setelah perusahaan menguji kendaraan otonom tanpa penumpang di Austin.

Tesla dijadwalkan memaparkan kinerja kuartal IV dan rencana bisnis ke depan dalam konferensi pers setelah penutupan pasar. Sebelumnya, perusahaan melaporkan penurunan pengiriman kendaraan baik secara kuartalan maupun tahunan.

Sementara itu, sub merek SpaceX milik Musk, Starlink, justru mencatat pencapaian positif dengan masuk dalam daftar 500 merek teratas dunia versi Brand Finance 2026, dengan nilai merek mencapai USD 5,19 miliar.

Namun, Brand Finance menegaskan, peningkatan nilai Starlink tidak akan berdampak langsung terhadap Tesla, karena keduanya dinilai secara terpisah sesuai industrinya masing-masing.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya