PM Inggris Respons Kebijakan Tarif Trump atas Greenland: Sepenuhnya Salah

Trump tidak main-main soal Greenland. Yang tidak mendukungnya dikenakan tarif 10 persen.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 19 Januari 2026, 07:01 WIB
Presiden AS Donald Trump dan PM Inggris Keir Starmer di London pada 18 September 2025. (Dok. AP/Evan Vucci)

Liputan6.com, London - Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer mengatakan bahwa keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memberlakukan tarif sebesar 10 persen terhadap Inggris dan tujuh negara Eropa lainnya terkait Greenland adalah tindakan yang sepenuhnya salah.

PM Starmer menyampaikan pernyataannya pada Sabtu (17/1/2026) malam. Seperti dikutip dari laporan The Guardian ia mengatakan, "Posisi kami mengenai Greenland sangat jelas – wilayah itu adalah bagian dari Kerajaan Denmark dan masa depannya merupakan urusan rakyat Greenland dan pemerintah Denmark."

"Kami juga telah menegaskan bahwa keamanan Arktik penting bagi seluruh NATO dan para sekutu harus melakukan lebih banyak hal bersama-sama untuk menghadapi ancaman dari Rusia di berbagai wilayah Arktik."

Terkait kebijakan tarif Trump, Starmer menyatakan, "Menerapkan tarif terhadap sekutu karena menjalankan keamanan kolektif NATO adalah sepenuhnya salah. Kami tentu akan menindaklanjuti hal ini secara langsung dengan pemerintahan AS."

Sebelumnya Trump mengatakan pada Sabtu bahwa tarif tersebut akan mulai berlaku pada 1 Februari terhadap negara-negara anggota NATO, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, yang telah mengerahkan pasukan ke Greenland sebagai respons atas meningkatnya ketidakpastian mengenai masa depan wilayah tersebut.

Tarif tersebut, tegas Trump, akan dinaikkan menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak tercapai kesepakatan untuk membeli Greenland.

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menulis, "Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris Raya, Belanda, dan Finlandia telah melakukan perjalanan ke Greenland, untuk tujuan yang tidak diketahui … Ini adalah situasi yang sangat berbahaya bagi keselamatan, keamanan, dan kelangsungan hidup planet kita."

 

Saran Mantan Diplomat

Sikap Trump memicu reaksi keras dari Eropa, termasuk langkah Denmark yang meminta dukungan militer sekutu NATO untuk memperkuat Greenland. Tampak dalam foto, warga berdemonstrasi menentang kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terhadap Greenland di depan konsulat AS di Nuuk, Sabtu 17 Januari 2026. (AP Photo/Evgeniy Maloletka)

Sementara itu, mantan penasihat keamanan nasional Inggris dan diplomat senior yang telah pensiun, Lord Peter Ricketts, mengatakan kepada BBC bahwa langkah yang tepat bagi negara-negara Eropa merespons kebijakan Trump adalah bereaksi dengan sangat tenang.   

Ia mengatakan bahwa negara-negara Eropa harus terus menyampaikan bahwa AS dapat memenuhi seluruh kepentingan keamanannya melalui kerja sama dengan Denmark dan NATO.

Ricketts mengingatkan, "Ingat bahwa selama Perang Dingin, AS memiliki 10.000 tentara di Greenland, jadi sepenuhnya terbuka bagi AS untuk meningkatkan kehadiran militernya tanpa bertindak sepihak dan tanpa pendekatan mengancam seperti ini."

Ia juga mengatakan bahwa para pemimpin Eropa dapat menyampaikan secara pribadi bahwa kebijakan tarif tersebut tidak akan berhasil karena Uni Eropa menerapkan tarif tunggal, sehingga AS tidak dapat memberlakukan tarif kepada negara-negara Uni Eropa secara individual, melainkan harus menerapkannya terhadap Uni Eropa secara keseluruhan.   

"Daripada mengancam dengan tarif, kita perlu bekerja bersama untuk menyelesaikan persoalan yang nyata terkait keamanan Greenland – bukan karena China akan segera mengambil alih, melainkan karena semua anggota NATO memiliki keamanan Arktik sebagai prioritas," tutur Ricketts.

Ricketts menutup pernyataannya dengan mengatakan, "Cara untuk melakukan ini adalah bekerja bersama dan di masa lalu, saya pikir Keir Starmer dan pihak lain cukup efektif bekerja dengan Presiden Trump secara pribadi, tidak menantangnya di depan umum dan saya pikir kita perlu kembali ke pola tersebut agar ia melihat bahwa ada cara lain untuk mencapai apa yang ia inginkan tanpa bahasa mengancam dan membual soal tarif seperti ini."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya