Liputan6.com, Jakarta - Negara harus membayar utang moral pada jemaah haji lanjut usia (lansia) dengan pelayanan yang optimal, menurut Anggota Amirul Hajj Perempuan 2023–2024, Alissa Wahid. Pelayanan pada jemaah haji lansia, kata dia, harus sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Negara sudah memutuskan untuk melayani para jemaah haji, ini jemaah hajinya sudah ada, ini utang yang harus kita lunasi pada beliau-beliau ini, para (jemaah haji) lansia. Ini bukan sekedar kegiatan kementerian, tetapi utang pada para jemaah haji (lansia),” katanya seusai mengisi kelas saat Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Advertisement
Para petugas haji, sebutnya, perlu “menyiapkan diri, meluruskan niat, berangkat ke Tanah Suci untuk melayani para lansia dengan sebaik-baiknya, supaya ibadah haji mereka lebih lancar.
“Ada juga beban negara untuk memastikan kesehatan mereka, menekan jumlah kematian (jemaah haji dan jemaah haji lansia), menekan jumlah penyakit juga,” ujarnya.
Pelayanan yang optimal tentu dimulai dari para petugas haji. “Para petugas haji adalah sumber rasa aman, sumber rasa nyaman bagi para jemaah haji, terutama jemaah haji lansia dan perempuan,” ia menambahkan.
Ibadah Haji Ramah Perempuan dan Lansia
Konsep haji ramah perempuan dan lansia yang diusung Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), menurut Alissa, sangat penting, karena Indonesia masih menghadapi persoalan antrean haji yang sangat panjang. Ia berkata, “Jadi, kalau ada lansia yang baru bisa mendapatkan giliran (beribadah haji) saat ini, kita harus menerima konsekuensi itu. Mau tidak mau, pemerintah harus menyesuaikan pelayanannya, bukan para lansia yang dipinggirkan.”
Ramah lansia, ia menjelaskan, artinya seluruh mekanismenya dibuat untuk kebutuhan para jemaah haji lansia. “Misalnya,” Alissa mencontohkan. “Jumlah pendampingnya, lalu mekanisme apakah mereka berangkat dengan keluarga yang akan mendampingi mereka.”
Saat pemaparan, ia menjelaskan tiga tantangan dinamika jemaah haji lansia. Ketiganya adalah tantangan normal lansia, tantangan berada di Arab Saudi, serta gap teknologi dan informasi.
Tantangan Dinamika Jemaah Haji Lansia
Kapasitas fisik yang menurun jadi salah satu tantangan normal lansia. “Pendengaran, penglihatan, pernapasan, dan tenaga mereka menurun,” kata Alissa.
Para jemaah haji lansia juga merasakan chronic pain, seperti sakit punggung, rematik, asam urat, serta penyakit geriatrik. Selain itu, kapasitas mental mereka juga menurun.
“Pemahaman mereka berkurang. Ada juga yang dementia. Mereka mudah tertekan, berakibat marah dan depresi, serta kesulitan beradaptasi dengan penurunan fungsi diri,” sebutnya. “Lansia juga menghadapi konteks kehidupan yang berubah, seperti produktivitas menurun, penghasilan menurun, kemiskinan, kesepian karena anak-anak sudah mandiri, serta hilangnya status sosial.”
Tips Melayani Jemaah Haji Lansia
Berada di Arab Saudi, bisa saja itu merupakan pertama kali jemaah haji lansia ke luar negeri. “Mungkin juga mereka pertama kali naik pesawat, pertama kali bertemu bahasa asing, pertama kali di lingkungan asing, serta pertama kali bersama banyak orang yang tidak dikenal baik.”
“Gap teknologi juga jelas. Sementara sistem perhajian sudah online, para lansia ini tidak paham. Mereka bisa saja punya ponsel, tapi tidak bisa menggunakannya,” ia menambahkan.
Menurut Alissa, gembira, awas, proaktif, dan kalem merupakan tips melayani jemaah haji lansia. “Perjalanan haji adalah impian setiap Muslim. Berikanlah pengalaman terbaik bagi jemaah lansia. Mungkin ini adalah perjalanan terakhirnya,” tandasnya.