Liputan6.com, Jakarta - Kinerja emiten emas diproyeksikan masih relatif defensif dan stabil pada semester I 2026. Kondisi ini ditopang oleh harga emas global yang bertahan di level tinggi di tengah ketidakpastian global serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.
Pengamat Pasar Modal Indonesia, Reydi Octa, menilai emas tetap menjalankan fungsinya sebagai aset lindung nilai (safe haven), sehingga membuat kinerja emiten emas cenderung lebih resilien dibandingkan sektor-sektor yang bersifat siklikal.
Advertisement
“Pada semester I 2026, emiten emas diperkirakan tetap relatif defensif dan stabil, ditopang harga emas global yang bertahan tinggi di tengah ketidakpastian global dan ekspektasi pelonggaran moneter. Emas masih berfungsi sebagai safe haven, sehingga kinerja emiten emas cenderung lebih resilien dibanding sektor siklikal,” ujar Reydi kepada Liputan6.com, dikutip Sabtu (24/1/2026).
Meski demikian, Reydi menyebut kinerja emiten emas tidak lagi bergerak seragam. Pergerakan saham ke depan diperkirakan semakin selektif seiring pasar mulai membedakan kualitas fundamental masing-masing emiten, mulai dari cadangan, struktur biaya, hingga arus kas.
“Ke depan, pergerakan saham emiten emas diperkirakan lebih selektif, tidak lagi bergerak seirama mengikuti harga emas. Pasar mulai membedakan emiten dengan cadangan besar, biaya produksi kompetitif, dan arus kas kuat, dibandingkan emiten yang masih berada pada tahap pengembangan atau ekspansi,” jelasnya.
Selain itu, investor juga dapat mencermati emiten emas yang memiliki produksi stabil, neraca keuangan yang sehat, serta prospek pertumbuhan yang jelas, termasuk emiten dengan integrasi bisnis yang dinilai memiliki profil risiko lebih rendah dan potensi pertumbuhan jangka panjang.
Harga Emas, Perak hingga Paladium Kompak Cetak Rekor Tertinggi
Sebelumnya, harga emas menembus angka USD 4.900 per ons untuk pertama kalinya pada hari Kamis (Jumat waktu Jakarta). Lonjakan harga emas didorong oleh ketegangan geopolitik yang berkelanjutan, dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah, dan ekspektasi penurunan suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Sementara itu, harga perak dan platinum mencapai rekor tertinggi baru.
Dikutip dari CNBC, Jumat (23/1/2026), harga emas di pasar spot melonjak ke rekor tertinggi USD 4.917,65 per ons. Sedangkan harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari ditutup 1,6% lebih tinggi menjadi USD 4.913,4 per ons.
Dolar AS melemah 0,4%, membuat emas batangan yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih menarik bagi pembeli luar negeri.
“Ketegangan geopolitik, dolar yang umumnya lemah, ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed tahun ini, semuanya merupakan faktor yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tren de-dolarisasi makro dan masih berdampak pada permintaan (emas),” kata Wakil Presiden dan Ahli Strategi Logam Senior di Zaner Metals, Peter Grant.
Presiden AS Donald Trump mengatakan dia telah mengamankan akses total dan permanen AS ke Greenland dalam kesepakatan dengan NATO, yang kepala NATO mengatakan sekutu harus meningkatkan komitmen mereka terhadap keamanan Arktik untuk menangkal ancaman dari Rusia dan China.
Namun rincian dari kesepakatan apa pun masih belum jelas dan Denmark bersikeras bahwa kedaulatannya atas pulau itu tidak dapat didiskusikan.
Dari segi data, laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS terbaru menunjukkan pengeluaran konsumen meningkat pada bulan November dan Oktober, yang mengindikasikan pertumbuhan kuat selama tiga kuartal berturut-turut.
Harga Perak dan Logam Lain
Pasar memperkirakan bank sentral AS akan menerapkan dua pemotongan suku bunga seperempat poin persentase pada paruh kedua tahun ini, sehingga meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
“Kemunduran jangka pendek akan dilihat sebagai peluang pembelian (emas). Kami telah melihat level USD 5.000 per oz di dekatnya dan di luar itu proyeksi Fibonacci USD 5.187,79 per oz terlihat masuk akal,” tambah Grant.
Di tempat lain, harga perak spot melonjak ke rekor tertinggi USD 96,58 per oz.
“Perak memiliki narasi fundamental yang jauh lebih menarik daripada emas. Mungkin perak bukan aset cadangan seperti emas, tetapi tetap mendapat manfaat dari aliran dana aman dan pelemahan dolar,” kata Nikos Tzabouras, analis pasar senior di Tradu.
Harga platinum spot naik 4,6% ke rekor tertinggi USD 2.601,03. Palladium naik 3,3% menjadi USD 1.900,59.