Pria Wisconsin Diseret ke Pengadilan atas Tuduhan Menyiksa Putrinya hingga Kelaparan Parah

Mengapa bisa remaja usia 14 tahun tersebut kelaparan sampai dianggap tengkorak hidup?

oleh Faqih Nur ImanDiterbitkan 19 Januari 2026, 18:35 WIB
Ilustrasi bullying/credit: pexels.com/Mikhail

Liputan6.com, Washington D.C - Walter Goodman (47), seorang pria asal Wisconsin, resmi diperintahkan untuk menjalani persidangan atas tuduhan penyiksaan berat. Ia didakwa membiarkan putrinya yang berusia 14 tahun kelaparan hingga nyaris tewas dengan bobot tubuh hanya tersisa 35 pon (sekitar 15 kilogram).

Keputusan pengadilan tersebut keluar setelah Goodman melepaskan haknya dalam sidang pendahuluan pada Senin. Selain Goodman, Kayla Stemler (28), kekasih dari putri tirinya, juga akan menghadapi proses hukum serupa atas dugaan keterlibatan dalam penyiksaan. 

Sementara itu, dua tersangka lainnya, yakni istri Goodman, Melissa (51), serta putrinya, Savana LeFever (29), diperkiran akan mengaku bersalah atas dakwaan penganiayaan anak dan pemicu kerusakan emosional, Mengutip laporan NewYork Post, Senin (18/1/20206).

Kasus memilukan tersebut terungkap pada Agustus saat Goodman menghubungi layanan darurat 911. Kala itu, ia mengklaim sang putri mengalami "koma" akibat menolak makan selama beberapa hari. 

Namun, petugas yang tiba di lokasi justru menemukan korban dalam kondisi sangat mengenaskan, tubuhnya begitu kurus hingga sempat dikira bocah berusia 6 tahun. Korban lantas dilarikan ke rumah sakit karena mengalami gagal organ. 

Jaksa penuntut menggambarkan kondisi fisik korban layaknya "tengkorak" yang "benar-benar hanya tinggal kulit dan tulang."

Siksaan dan Penolakan Makanan

Pihak Goodman beserta keluarganya sempat berdalih bahwa remaja tersebut mengidap autisme dan menolak asupan makanan. Akan tetapi, investigasi polisi membantah klaim tersebut melalui temuan serangkaian pesan teks. 

Para tersangka diduga membual tentang hukumannya , mulai dari membiarkan kelaparan, mengurung korban di kamar dengan pengawasan kamera, hingga melakukan pemukulan fisik.

Dalam sebuah pesan, Goodman diduga menyatakan kepada rekannya, "Jika saya bisa meninggalkannya di suatu tempat di hutan, saya akan meninggalkannya."

Sentimen serupa diungkapkan ibu tiri korban yang menulis, "Berharap dia pergi saja," yang kemudian dibalas oleh LeFever dengan kalimat, "Saya hanya ingin menendang karate kepalanya yang bodoh."

Kondisi korban membuat keluarga besarnya terkejut. Leslie Doxtaker, sepupu yang kini menjadi pengasuh korban, menuturkan kepada Fox 11 bahwa pertumbuhan remaja itu seolah terhenti sejak tinggal bersama ayahnya di sebuah trailer kumuh lima tahun silam.

"Rasanya hampir seperti dia berada di dalam kapsul waktu dari saat dia diserahkan hingga saat kami melihatnya di rumah sakit," ujar Doxtaker. "Dia telah diisolasi sejak tahun 2020."

Pemulihan Fisik dan Trauma Psikologis Korban

Ilustrasi lapar/https://unsplash.com/Louis Hansel

Pasca penyelamatan dan perawatan medis, korban tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan terhadap makanan. Ia justru makan beberapa kali sehari dan menceritakan kepada staf medis bahwa sang ayah kerap memarahinya jika ia makan. Saat ini, kondisi fisik remaja tersebut berangsur membaik.

"Beratnya sudah mencapai 78 pon (sekitar 35 kg) sekarang, jadi berat badannya sudah naik lebih dari dua kali lipat. Dia bertambah tinggi tiga inci,” jelas Doxtaker.

Doxtaker, yang telah menggalang dana melalui GoFundMe untuk biaya pemulihan, menyebutkan bahwa korban memiliki keinginan kuat untuk kembali beraktivitas. 

"Dia ingin pergi dan bermain. Dia ingin pergi dan berlari, dan kami harus terus mengingatkannya, seperti, 'Tunggu saja sampai tubuhmu pulih.' Tapi dia sedang menuju ke sana," tambahnya.

Meski demikian, trauma psikologis masih membekas kuat. Pihak keluarga mengungkapkan bahwa gadis tersebut masih kesulitan memahami kekejaman yang dialaminya dan justru merasa bersalah atas penahanan ayah beserta kerabatnya.

"Dia merasa bersalah atas kejadian tersebut. Karena mereka masuk penjara. Kami mencoba untuk terus memberitahunya, 'Itu bukan salahmu. Mereka adalah orang dewasa. Merekalah yang bertanggung jawab atasmu, bukan sebaliknya, sayang’,” pungkas Doxtaker.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya