Liputan6.com, Jakarta - BTSE Indonesia bekerja sama dengan BTSE Cares Foundation berkontribusi terhadap pemulihan pasca bencana di Sumatra tepatnya di Aceh yakni Desa Lubuk Sidup, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang.
BTSE Indonesia merupakan platform perdagangan aset kripto yang terdaftar di BAPPEBTI sejak tahun 2025, dan telah berizin serta diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Advertisement
Co-Founder dan CEO BTSE Indonesia Michael Ciputra mengungkapkan langkah nyata yang dilakukan bersama dengan BTSE Cares Foundation adalah bentuk kepedulian terhadap saudara - saudara kami yang terkena dampak di provinsi Sumatera khususnya Aceh Tamiang.
“Partisipasi dan kerja sama seluruh pihak menjadi kunci dalam mempercepat pemulihan pascabencana, melalui inisiatif ini, kami berharap bantuan yang kami berikan dapat bermanfaat banyak bagi masyarakat yang membutuhkan," ucap Michel, Jumat (16/1/2026).
Di tengah proses pemulihan pascabencana, kebutuhan akan bantuan kemanusiaan menjadi semakin mendesak. Bencana yang terjadi tidak hanya berdampak pada keselamatan dan kondisi fisik masyarakat, tetapi juga mengganggu akses terhadap kebutuhan dasar serta aktivitas sehari-hari.
Oleh karena itu, dukungan yang berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat terdampak melewati masa sulit ini. Bantuan berupa donasi pangan, logistik, layanan kesehatan, serta dukungan terhadap pemulihan infrastruktur menjadi elemen penting dalam upaya penanganan pascabencana.
Ketersediaan kebutuhan esensial tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat, menjaga kondisi kesehatan, serta mempercepat proses pemulihan agar para korban dapat kembali menjalani kehidupan secara aman dan layak.
Founder & CEO Ngomongin Uang Glenn Ardi mengungkapkan, pihaknya mengapresiasi bantuan dari BTSE Indonesia dan BTSE Cares Foundation masyarakat di Aceh yang terdampak bencana ini
"Kami telah menyalurkan langsung bantuan bersama tim relawan lain," tutup dia.
Harga Bitcoin Berpeluang Tembus USD 100.000
Sebelumnya, Analis menilai, pelaku pasar dan investor untuk mengantisipasi volatilitas bitcoin (BTC) yang lebih tinggi seiring pergerakan yang sensitive terhadap berita. Pelaku pasar akan mencermati hasil pembahasan lanjutan Rancangan Undang-Undang (RUU) kripto di Senat Amerika Serikat (AS) dan dinamika kebijakan moneter the Federal Reserve (the Fed).
Berdasarkan data coinmarketcap, harga bitcoin turun 1,1% dalam 24 jam terakhir. Namun, selama sepekan terakhir, harga bitcoin melesat 4,47%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 95.430 atau Rp 1,61 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.900).
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menuturkan, jika bitcoin sempat terkoreksi atau turun kembali di bawah USD 100.000, kondisi itu tidak otomatis menandakan pelemahan.
"Pergerakan tersebut bisa saja mencerminkan fase konsolidasi yang wajar, seiring pasar menyesuaikan diri terhadap peningkatan likuiditas dan aksi ambil untung,” ujar Fyqieh dikutip dari keterangan resmi, Jumat (16/1/2026).
Level psikologis itu berpotensi berubah dari hambatan menjadi pijakan baru. Dalam skenario ini, peluang terjadinya percepatan “price discovery” atau penemuan harga menuju area yang lebih tinggi bisa terbuka lebih lebar.
“Karena itu, dalam jangka pendek investor perlu mengantisipasi volatilitas yang lebih tinggi, pergerakan yang sensitif terhadap berita, serta tarik-menarik harga di sekitar USD 100.000 sampai permintaan benar-benar melampaui tekanan jual atau pasar membutuhkan waktu untuk membangun momentum,” ujar Fyqieh.
“Meskipun prospeknya positif, investor tetap perlu mencermati risiko jangka pendek, seperti potensi lonjakan inflasi lanjutan atau sentimen risk-off global. Pasar kripto sangat responsif terhadap perubahan ekspektasi likuiditas.”
Sentimen Kripto
Berdasarkan data perdagangan global, Bitcoin sempat naik sekitar 3,6% ke level US$96.876. Ethereum (ETH) turut menguat 4,8%, sementara XRP mencatat kenaikan sekitar 1,4%. Reli ini terjadi setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS Desember yang menunjukkan inflasi inti lebih terkendali, memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga dalam waktu dekat.
CPI AS tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan, sementara inflasi inti hanya naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan.
“Data ini meningkatkan optimisme pasar terhadap pelonggaran kondisi likuiditas ke depan, yang secara historis berdampak positif bagi aset berisiko termasuk kripto,” ujar dia.
Dari sisi kebijakan, sentimen pasar turut diperkuat oleh diperkenalkannya draf RUU “Digital Asset Market CLARITY Act” oleh Senator AS menjelang pembahasan di Senate Banking Committee.
RUU ini bertujuan memperjelas klasifikasi aset kripto sebagai sekuritas atau komoditas, sekaligus memberikan kewenangan lebih luas kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC) untuk mengawasi pasar spot kripto.