Roket Misi Bulan NASA Dipindahkan ke Landasan, Peluncuran Paling Cepat Februari

Misi ini akan diisi dengan empak awak. Siapa saja mereka?

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 18 Januari 2026, 13:59 WIB
Roket Space Launch System (SLS) NASA untuk misi Artemis II, penerbangan berawak yang akan mengitari Bulan, dipindahkan ke Landasan Peluncuran 39B di Kennedy Space Center, Sabtu (17/1/2026). (Dok. AP/John Raoux)

Liputan6.com, Washington, DC - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada Sabtu (17/1/2026) waktu setempat memindahkan roket Space Launch System (SLS) ke landasan peluncuran sebagai bagian dari persiapan misi penerbangan mengitari Bulan oleh astronaut untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad.

Misi pergi–pulang tersebut berpeluang diluncurkan paling cepat pada Februari mendatang. Roket setinggi sekitar 98 meter itu mulai bergerak perlahan dengan kecepatan sekitar 1,6 kilometer per jam dari Gedung Perakitan Kendaraan (Vehicle Assembly Building) di Kennedy Space Center saat fajar. Perjalanan sekitar 6 kilometer itu berlangsung hingga malam hari.

Ribuan pekerja pusat antariksa bersama keluarga mereka berkumpul sejak dini hari di tengah udara dingin untuk menyaksikan peristiwa yang telah lama dinantikan ini, setelah mengalami penundaan selama bertahun-tahun. Mereka berjejer di depan gedung bersejarah tersebut untuk menyaksikan keluarnya roket SLS. Gedung itu dibangun pada era 1960-an guna menampung roket Saturn V yang mengantarkan 24 astronaut ke Bulan dalam Program Apollo. Sorak-sorai massa dipimpin oleh administrator baru NASA, Jared Isaacman, bersama keempat astronaut yang akan menjalani misi tersebut.

"Hari ini menjadi hari yang istimewa," ujar komandan kru Reid Wiseman seperti dikutip dari Associated Press. "Pemandangan ini sangat mengesankan."

 

 

Awak Misi Artemis II

Para awak misi Artemis II NASA, penerbangan berawak yang akan mengitari Bulan, mengikuti konferensi pers di Kennedy Space Center , Sabtu (17/1/2026). Kiri ke kanan: astronaut Badan Antariksa Kanada Jeremy Hansen, spesialis misi; Christina Koch; pilot Victor Glover; dan komandan Reid Wiseman. (Dok. AP/John Raoux)

Dengan bobot mencapai sekitar 5 juta kilogram, roket SLS beserta kapsul awak Orion di puncaknya dipindahkan menggunakan transporter raksasa yang sebelumnya digunakan pada era Apollo dan pesawat ulang-alik. Transporter tersebut telah dimodifikasi untuk menyesuaikan dengan bobot tambahan roket SLS.

Peluncuran SLS pertama dan satu-satunya sebelumnya berlangsung pada November 2022, ketika kapsul Orion tanpa awak berhasil dikirim mengorbit Bulan.

"Peluncuran roket SLS kali ini terasa sangat berbeda karena membawa kru yang akan diterbangkan mengelilingi Bulan," kata John Honeycutt, manajer program roket SLS NASA, pada malam sebelum pemindahan roket.

Kerusakan pada pelindung panas serta sejumlah masalah lain pada kapsul selama penerbangan uji coba awal memerlukan analisis dan pengujian lanjutan. Kondisi tersebut menyebabkan misi berawak pertama ini harus ditunda hingga sekarang. Dalam penerbangan ini, para astronaut tidak akan mengorbit Bulan maupun mendarat di permukaannya.

Pendaratan manusia di Bulan baru direncanakan terjadi pada penerbangan ketiga dalam rangkaian misi Artemis beberapa tahun mendatang.

Misi berdurasi 10 hari ini akan diawaki oleh Reid Wiseman sebagai komandan, didampingi pilot Victor Glover dan Christina Koch yang merupakan astronaut NASA berpengalaman. Mereka akan bergabung dengan astronaut Kanada, Jeremy Hansen, mantan pilot tempur yang akan menjalani penerbangan luar angkasa pertamanya.

Keempat astronaut tersebut akan menjadi manusia pertama yang terbang menuju Bulan sejak misi Apollo 17 pada 1972, ketika Gene Cernan dan Harrison Schmitt mengakhiri program pendaratan Bulan. Sebanyak 12 astronaut pernah berjalan di permukaan Bulan, dimulai dengan Neil Armstrong dan Buzz Aldrin pada 1969.

Saat ini, hanya empat dari para penjelajah Bulan tersebut yang masih hidup. Buzz Aldrin, yang tertua di antara mereka, akan berusia 96 tahun pada Selasa mendatang.

"Mereka sangat bersemangat karena kita kembali menuju Bulan," ujar Wiseman. "Mereka ingin melihat manusia berada sejauh mungkin dari Bumi untuk menemukan hal-hal yang belum diketahui."

Tanggal Peluncuran Belum Diumumkan

Roket Space Launch System (SLS) NASA untuk misi Artemis II, penerbangan berawak yang akan mengitari Bulan, dipindahkan ke Landasan Peluncuran 39B di Kennedy Space Center, Sabtu (17/1/2026). (Dok. AP/John Raoux)

NASA saat ini masih menunggu pelaksanaan uji pengisian bahan bakar roket SLS di landasan peluncuran pada awal Februari sebelum menetapkan tanggal peluncuran resmi.

"Kami, menurut saya, sama sekali tidak berniat mengumumkan tanggal peluncuran yang pasti sebelum uji pengisian bahan bakar tersebut selesai," kata Isaacman kepada wartawan.

NASA hanya memiliki lima hari yang memungkinkan untuk meluncurkan roket pada paruh pertama Februari. Di luar periode itu, jadwal peluncuran harus diundur ke Maret.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya