Pendakian di Gunung Bulusaraung Masih Ditutup Usai Kecelakaan Pesawat ATR 42-500

Penutupan dilakukan seiring masih berlangsungnya proses pemulihan kawasan setelah pelaksanaan Operasi SAR.

oleh FauzanDiterbitkan 26 Januari 2026, 15:44 WIB
Pencarian Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 (Fauzan/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) hingga kini belum membuka kembali jalur pendakian Gunung Bulusaraung pasca tragedi jatuhnya pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) ATR 42-500. Penutupan dilakukan seiring masih berlangsungnya proses pemulihan kawasan setelah pelaksanaan Operasi SAR.

Kepala Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Abdul Rajab mengatakan, pihaknya saat ini tengah fokus melakukan pembersihan sampah serta penataan jalur pendakian yang terdampak aktivitas evakuasi dan pencarian korban.

"Kami masih menyiapkan site pendakian Gunung Bulusaraung dengan kegiatan bersih sampah dan pemulihan kawasan pascaoperasi SAR. Untuk sementara, aktivitas pendakian belum dapat kami buka," kata Rajab kepada wartawan, Senin (26/1/2026).

Terkait masih ditemukannya serpihan pesawat di lereng Gunung Bulusaraung, Rajab menyebut hal tersebut akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Namun demikian, dia memastikan bahwa komponen vital pesawat seperti Black Box dan Emergency Locator Transmitter (ELT) telah berhasil dievakuasi dan dibawa oleh KNKT ke Jakarta.

"Informasi dari KNKT menyebutkan bahwa serpihan, Black Box, dan dokumentasi yang dibawa sudah cukup mewakili proses identifikasi sementara. Karena itu, proses evakuasi di lapangan telah dihentikan," jelasnya.

Pesawat Jatuh di Gunung Bulusaraung, Semua Penumpang dan Kru Tewas

Sebagai informasi, sebelumnya, pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THR mengalami kecelakaan di kawasan Pegunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat tersebut mengangkut tujuh kru dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sepuluh korban yang berada di dalam pesawat terdiri dari pilot Andi Dahananto, kopilot Muh Farhan Gunawan, dua pramugari Florencia Lolita Wibisono dan Esther Aprilita , serta tiga engineer pesawat yakni Dwi Murdiono, Restu Adi, dan Hariadi.

Sementara tiga penumpang merupakan pegawai KKP yakni Feri Irawan (Pangkat Penata Muda Tingkat 1, jabatan Analis Kapal Pengawas), Deden Mulyana (Pangkat Penata Muda Tingkat 1, jabatan Pengelola Barang Milik Negara), dan Yoga Noval (Jabatan Operator Foto Udara). Mereka adalah Tim Air Surveillance dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP)

Kepala Basarnas RI Laksamana Pertama TNI Moh Syafii menyampaikan bahwa hingga akhir pelaksanaan Operasi SAR, tim gabungan berhasil menemukan total 11 paket, terdiri dari 10 paket body pack dan satu paket body part.

"Seluruh paket telah dievakuasi dan diserahkan kepada Bidokkes Polda Sulawesi Selatan untuk proses identifikasi sesuai prosedur yang berlaku," ujar Syafii.

KNKT Masih Analisis Black Box Pesawat

Dia juga mengonfirmasi bahwa Black Box pesawat berhasil ditemukan pada hari kelima pencarian dan saat ini tengah dianalisis oleh KNKT demi mengungkap penyebab teknis kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang dicarter KKP.

"Black Box sedang ditangani KNKT untuk kepentingan investigasi lebih lanjut," tambahnya.

Berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh, Basarnas secara resmi menutup Operasi SAR pada Jumat (23/1/2026). Meski demikian, Syafii menegaskan bahwa pihaknya masih menunggu hasil resmi identifikasi dari tim forensik dan KNKT.

"Apabila hasil identifikasi nantinya menyatakan jumlah korban tidak sesuai dengan data manifest penumpang, maka Operasi SAR dapat dibuka kembali untuk pencarian lanjutan," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya