Hujan Guyur Jakarta, Pintu Air Sunter Hulu Berstatus Siaga 3

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan kondisi terkini tinggi muka air (TMA) di sejumlah pintu air dan pos pantau di Jakarta pada Selasa (20/1/2026).

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 20 Januari 2026, 19:45 WIB
Sejumlah kendaraan melintas saat hujan di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (18/2/2022). BMKG mengungkapkan potensi curah hujan meningkat dan cuaca ekstrem sepanjang 17-23 Februari 2022. Sejumlah wilayah diminta waspada dampak yang terjadi dari cuaca buruk. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan kondisi terkini tinggi muka air (TMA) di sejumlah pintu air dan pos pantau di Jakarta pada Selasa (20/1/2026). Dari data per pukul pukul 18.00 WIB, pintu air Sunter Hulu berada pada status Siaga III.

TMA di Pos Sunter Hulu tercatat mencapai 300 sentimeter (cm) dan tidak mengalami perubahan dibandingkan satu jam sebelumnya. Ketinggian tersebut menempatkan Sunter Hulu pada status warna kuning dalam sistem peringatan dini banjir BPBD DKI Jakarta.

Sementara itu, sejumlah pintu air utama lainnya terpantau stabil dan berada di bawah ambang siaga. TMA pintu air Manggarai BKB tercatat di angka 360 cm, sedikit naik dibandingkan pukul 17.00 WIB yang berada di 350 cm, namun masih dalam kondisi aman.

Lalu, Bendung Katulampa berada di level TMA 110 cm. Kemudian, pintu air Depok mencatat TMA sebesar 680 cm, namun statusnya masih normal.

Sedangkan, pintu air Karet dan Pos Krukut Hulu masing-masing berada di 100 cm, cenderung menurun dibandingkan satu jam sebelumnya. Di sisi lain, pintu air Pesanggrahan juga stabil di 130 cm, disusul pintu air Cipinang Hulu berada di 160 cm yang sedikit meningkat dari 155 cm pada pukul 17.00 WIB.

Ada pun Waduk Pluit tercatat di level 140 cm, mengalami penurunan dari 150 cm. Pintu Air Pasar Ikan berada di 90 cm, sementara Pos Angke Hulu mencatat minus 170 cm, yang menunjukkan kondisi masih aman dari ancaman luapan.

 

Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca

BMKG bekerja sama dengan Pemrov Jabar dan Lanud Husein Sastranegara melakukan operasi modifikasi cuaca. (Foto: Liputan6.com/Arya Perkasa)

Diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa ini melanjutkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hari kelima.

Operasi ini merupakan langkah mitigasi terhadap dampak cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Pelaksanaan OMC hari ini dilakukan melalui tiga sorti penerbangan pesawat CASA 212 A-2105 yang berpangkalan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

"Pelaksanaan OMC hari kelima ini dilakukan secara terencana dan berdasarkan pemantauan meteorologi terkini. Dukungan BNPB dalam dua sorti penerbangan tambahan dengan total 2.000 kilogram NaCl sangat penting untuk mengoptimalkan upaya mitigasi hujan lebat," kata Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji dalam keterangannya, Selasa (20/1/2026).

BPBD Provinsi DKI Jakarta bersama BNPB, BMKG, dan TNI AU akan terus melakukan evaluasi dan koordinasi harian selama periode OMC untuk memastikan efektivitas mitigasi cuaca ekstrem.

“Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat/petir dan angin kencang, serta turut menjaga kebersihan saluran air dan lingkungan,” ujar Isnawa.

 

Pemprov DKI Gunakan Dana Belanja Tak Terduga untuk Operasi Modifikasi Cuaca Musim Kemarau Mendatang

BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menyemai Natrium Klorida (NaCl). (dokumentasi BNPB)

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menggunakan dana Belanja Tak Terduga (BTT) untuk anggaran Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama satu bulan.

"Kalau untuk anggaran OMC, kami sudah menganggarkan untuk satu bulan ini. Bahkan, terus terang ada pergeseran BTT. Orang yang bertanggung jawab harusnya membuat izin untuk melakukan OMC," ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Jakarta Pusat, melansir Antara, Senin 19 Januari 2026.

"Karena dia nggak mau, karena jumlahnya menjadi besar, termasuk tiga kali (OMC) yang kemarin, langsung kita pindahkan," sambung dia.

Sebab, lanjut Pramono, persoalan hujan dan penanganan banjir merupakan hal yang penting. Oleh karena itu, ia sudah menyiapkan anggaran hingga satu bulan ke depan untuk modifikasi cuaca.

"Karena bagaimanapun persoalan hujan, penanganan banjir selama satu bulan ini sampai setelah Imlek, bagi saya, setiap hari saya kontrol sendiri," kata Pramono.

Infografis Sejumlah Wilayah Indonesia Hadapi Anomali Cuaca Hujan Saat Musim Kemarau. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya