Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berencana semakin selektif dalam menyelamatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Danantara akan fokus pada penciptaan nilai tambah pada 2026.
Managing Director Business 3 Danantara, Febriany Eddy mengatakan pihaknya sudah memetakan BUMN yang akan diselamatkan dengan injeksi modal hingga merger. Namun, diungkapkannya, porsi penyelamatan dengan mempertahankan entitasnya akan lebih sedikit.
Advertisement
"Cuma yang saya ingin tekankan itu, mungkin porsi yang penyelamatan akan lebih sedikit ya," ungkap Febriany dalam acara Semangat Awal Tahun 2026 di Menara Global, Jakarta, dikutip Kamis (15/1/2026).
Dia menjelaskan rencana ini sudah dibahas dengan Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria. Lantaran, Danantara ingin restrukturidasi BUMN mengarah pada penciptaan nilai tambah seperti ekspansi bisnis hingga hilirisasi.
"Jadi porsi itu memang akan lebih, sekarang sudah, ya saya ngerasa naik kelas lah. Tahun lalu majority yang gitu-gitulah, nyelamatin, menyehatkan. Nah sekarang tahun kedua harusnya sudah lebih berkurang yang begitu," ucapnya.
"Kita lebih masuk ke yang value creation. Seperti tadi ekspansi, kemudian ada hilirisasi, juga proyek hilirisasi banyak yang harus kita lakukan. Yaitu semua tahun ini sih. Dan hopefully tahun depannya lagi 2027 itu beda lagi. Jadi kita growing ya, step changes gitu," sambung Febriany.
Alasan Tak Injeksi Modal ke TINS
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tak akan menaruh tambahan modal ke PT Timah Tbk atau TINS. Lantaran, perusahaan dan induk holdingnya dinilai masih mampu menanganinya.
Managing Director Business 3 Danantara, Febriany Eddy menuturkan alasan Holding Operasional Danantara tidak memberikan injeksi modal ke TINS. Danantara akan menjadi opsi terakhir untuk pemenuhan kebutuhan modal TINS.
"Kalau tadi ditanya apakah kalau Danantara langsung (berikan modal) saat ini belum, karena kemungkinan dia masih sanggup sendiri dan juga sanggup di Holdingnya. Jadi kita itu adalah last resort-lah," ucap Febriany dalam Semangat Awal Tahun 2026, di Menara Global, Jakarta, dikutip Kamis pekan ini.
Holding Pertambangan Masih Mampu
Dia menjelaskan, TINS merupakan anggota Holding BUMN Industri Pertambangan di bawah PT Mineral Industri Indonesia atau MIND ID. Injeksi modal bisa jadi lebih dahulu dilakukan pada tahap induk holding tadi.
"Sebenarnya begini, capital injection itu tidak harus dari Danantara langsung ya. Kalau perusahaan itu sendiri mampu, ya silakan. Kalau tidak, kan dia masih ada holdingnya. Nah, holding-nya, kemudian tentunya kita," tuturnya.
Dia bilang, bisa saja Danantara ikut tanam modal, namun skemanya masuk lewat Danantara Investment Management (DIM). "Kecuali misalnya DIM, Danantara Investment, itu melihat ada opportunity di situ, dan dia mau masuk, ya silakan saja," ujar dia.
PT Timah Rugi
Febriany mengungkap kondisi PT Timah yang dihadapkan banyak praktik ilegal, seperti yang jadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Namun, dia juga melihat adanya peran penting PT Timah dalam memastikan pasokan global.
"Tapi jelas kan, kalau pemerintah lihat kan Presiden sangat fokus ya ke illegal, kemudian tumpang tindih, ya selama ini maaf aja Timah diporotin lah," ungkapnya.
"Sekarang mau dirapi-rapikan, dan dibersihkan dan dikonsolidasi. Saya rasa masa depannya harusnya sangat positif. Timah itu berperan besar ke suplai dunia juga," Febriany menambahkan.