Data Menhub: Angkutan Kereta Api Paling Tepat Waktu Selama Libur Nataru

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menuturkan, tingkat ketepatan waktu untuk angkutan udara mencapai 72-73% saat masa Nataru karena cuaca ekstrem.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 20 Januari 2026, 15:56 WIB
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memaparkan tingkat ketepatan waktu dan angkutan massal selama masa Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). (Foto: Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menyampaikan tingkat ketepatan waktu dari angkutan massal selama masa Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Angkutan kereta api tercatat menjadi yang paling tepat waktu, sementara angkutan udara memiliki tingkat on time performace (OTP) terendah.

Dudy mencatat, angkutan kereta api antar kota memiliki OTP sebesar 97,83 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi kedua setelah angkutan kereta api regional dengan OTP 99,66 persen.

"Berikut adalah OTP dari masing-masing moda transportasi, Angkutan kereta api antar-kota sebesar 97,83 persen, Angkutan kereta api regional sebesar 99,66 persen," ungkap Dudy dalam Rapat Kerja dengan Komisi V DPR, Selasa (20/1/2026).

Berikutnya, angkutan laut mencatatkan 96,81 persen perjalanan tepat waktu dan angkutan kapal penyeberangan mencatatkan OTP sebesar 94,71 persen. 

Sementara itu, Dudy juga menyampaikan banyak penerbangan yang tertunda sehingga tingkat ketepatan waktunya hanya berkisar 72-73 persen. Hal ini disebabkan oleh cuaca ekstrem selama periode Nataru lalu.

"Angkutan udara domestik sebesar 72,55 persen, Angkutan udara internasional sebesar 73,98 persen. Sebagai informasi, angka OTP di angkutan udara ini dipengaruhi secara dominan oleh faktor cuaca ekstrem selama periode Angkutan Nataru 2025-2026," tutur Dudy.

Kendaraan Darat

Dudy juga mencatat ada peningkatan rata-rata kecepatan kendaraan dari Jakarta menuju Semarang dan sebaliknya. Hal itu berdampak pada menurunnya waktu tempuh dari dua jarak tersebut.

Rute Jakarta-Semarang mencatatkan rata-rata kecepatan kendaraan melaju 85,69 kilometer (km) per jam, naik 5,09 persen dari Nataru 2024/2025 dengan 81,54 km/jam. Sementara, waktu tempuhnya menurun 5,24 persen jadi 5 jam 4 menit dari 5 jam 21 menit di periode sebelumnya.

"Sedangkan untuk rute Semarang-Jakarta memiliki kecepatan rata-rata kumulatif sebesar 85,73 km per jam dengan waktu tempuh selama 5 jam 4 menit," ujar Dudy.

 

11.819 Orang Naik Kereta Panoramic

KAI menyebutkan, kehadiran Kereta Panoramic juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi daerah yang dilalui. (Foto: KAI)

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat peningkatan minat masyarakat yang menggunakan kereta Panoramic selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Jumlahnya mencapai 11.819 orang pada periode tersebut.

VP Corporate Communication KAI, Anne Purba menuturkan, tingkat okupansi Kereta Panoramic mencapai 120 persen dari total 9.576 tempat duduk yang disediakan.

“Kereta Panoramic menjawab tren perjalanan masa kini, di mana masyarakat tidak hanya ingin sampai tujuan, tetapi juga menikmati proses perjalanannya. Ini sejalan dengan program pemerintah yang mendorong pariwisata berkualitas dan pergerakan ekonomi daerah melalui konektivitas yang nyaman dan berkelanjutan,” ujar Anne dalam keterangan resmi, Kamis (8/1/2026).

Layanan Kereta Panoramic

KAI menyebutkan, kehadiran Kereta Panoramic juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi daerah yang dilalui. (Foto: KAI)

Layanan Kereta Panoramic saat ini hadir pada rangkaian KA Argo Wilis relasi Bandung–Surabaya Gubeng (PP), KA Turangga relasi Bandung–Surabaya Gubeng (PP), KA Pangandaran relasi Gambir–Banjar (PP), KA Papandayan relasi Gambir–Garut (PP), serta KA Parahyangan relasi Gambir–Bandung (PP). 

Menurut Anne, tingginya minat pelanggan tidak lepas dari daya tarik jalur selatan Pulau Jawa yang dilalui sebagian besar layanan tersebut. Jalur ini dikenal memiliki lanskap alam yang beragam dan menjadi salah satu koridor penting dalam pengembangan pariwisata berbasis alam dan budaya.

"Sepanjang perjalanan, pelanggan dapat menikmati bentang perbukitan, hamparan persawahan, aliran sungai, jembatan-jembatan ikonik, terowongan bersejarah, hingga panorama alam terbuka melalui kaca lebar Kereta Panoramic. Pengalaman visual ini menjadikan perjalanan sebagai bagian dari destinasi itu sendiri,” jelas Anne.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya