Lindungi Anak-Anak dari Paparan Hoaks AI, Simak Caranya

Anak-anak perlu mendapat perhatian dalam penanganan hoaks seiring dengan maraknya hoaks yang memanfaatkan teknologi AI, apa saja caranya? Simak artikel berikut.

oleh Pebrianto Eko WicaksonoDiterbitkan 21 Januari 2026, 21:00 WIB
Kampanye anti hoaks (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Berpikir kritis menjadi kunci untuk menyelamatkan anak-anak dari paparan hoaks, di tengah banjir informasi yang dibuat oleh teknologi kecerdasan artifisial (AI).

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, kemampuan memilah, menganalisis, dan memverifikasi informasi menjadi keterampilan yang paling berharga dalam menyelamatkan anak-anak dari paparan hoaks.

"Ini kunci membuat kita waras dan sehat di dunia digital, bukan hanya sebagai penerima pasif," kata Nezar, dikutip dari Antara, Rabu (21/1/2026).

Menurutnya, orang tua harus membangun fondasi berpikir kritis sejak dini agar anak tidak mudah teperdaya oleh konten yang tampak meyakinkan namun faktanya salah.

Untuk melatih keterampilan tersebut, Nezar merujuk pada strategi riset dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang terdiri dari tiga tahap, yaitu Learn, Evaluate, dan Reflect.

Tahap Learn menekankan pentingnya anak memiliki basis pengetahuan kuat melalui buku dan diskusi dunia nyata agar cakrawala mereka tidak terbatas pada algoritma media sosial.

Tahap selanjutnya adalah Evaluate, yakni membangun skeptisisme sehat dengan mengajukan pertanyaan kritis terhadap setiap klaim yang dilihat.

 

Tahap Berikutnya

Sementara tahap Reflect menjadi krusial untuk mengidentifikasi "realitas sintetis" yang diciptakan oleh AI, seperti teknologi deepfake.

"Realitas sintetis yang dibangun mesin ini tidak autentik. AI bisa membuat deepfake yang nyaris tidak bisa dibedakan, bahkan memanipulasi foto wajah menjadi konten pornografi atau alat untuk perundungan (bullying) di kalangan anak-anak. Ini bahaya yang sangat nyata," jelasnya.

Nezar juga menyoroti fenomena "defisit pertanyaan" di kalangan generasi muda. Ia menilai saat ini kemampuan mengajukan pertanyaan atau menggugat sebuah informasi jauh lebih penting daripada kemampuan memberikan jawaban.

"Kita lebih banyak menerima daripada melakukan gugatan terhadap apa yang disajikan. Karena itu, pertanyaan kritis harus terus dilatih agar anak-anak kita menjadi digital citizens yang tangguh," tambahnya.

Nezar menegaskan, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terus berkomitmen menciptakan ekosistem digital yang aman melalui regulasi dan edukasi.

Upaya ini selaras dengan slogan Kemkomdigi, yakni Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga, guna memastikan ruang digital Indonesia tetap berdaulat dan ramah bagi tumbuh kembang anak.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya