Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto meresmikan 166 Sekolah Rakyat (SR) di 34 provinsi pada Senin 12 Januari 2026, sebagai bagian dari program pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Program ini dirancang sebagai sekolah berasrama, di mana seluruh biaya pendidikan, tempat tinggal, serta kebutuhan dasar siswa ditanggung sepenuhnya oleh negara.
Advertisement
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Achmad Tjachja Nugraha, menilai kehadiran SR menunjukkan peran aktif negara dalam mengurangi ketimpangan pendidikan.
“Pendidikan adalah instrumen paling rasional untuk memutus kemiskinan antargenerasi. Sekolah Rakyat ditempatkan sebagai terobosan untuk memastikan anak-anak dari keluarga miskin memiliki akses pendidikan berkualitas,” ujar Prof. Achmad dalam keterangannya, Selasa (20/1).
Ia menambahkan bahwa model berasrama juga membantu pembentukan karakter, kedisiplinan, dan mental tangguh siswa, terutama bagi anak-anak dari keluarga rentan yang selama ini sulit mengakses pendidikan bermutu.
Hingga Januari 2026, program Sekolah Rakyat telah menampung sekitar 15.954 siswa dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.
Prof. Achmad menekankan, keberhasilan program sangat bergantung pada kualitas pelaksanaan, termasuk kualitas tenaga pendidik, relevansi kurikulum, tata kelola yang transparan, serta koordinasi lintas sektor.
“Pendidikan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem tidak bisa dilepaskan dari isu kesehatan, gizi, dan lingkungan sosial. Pendekatan terintegrasi antara kementerian, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci keberlanjutan program,” tambahnya.
Target Pemerintah
Pemerintah menargetkan pembangunan hingga 500 Sekolah Rakyat pada 2029, sebuah langkah strategis yang memerlukan konsistensi kebijakan dan dukungan anggaran berkelanjutan.
Menurut Prof. Achmad, jika dijalankan konsisten, program ini bukan hanya memberi akses pendidikan, tetapi juga menjadi investasi sosial jangka panjang untuk membentuk generasi tangguh yang mampu meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi ketimpangan sosial.
“Sekolah Rakyat perlu dipandang sebagai terobosan dan investasi sosial jangka panjang yang hasilnya tidak bisa diharapkan secara instan,” ujarnya.