Liputan6.com, Jakarta - Tether, perusahaan penerbit stablecoin USDT dan XAU₮, kini mencatatkan diri sebagai pemegang cadangan emas non-negara terbesar di dunia. Perusahaan ini mengoleksi 16,2 metrik ton emas yang disimpan secara aman di brankas (vault) di Swiss.
Dikutip dari Conmarketcap, Rabu (28/1/2026), langkah tersebut menempatkan Tether di posisi strategis dalam peta keuangan global, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian sistem moneter tradisional. Berdasarkan data perusahaan, total emas yang dimiliki Tether mencapai 520.089,350 troy ounces, dengan nilai sekitar US$2,25 miliar.
Advertisement
Sebagian besar pertumbuhan cadangan emas itu terjadi pada kuartal IV 2025, ketika Tether menambahkan sekitar 27 ton emas ke dalam portofolionya. Seluruh emas tersebut menjadi dasar penerbitan XAU₮, stablecoin berbasis emas yang didukung aset fisik.
Akumulasi emas ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap aset digital yang ditopang aset nyata (tokenized assets). Seiring dengan itu, kapitalisasi pasar XAU₮ pun mengalami kenaikan, memperkuat posisi Tether dalam ekosistem keuangan global.
Tak hanya itu, kepemilikan emas Tether bahkan disebut melampaui cadangan emas sejumlah negara berdaulat seperti Yunani dan Qatar, sebuah pencapaian yang mengubah persepsi pasar terhadap peran perusahaan kripto dalam sistem keuangan dunia.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
30 Besar Pemegang Emas Terbesar
Dengan total kepemilikan tersebut, Tether kini masuk dalam 30 besar pemegang emas terbesar di dunia. Pencapaian ini sekaligus menandai perubahan signifikan dalam cara pasar memandang cadangan aset di industri kripto, yang sebelumnya kerap dianggap minim jaminan fisik.
Strategi pengelolaan cadangan emas Tether dipimpin langsung oleh CEO Tether, Paolo Ardoino, melalui pengembangan XAU₮ sebagai stablecoin berbasis emas.
“Tether’s growing role in gold markets carries significant responsibility. He emphasized that Tether Gold is designed to bring clarity and verifiability at a time when confidence in traditional monetary systems is being tested,” ujar Paolo Ardoino, CEO Tether.
Di tengah volatilitas sistem moneter global, ekspansi Tether dinilai memperluas pengaruhnya di pasar keuangan, meski dampaknya saat ini masih lebih terasa di ekosistem XAU₮ dan USDT. Belum terlihat efek langsung terhadap sektor DeFi maupun protokol Layer 1 dan Layer 2.
Namun, tren ini menegaskan meningkatnya kepercayaan terhadap teknologi blockchain sebagai sarana penyimpanan nilai dan transparansi aset. Ke depan, kebijakan fiskal dan regulasi juga berpotensi berkembang seiring semakin besarnya peran penerbit stablecoin dalam memengaruhi pasar komoditas, meski tanpa dukungan institusi keuangan tradisional.
Pertumbuhan kapitalisasi pasar XAU₮ menjadi sinyal bahwa minat terhadap aset digital berbasis aset berwujud masih akan berlanjut dalam jangka menengah hingga panjang.