Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Kota Depok akan segera melengkapi fasilitas sarana dan prasarana, guna mendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) di SMPN 3 Depok. Diketahui, sejumlah siswa harus membawa meja belajar lipat dan duduk lesehan di kelas usai kekurangan sarana dan prasarana, seperti meja dan kursi.
Wali Kota Depok, Supian Suri mengakui belum melengkapi secara keseluruhan fasilitas sarana dan prasarana SMPN 3 Depok. Namun, Pemerintah Kota Depok akan berusaha melengkapi fasilitas sarana dan prasarana SMPN 3 Depok untuk mendukung KBM.
Advertisement
“Ya, kemarin kan memang saya sampaikan, kita di SMPN 3 Depok memang belum semuanya ruang terfasilitasi,” ujar Supian usai meresmikan dan menyerahkan MTs Negeri 3 Pancoran Mas kepada Kemenag, Rabu (21/1/2026).
Supian menjelaskan, Pemerintah Kota Depok sedang mencari cara untuk melengkapi sarana dan prasarana di SMPN 3 Depok. Adapun untuk melengkapi sarana dan prasarana sekolah tersebut, Pemerintah Kota Depok akan meminta dukungan Corporate Social Responsibility (CSR).
“Kemarin juga saya minta dukungan dari BJB juga untuk tambahan mebelernya sedang berproses. Mudah-mudahan ya ini kita berproseslah semuanya,” jelas Supian.
Supian mengakui usai di bangun kembali SMPN 3 Depok, Pemerintah Kota Depok belum dapat melengkapi secara keseluruhan mebeler atau meja dan kursi. Namun, Pemerintah Kota Depok sudah berusaha melengkapi mebeler sebagian kelas dari keseluruhan ruangan di SMPN 3 Depok.
“17 kelas kalau enggak salah yang belum terfasilitasi, 10 kelas kita fasilitasi dengan CSR Bank BJB, selebihnya nanti kita kejar di perubahan anggaran,” ucap Supian.
Bawa Meja Lipat
Sebelumnya, sejumlah siswa membawa meja lipat dari rumahnya untuk mengikuti pelajaran di SMPN 3 Depok, Sukmajaya, Depok. Hal itu dilakukan usai SMPN 3 Depok kekurangan meja dan kursi meskipun sekolah tersebut belum lama dibangun dengan anggaran Rp 28 Miliar.
Kepala SMPN 3 Depok, Ety Kuswandarini, tidak menampik kabar beberapa siswanya terpaksa membawa meja lipat dari rumah. Tetapi dia berdalih, langkah itu merupakan keinginan siswa dan orang tua.
“Ini semua adalah keinginan dari orang tua dan anak,” ujar Ety, Selasa (20/1/2026).
Ety menjelaskan, ketersediaan meja dan kursi di SMPN 3 Depok sebenarnya terpenuhi apabila kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan dengan dua sesi yakni pagi dan siang hari. Namun mengingat semua siswa ingin proses KBM dilakukan pagi hari, maka terdapat kekurangan meja dan kursi.
“Kalau di siang hari meja dan kursinya ada, gantian dengan kelas yang masuk pagi,” jelas Ety.
Adapun siswa SMPN 3 Depok yang mengikuti KBM pada pagi hari yakni siswa kelas IX dan sebagian kelas VIII. Akibat kurangnya meja dan kursi, murid-murid terpaksa mengikuti pelajaran dengan cara lesehan dan menggunakan meja lipat yang dibawa.
“Meja dan kursi di SMPN 3 Depok tetap ada, namun belum terpenuhi semua untuk seluruh kelas,” ucap Ety.
Ety mengungkapkan, belum terpenuhinya meja dan kursi di SMPN 3 Depok disebabkan harus berbagi dengan SMPN 33 Depok. Dahulunya SMPN 3 Depok dan SMPN 33 Depok ada di satu atap. Namun setelah dilakukan rehabilitasi sekolah, maka SMPN 3 Depok dan SMPN 33 Depok sudah tidak satu bangunan.
“Sekarang SMPN 33 Depok menggunakan kursi sehingga menyebabkan SMPN 3 Depok kekurangan kursi, sekarang sudah tidak diperkenankan menggunakan kursi kayu,” ungkap Ety.
Ety menilai, kekurangan meja dan kursi tidak mengganggu KBM di SMPN 3 Depok. Menurutnya, guru tetap mengajar dan siswa yang seharusnya masuk siang tetapi ingin tetap masuk pagi tetap bisa mengikuti KBM meskipun harus membawa meja lipat dari rumah.
“Anaknya mau masuk pagi dengan kondisi seperti ini, orang tuanya juga seperti itu,” terang Ety.
Minta Pemkot Depok
Ety menambahkan, pihaknya sudah meminta kepada Pemerintah Kota Depok untuk melakukan pengadaan meja dan kursi. Hal itu untuk memaksimalkan KBM di SMPN 3 Depok yang memiliki 33 ruangan.
“Mohon bantuan bapak Wali Kota mendorong bantuan meja dan kursi untuk siswa SMPN 3 Depok,” tutur Ety.
Ety mengakui, pembangunan SMPN 3 Depok yang menelan anggaran Rp 28 miliar tidak bersamaan dengan fasilitas meja dan kursi. Hal itu berbeda dengan pembangunan gedung sekolah lain yang sudah termasuk mendapatkan meja dan kursi.
“Tidak dengan include fasilitas, sedangkan di sekolah lain include dengan fasilitas,” kata Ety.
Ety menduga, pembangunan gedung sekolah tidak diikuti dengan penyediaan meja dan kursi dikarenakan efisiensi anggaran.
“Alasannya mungkin efisiensi, kan kemarin mulai adanya efisiensi,” ucap Ety.