Cara Membuat Serabi Solo Manis Gurih, Jajanan Tradisional Legendaris dari Kota Budaya

Serabi Solo manis gurih merupakan jajanan tradisional legendaris khas Kota Surakarta yang kaya sejarah dan cita rasa. Artikel ini membahas cara membuat serabi Solo manis gurih yang lembut dan autentik berdasarkan buku resep, lengkap dengan perbedaan serabi Solo dan serabi daerah lain serta fakta menarik seputar warisan kulinernya.

oleh Fitriyani Puspa SamodraDiterbitkan 20 Januari 2026, 17:30 WIB
Cara Membuat Serabi Solo Manis Gurih (Sumber: gemini.com)

Liputan6.com, Jakarta - Serabi Solo dikenal sebagai salah satu kue tradisional yang tak lekang oleh waktu. Teksturnya lembut, aromanya harum santan, dan rasanya memadukan manis serta gurih secara seimbang. Kue ini bukan sekadar camilan, tetapi juga bagian dari sejarah dan identitas kuliner masyarakat Surakarta.

Berkunjung ke Solo rasanya belum lengkap tanpa mencicipi serabi yang masih dimasak dengan cara tradisional. Proses pembuatannya yang sederhana justru melahirkan cita rasa khas yang sulit ditiru oleh daerah lain. Dari dapur-dapur kecil hingga sentra oleh-oleh, serabi Solo tetap menjadi primadona.

Menariknya, kini siapa pun bisa mencoba membuat serabi khas Solo di rumah. Dengan bahan yang mudah didapat dan teknik yang tepat, cita rasa autentik serabi Solo manis gurih dapat dihadirkan tanpa harus jauh-jauh ke Kota Bengawan. Berikut cara membuat serabi solo manis gurih dari Liputan6.com, Selasa (20/1/2026). 

Resep Serabi Solo Manis Gurih

Serabi menjadi salah satu jajanan khas di kota Solo, Jawa Tengah. Berbeda dengan serabi lain, serabi di Solo menggunakan bahan utama tepung beras. (Liputan6.com/Diviya Agatha)

Resep berikut dirujuk dari buku “Jajanan Kaki Lima Khas Solo” (2013) karya Linda Carolina Brotodjojo terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, yang menyesuaikan metode tradisional dengan peralatan dapur rumahan.

Bahan-bahan:

  • 500 gram tepung beras
  • 250 gram gula pasir
  • Santan kental dari 1 butir kelapa
  • 600 ml air
  • Soda kue secukupnya
  • Minyak sayur secukupnya (untuk olesan wajan)
  • Cokelat meses secukupnya
  • Irisan pisang dan nangka sebagai topping

Langkah-langkah:

  1. Campurkan tepung beras dengan air sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga tidak menggumpal. Pastikan adonan tercampur rata dan halus.
  2. Masukkan gula pasir ke dalam adonan, aduk kembali hingga gula larut sempurna. Tambahkan soda kue secukupnya untuk membantu adonan mengembang.
  3. Masak santan kental hingga hangat sambil diaduk agar tidak pecah. Sisihkan.
  4. Panaskan wajan kecil anti lengket atau wajan tanah liat, lalu olesi tipis dengan minyak.
  5. Tuang satu sendok sayur adonan ke dalam wajan dengan api kecil. Biarkan hingga setengah matang dan muncul pori-pori di permukaan.
  6. Tuang sedikit santan kental di atas adonan, kemudian tutup wajan.
  7. Tambahkan topping cokelat meses, irisan pisang, atau nangka sesuai selera.
  8. Serabi matang ditandai dengan pinggiran yang kering sementara bagian tengahnya tetap lembut. Angkat dan sajikan hangat.
  9. Dengan mengikuti langkah di atas, cara membuat serabi solo manis gurih dapat menghasilkan serabi yang lembut, harum, dan bercita rasa autentik.

Sejarah Singkat Serabi Solo sebagai Warisan Kuliner

Serabi telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram dan beberapa kali disebut dalam Serat Centhini, naskah sastra Jawa yang ditulis pada awal abad ke-19. Dalam catatan tersebut, serabi disebut sebagai sajian dalam berbagai prosesi adat, mulai dari pernikahan hingga ruwahan. Hal ini menegaskan bahwa serabi bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari ritual dan simbol budaya Jawa.

Menurut Bondan Winarno (alm.), serabi diyakini sebagai hasil pengembangan dari kue apem yang mendapat pengaruh kuliner India. Apem yang awalnya lebih padat kemudian berevolusi menjadi serabi yang lebih lembut karena penggunaan santan yang lebih banyak. Di Solo, serabi berkembang menjadi jajanan khas dengan karakter unik, terutama melalui Serabi Notosuman yang legendaris.

Serabi Notosuman mulai dikenal luas sejak pasangan Hoo Gek Hok dan Tan Giok Lan mengembangkan kue apem menjadi serabi pipih pada tahun 1923. Dari sinilah serabi Solo kemudian menjadi identitas kuliner Kota Surakarta yang tetap bertahan hingga sekarang.

Perbedaan Serabi Solo dengan Serabi Daerah Lain

Serabi Solo memiliki karakter yang cukup berbeda dibandingkan serabi dari daerah lain di Indonesia. Perbedaan paling mencolok terletak pada penyajiannya. Serabi Solo tidak menggunakan kuah santan manis, sedangkan serabi Bandung atau serabi Jawa Barat justru identik dengan siraman kuah kinca.

Dari segi tekstur, serabi Solo cenderung lebih tipis dengan bagian tengah yang lembut dan pinggiran kering. Sementara itu, serabi daerah lain biasanya lebih tebal dan basah. Cara memasaknya pun berbeda; serabi Solo tradisional dimasak menggunakan wajan tanah liat di atas arang, sehingga menghasilkan aroma khas yang sulit ditiru.

Variasi rasa juga menjadi pembeda. Serabi Solo klasik hanya memiliki dua varian, yaitu polos dan taburan cokelat, demi menjaga identitas rasa. Berbeda dengan serabi modern yang hadir dengan aneka topping dan warna.

Tips Agar Serabi Solo Berhasil Lembut dan Gurih

Agar hasil serabi maksimal, gunakan santan segar dari kelapa tua karena aromanya lebih kuat. Pastikan api kecil dan stabil agar serabi matang merata tanpa gosong. Selain itu, jangan terlalu sering membuka tutup wajan karena uap panas berperan penting dalam proses pematangan adonan.

 

FAQ Seputar Serabi Solo

1. Apakah serabi Solo bisa disimpan lama?

Tidak. Serabi Solo tidak menggunakan pengawet sehingga idealnya dikonsumsi pada hari yang sama.

2. Mengapa serabi Solo tidak memakai kuah santan?

Karena ciri khas serabi Solo terletak pada rasa manis gurih dari adonan, bukan dari kuah.

3. Bisakah membuat serabi Solo tanpa wajan tanah liat?

Bisa. Wajan anti lengket sudah cukup untuk penggunaan di rumah.

4. Apa fungsi soda kue dalam adonan serabi?

Soda kue membantu adonan mengembang dan menghasilkan tekstur yang lebih lembut.

5. Topping apa yang paling autentik untuk serabi Solo?

Topping klasik adalah cokelat meses, sesuai tradisi Serabi Notosuman.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya