Pasar Surat Utang Tetap Perkasa di Tengah Euforia Saham

Aktivitas penerbitan obligasi, besarnya outstanding, serta dominasi Surat Berharga Negara (SBN) menegaskan peran strategis pasar pendapatan tetap sebagai penopang stabilitas sistem keuangan.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 18 Januari 2026, 07:30 WIB
Layar komputer menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah reli pasar saham yang mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan kapitalisasi bursa ke level tertinggi sepanjang sejarah, pasar surat utang Indonesia menunjukkan ketahanan yang tak kalah solid.

Aktivitas penerbitan obligasi, besarnya outstanding, serta dominasi Surat Berharga Negara (SBN) menegaskan peran strategis pasar pendapatan tetap sebagai penopang stabilitas sistem keuangan.

Mengutip keterangan Bursa Efek Indoneesia (BEI), Minggu (18/1/2026), selama periode 12–15 Januari 2026, tercatat satu pencatatan obligasi korporasi di Bursa Efek Indonesia. Obligasi Berkelanjutan V Chandra Asri Pacific Tahap I Tahun 2025 resmi masuk papan bursa dengan nilai pokok Rp 1,5 triliun.

Penerbitan obligasi oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk ini memperoleh peringkat idAA- dari PT Pemeringkat Efek Indonesia. Peringkat tersebut mencerminkan kualitas kredit yang kuat serta tingkat kepercayaan investor terhadap prospek dan fundamental emiten.

Meski jumlah pencatatan obligasi pada periode tersebut terbatas, kualitas emisi dinilai tetap terjaga. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar surat utang bergerak lebih selektif, dengan fokus pada penerbit berfundamental solid di tengah dinamika pasar keuangan global.

 

Outstanding Obligasi dan Sukuk Masih Jumbo

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Secara keseluruhan, total emisi obligasi dan sukuk yang telah tercatat sepanjang tahun 2026 mencapai 7 emisi dari 6 emiten dengan nilai Rp 218,90 triliun.

Sementara itu, total obligasi dan sukuk yang beredar di BEI mencapai 665 emisi dengan nilai outstanding Rp 542,85 triliun dan USD 134,01 juta yang diterbitkan oleh 137 emiten.

Angka tersebut menegaskan bahwa pasar surat utang nasional masih menjadi sumber pendanaan utama bagi korporasi dan institusi. Di tengah lonjakan minat terhadap saham, obligasi tetap dipilih sebagai instrumen pembiayaan jangka menengah hingga panjang yang stabil.

 

Dominasi SBN Jaga Stabilitas Pasar Keuangan

Karyawan berjalan di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/1/2021). Indeks acuan bursa nasional tersebut turun 96 poin atau 1,5 persen ke 6.317,864. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Selain obligasi korporasi, SBN masih menjadi tulang punggung pasar surat utang Indonesia. Hingga pertengahan Januari 2026, tercatat 190 seri SBN di BEI dengan nominal mencapai Rp 6.484,29 triliun dan USD 352,10 juta.

Keberadaan SBN dalam jumlah besar, ditambah instrumen lain seperti Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp3,99 triliun, memperlihatkan kedalaman pasar pendapatan tetap nasional.

Di tengah euforia pasar saham, kekuatan pasar surat utang ini berperan penting menjaga keseimbangan dan stabilitas sistem keuangan Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya