Liputan6.com, New Delhi - Upaya Pemerintah Kota Indore untuk mewujudkan wilayah bebas pengemis mengungkap fakta mengejutkan. Seorang pria penyandang disabilitas yang selama bertahun-tahun mengemis di kawasan Pasar Sarafa, pusat kuliner dan perdagangan yang ramai, ternyata memiliki aset bernilai besar dan hidup jauh dari kata miskin.
Pria berusia sekitar 50 tahun itu diketahui bernama Mangilal. Karena tidak dapat berjalan, ia sehari-hari terlihat duduk bersila di atas papan kayu kecil beroda, menggerakkan tubuhnya perlahan di antara keramaian pasar.
Advertisement
Jari-jarinya yang hilang akibat kusta membuat penampilannya tampak memprihatinkan dan kerap mengundang belas kasihan pengunjung, dikutip dari laman Oddity Central, Selasa (27/1/2026).
Namun, penyelidikan aparat justru menunjukkan gambaran sebaliknya.
Mangilal diamankan petugas, kemudian dibawa ke tempat penampungan sementara untuk dimandikan dan diberi pakaian bersih. Saat dimintai keterangan oleh pejabat pemerintah setempat, terungkap bahwa ia mampu meraup penghasilan hingga ribuan rupee per hari.
Selain dari uang yang diterimanya di pasar, Mangilal juga diketahui menjalankan praktik peminjaman uang kepada pemilik toko di Pasar Sarafa dengan sistem bunga.
Pemeriksaan lanjutan mengungkap bahwa Mangilal bukan tunawisma. Ia tercatat memiliki tiga properti, yakni sebuah rumah bertingkat tiga, satu rumah lainnya, serta sebuah unit flat yang diperolehnya melalui program kesejahteraan pemerintah.
Selain itu, ia juga memiliki dua becak motor yang disewakan, serta sebuah mobil yang dioperasikan oleh sopir dengan gaji bulanan sekitar Rs 12.000 atau setara 130 dolar AS.
Sejumlah Investasi
Kepada petugas, Mangilal mengakui bahwa aktivitasnya di Pasar Sarafa bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, melainkan sebagai sumber modal bagi berbagai investasi yang dijalaninya.
Aparat kini masih menelusuri kemungkinan kepemilikan rekening bank atas namanya. Dalam proses penyelidikan, terungkap pula bahwa sejumlah anggota keluarganya diduga ikut terlibat dalam aktivitas mengemis.
“Saya memang pergi ke sana, tetapi tidak meminta-minta. Orang-orang sendiri yang memasukkan uang ke saku saya atau melemparkan koin dan uang kertas ke papan kayu saya,” ujar Mangilal kepada petugas, seraya berusaha membela diri.
Ia menyadari bahwa praktik mengemis dilarang berdasarkan peraturan daerah di Indore.
Kasus ini kembali menyoroti kompleksitas persoalan pengemis di kota-kota besar India. Bahkan, India juga dikenal sebagai tempat tinggal pengemis terkaya di dunia, dengan kekayaan yang disebut-sebut jauh melampaui aset yang dimiliki Mangilal.