Liputan6.com, Jakarta - Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Polresta Banyuwangi memperketat pengawasan di perairan Selat Bali, pada Selasa (27/1/2026). Langkah ini merupakan bagian dari operasi sterilisasi area menjelang evakuasi bangkai kapal KMP Tunu Pratama Jaya yang dinilai berisiko mengancam infrastruktur vital bawah laut.
Kasat Polairud Polresta Banyuwangi, Kompol Muchammad Wahyudi mengatakan, patroli pengamanan laut Selat Bali menggunakan Kapal Polisi RBB. Fokus utama operasi kali ini adalah memastikan zona terbatas di sekitar bangkai kapal tetap steril dari aktivitas pelayaran umum.
Advertisement
Urgensi pengangkatan bangkai kapal ini, kata dia, bukan tanpa alasan. Keberadaan KMP Tunu Pratama Jaya dikhawatirkan dapat bergeser akibat arus bawah laut dan merusak jaringan kabel bawah laut yang menghubungkan pasokan energi antara Jawa dan Bali.
"Kami bertindak sebagai pengawas utama untuk memastikan seluruh tahapan teknis berjalan sesuai prosedur keselamatan pelayaran, sekaligus melindungi aset strategis nasional di dasar laut," katanya Selasa (27/1/2026)
Wahyudi menjelaskan, petugas melakukan pengecekan secara intensif terhadap sejumlah alat berat, termasuk Kapal Pioneer 88 (GT2256), kapal crane raksasa yang telah lego jangkar untuk menjalankan proses pengangkatan.
"Satpolairud juga menetapkan zona Terbatas yang ditandai dengan buih koordinat agar tidak dilalui oleh kapal lain," paparnya
Doa Bersama
Selain kesiapan teknis, aspek spiritual juga menjadi bagian dari persiapan operasi besar ini. Sebelumnya, pada Kamis malam lalu, telah digelar doa bersama di atas Kapal Pioneer 88. Kegiatan tersebut ditujukan untuk menghormati para korban KMP Tunu Pratama Jaya dan memohon kelancaran proses evakuasi yang memiliki tingkat kesulitan tinggi.
Sementara itu, situasi di jalur penyebrangan Ketapang-Bali terpantau normal meski cuaca dilaporkan hujan dengan intensitas ringan. Satpolairud mengimbau seluruh pengguna jasa pelayaran untuk tetap waspada dan mematuhi navigasi di sekitar area kerja evakuasi bangkai kapal KMP Tunu Pratama Jaya.
"Patroli dan pengawasan ketat ini akan terus disiagakan hingga seluruh badan kapal berhasil diangkat ke permukaan secara sempurna," pungkasnya