Liputan6.com, Jakarta - PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) akan melakukan pembelian kembali atau buyback saham senilai Rp 90,15 miliar pada 26 Januari-26 April 2026.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (25/1/2026), PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk akan membeli kembali saham maksimal 237.194.064 saham. Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari jumlah modal disetor, dengan ketentuan paling sedikit saham yang beredar adalah 7,5% dari modal disetor perseroan harus tetap dimiliki masyarakat.
Advertisement
Perseroan juga memprediksi pembelian kembali saham perseroan dan dampak atas biaya pembiayaan tidak akan mengakibatkan penurunan pendapatan.
Untuk harga pelaksanaan buyback saham, perseroan menetapkan batas maksimal Rp 430 per saham dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan perseroan. Harga saham itu berdasarkan harga buku atau pada harga yang dianggap wajar dan layak oleh direksi perseroan dengan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kondisi pasar.
“Pembelian kembali saham Perseroan akan dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia, dan transaksi pembelian kembali saham akan dilakukan melalui satu anggota Bursa Efek Indonesia, yaitu PT CGS International Sekuritas Indonesia,” tulis perseroan dalam keterbukaan informasi BEI.
Perseroan akan memakai kas internal untuk buyback saham, Perseroan menilai penurunan kas yang akan digunakan sebagai sumber pendanaan untuk pelaksanaan pembelian kembali saham Perseroan tidak akan mempengaruhi kegiatan usaha dan operasional Perseroan, terutama dalam melaksanakan kewajiban Perseroan kepada Tertanggung mengingat Perseroan telah memiliki modal kerja yang cukup untuk menjalankan kegiatan usaha dan operasionalnya.
"Dengan adanya pembelian kembali saham Perseroan, diharapkan akan menyebabkan harga saham pada masa mendatang menjadi lebih stabil dan berdampak positif bagi pemegang saham Perseroan," demikian seperti dikutip.
Tebar Dividen 2024
Sebelumnya, PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) akan membagikan dividen Rp 198,07 miliar untuk tahun buku 2024. Dividen yang dibagikan setara Rp 40 per saham.
Perseroan telah mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk membagikan dividen itu dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 30 April 2025.
Pembagian dividen tersebut berdasarkan data keuangan per 31 Desember 2024 antara lain laba bersih yang didapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 228,59 miliar, saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp 951,73 miliar dan total ekuitas sebesar Rp 1,81 triliun.
Jadwal Dividen
Berikut jadwal pembagian dividen Perseroan:
- Tanggal efektif pada 30 April 2025
- Tanggal cum dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 9 Mei 2025
- Tanggal ex dividen di pasar regular dan pasar negosiasi pada 14 Mei 2025
- Tanggal cum dividen di pasar tunai 15 Mei 2025
- Tanggal ex dividen di pasar tunao pada 16 Mei 2025
- Tanggal daftar pemegang saham yang berhak atas dividen tunai pada 15 Mei 2025, waktu 16:00
- Tanggal pembayaran dividen pada 27 Mei 2025
Kinerja IHSG Sepekan
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan 19-23 Januari 2026. Koreksi IHSG sepekan didorong sentimen geopolitik hingga nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (24/1/2026), IHSG merosot 1,37% ke posisi 8.951,01 selama sepekan. Pada pekan lalu, IHSG naik 1,5% ke posisi 9.075,40.
"Meskipun demikian, sepekan ini, IHSG sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa yaitu ditutup pada posisi 9.134,70 pada Selasa, 20 Januari 2026,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, dalam keterangan resmi.
Sementara itu, kapitalisasi pasar merosot 1,62% menjadi Rp 16.244 triliun dari Rp 16.512 triliun pada pekan lalu.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, selama sepekan IHSG melemah 1,37% dan disertai dengan munculnya tekanan jual. Pihaknya perkirakan secara sentimen IHSG dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, memanasnya kondisi geopolitik Amerika Serikat-Greenland dan juga mengancam akan mengenakan tarif impor bagi negara-negara Eropa khusus yang menentang rencana tersebut, meski sudah mulai mereda saat ini.
“Kedua, dengan kondisi ketidakpastian tersebut, investor cenderung wait and see dan berpindah ke aset minim risiko seperti emas sehingga harga komoditas emas dunia juga menguat dan membentuk adanya all time high baru,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Ia menambahkan, faktor ketiga, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di mana hal ini imbas dari kekhawatiran defisit fiskal Indonesia yang hampir mencapai 3%.