Ancaman Mikroplastik, Tim Riset UB Desak Pemerintah Perkuat Mitigasi

Temuan mikroplastik di sumber air membuat peneliti UB menekankan pentingnya tindakan pemerintah untuk meminimalkan dampak kesehatan dan lingkungan.

oleh Khamelia MarshaDiterbitkan 28 Januari 2026, 19:30 WIB
Ilustrasi mikroplastik di lautan (dok. Samsung Electronics)

Liputan6.com, Jakarta - Keberadaan mikroplastik kini menjadi perhatian utama karena ditemukan mulai dari mata air. Untuk meminimalkan risiko, pemerintah diharapkan memperkuat langkah-langkah mitigasi serta perlindungan lingkungan secara menyeluruh. 

Tim Riset Penelitian Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya (UB) menekankan perlunya pemerintah memperkuat upaya mitigasi guna mengurangi keberadaan mikroplastik di lingkungan.

"Yang pasti melakukan perlindungan konsumen, misalnya mengecek standar botol air kemasan atau air yang dikonsumsi masyarakat. Itu perlu recheck, sehingga meminimalkan keberadaan mikroplastik," ujar Ketua tim riset, UB Prof Andi Kurniawan, dilansir dari Antara, Rabu (28/1/2026). 

Selain itu, pemerintah diminta memperketat pengawasan kelestarian lingkungan dari potensi masuknya bahan tercemar, termasuk pada aliran sungai.

Andi menambahkan, Kementerian Kesehatan perlu menstimulus pendekatan penelitian yang lebih mengarah ke mikroplastik dan kesehatan, meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum memutuskan baku mutu.

Langkah ini disebut sebagai peringatan dini, mengingat tim peneliti UB telah menemukan mikroplastik mulai dari sumber mata air hingga sampai ke pantai. Upaya pengawasan dan pemeriksaan air secara rutin diyakini mampu mengurangi risiko paparan mikroplastik bagi masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

Mikroplastik di Malang Raya dan Brantas

Waspadai cemaran mikroplastik yang berbahaya bagi makhluk hidup. Document/Coway Indonesia.

keberadaan mikroplastik mulai dari wilayah Malang Raya hingga muara Sungai Brantas di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan partikel mikroplastik di Malang Raya tergolong rendah, berkisar 4-8 partikel per liter.

Namun, jumlah partikel mikroplastik meningkat secara signifikan di area pesisir, dengan rata-rata 40 hingga 45 partikel per liter. Prof Andi menjelaskan bahwa keberadaan mikroplastik di mata air dapat terjadi karena senyawa serupa juga ditemukan dalam air hujan. 

Ground water recharging (pengisian ulang air tanah) di puncak gunung kan dari hujan. Kalau sudah ada partikelnya, maka sangat rasional apabila terdapat kandungan mikroplastik,” ujarnya.

Faktor penyebab mikroplastik sangat beragam, mulai dari aktivitas manusia, limbah industri, hingga partikel nano yang terperangkap di atmosfer dan turun bersama hujan. Hal ini membuat mikroplastik masuk ke siklus air alami, termasuk ke dalam sumber air yang digunakan masyarakat sehari-hari. 

Penelitian ini menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa polusi mikroplastik tidak hanya ada di pesisir atau laut, tetapi sudah merambah sumber air daratan.

Dampak Mikroplastik dan Langkah Mitigasi

Andi menjelaskan mikroplastik perlu menjadi prioritas mitigasi pemerintah karena sifat pencemarannya yang lambat dan akumulatif. Partikel ini dapat menumpuk sepanjang tahun dan tidak mudah terdeteksi hingga dampaknya signifikan. Selain itu, distribusi mikroplastik tidak terbatas pada lingkungan, tetapi juga dapat berdampak langsung pada kesehatan manusia.

“Mikroplastik bisa masuk ke sistem hormon, ke sistem pembuluh darah, sehingga menjadi plak bersama kolesterol, masuk ke sistem pernapasan sampai ke paru-paru,” ujarnya. 

Dampak ini menunjukkan bahwa risiko kesehatan dari mikroplastik meluas, mulai dari gangguan metabolisme hingga potensi masalah pernapasan.

Langkah mitigasi pemerintah harus komprehensif, termasuk pengawasan kualitas air yang dikonsumsi masyarakat, pengelolaan limbah industri, serta penelitian lebih lanjut untuk memahami dampak mikroplastik terhadap kesehatan. .

Langkah-langkah ini bukan hanya menjaga kualitas air dan lingkungan, tetapi juga berfungsi sebagai peringatan dini bagi masyarakat agar potensi paparan mikroplastik dapat ditekan sejak awal.

Infografis Bahaya Mikroplastik dalam Hujan Jakarta. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya