Liputan6.com, Jakarta - Operasi pencarian pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang dilaporkan hilang kontak dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar menghadapi tantangan berat. Kendala yang dihadapi tim SAR di antaranya kondisi cuaca dan medan pegunungan karst di kawasan Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar Andi Sultan, mengatakan tim SAR gabungan mendirikan posko untuk mengoordinasikan upaya pencarian di wilayah yang diduga menjadi titik hilangnya kontak pesawat.
Advertisement
"Setelah menerima informasi dari AirNav terkait hilang kontaknya pesawat ATR 400, kami langsung bergerak ke lokasi sesuai koordinat yang mengarah ke wilayah Maros–Pangkep, khususnya kawasan Leang-Leang. Saat ini posko SAR gabungan sudah kami dirikan," ujar Andi Sultan, Sabtu (17/1/2026) sore.
Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, instansi kehutanan, hingga masyarakat setempat. Tim SAR juga telah dibagi ke dalam beberapa regu untuk menyisir sejumlah titik yang dicurigai.
"Kami sudah melaksanakan briefing dan membagi tim menjadi tiga regu. Tim bergerak ke beberapa titik yang dianggap berpotensi berdasarkan pemetaan awal dan informasi dari masyarakat," jelasnya.
Menurut Andi Sultan, pencarian udara sempat dilakukan menggunakan drone. Namun, kondisi cuaca menjadi kendala utama dalam operasi tersebut.
"Saat drone diterbangkan, area pencarian tertutup kabut dan sempat diguyur hujan. Meski sekarang kondisi mulai membaik, cuaca masih menjadi tantangan dalam proses pencarian," ungkapnya.
Selain drone, tim SAR gabungan juga mendapat dukungan pencarian udara menggunakan helikopter milik TNI Angkatan Udara yang dikerahkan dari Makassar untuk membantu observasi dari udara.
Kesaksian Warga
Andi Sultan menambahkan, berdasarkan keterangan warga, sempat terdengar suara dentuman di sekitar kawasan pencarian. Informasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan tim dalam menentukan arah penyisiran.
"Informasi dari masyarakat kami jadikan referensi awal. Namun hingga saat ini, belum ada temuan yang dapat dipastikan sebagai pesawat," katanya.
Dalam operasi ini, Basarnas Makassar menurunkan sekitar 36 personel, dengan dukungan tambahan dari unsur TNI dan kepolisian. Medan yang didominasi kawasan pegunungan karst membuat tim harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.
"Untuk mencapai beberapa titik, tim membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam dengan berjalan kaki karena medannya cukup berat dan harus ditempuh secara infanteri," jelas Andi Sultan.