Terungkap Fakta Anak Bacok Leher Ayah Nyaris Putus, Pelaku Diduga Gangguan Jiwa

Berdasarkan hasil observasi di Rumah Sakit Jiwa di wilayah Pesawaran, terduga pelaku dinyatakan sebagai orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ. Status kejiwaan pelaku hingga kini belum bersifat final secara hukum.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 14 Januari 2026, 17:12 WIB
Tersangka pembunuh ayah kandungnya di Bandar Lampung saat menjalani rekonstruksi. (Liputan6.com/Ardi Munthe).

Liputan6.com, Jakarta - Polisi menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan seorang ayah yang dilakukan oleh anak kandungnya sendiri di Kelurahan Rajabasa Jaya, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung. Pembunuhan terjadi pada 21 November 2025. 

Kapolsek Kedaton Kompol Budi Harto mengungkap hasil sementara observasi kejiwaan terhadap tersangka Ristam Efendi. 

“Berdasarkan hasil observasi di Rumah Sakit Jiwa di wilayah Pesawaran, terduga pelaku dinyatakan sebagai orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ,” ujar Budi Harto, Rabu (14/1/2026). 

Meski demikian, polisi masih menunggu tahapan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan pertanggungjawaban pidana tersangka secara hukum.

Kuasa hukum tersangka, Tarmizi mengamini pernyataan kapolsek. Dia membenarkan adanya riwayat gangguan kejiwaan.

“Dari keterangan keluarga sejak awal memang ada riwayat gangguan kejiwaan,” kata Tarmizi.

Tarmizi menegaskan, status kejiwaan kliennya hingga kini belum bersifat final secara hukum. 

“Hasil observasi memang menunjukkan adanya gangguan jiwa, tetapi bentuk dan tingkatnya masih menunggu pemeriksaan lanjutan dari ahli pidana. Proses hukumnya masih berjalan,” tutupnya.

Dalam rekonstruksi tersebut, tersangka Ristam Efendi memperagakan 21 adegan. Sejumlah fakta penting terungkap. Mulai awal tersangka mengambil senjata tajam hingga detik-detik penyerangan yang menyebabkan korban meninggal dunia di lokasi kejadian.

Salah satu adegan krusial memperlihatkan tersangka mengambil sebilah golok yang disimpan di atas lemari di dalam rumah. Senjata tajam tersebut kemudian digunakan untuk menyerang ayah kandungnya sendiri. 

Sebelum melakukan pembacokan, tersangka sempat mendorong dan menepuk tubuh korban sebanyak tiga kali. 

Setelah itu, tersangka melancarkan serangan secara brutal. Dalam rekonstruksi diperagakan golok diayunkan ke arah leher korban sebanyak tiga kali hingga menyebabkan korban tewas dengan kondisi leher nyaris putus.

Kapolsek Kedaton Kompol Budi Harto mengatakan rekonstruksi dilakukan untuk memberikan gambaran utuh terkait tindak pidana yang terjadi. Dia menjelaskan, dari hasil rekonstruksi terlihat jelas bahwa serangan dilakukan secara berulang.

“Sesuai adegan yang diperagakan, tersangka mengayunkan senjata tajam berkali-kali ke arah korban,” ujarnya.

Menurut Budi, rekonstruksi penting untuk mencocokkan keterangan tersangka, saksi, dan alat bukti yang telah dikumpulkan penyidik. 

“Tujuannya agar peristiwa pembunuhan ini dapat tergambar secara jelas dan utuh,” tegasnya.

Kuasa hukum tersangka, Tarmizi menyebut dalam rekonstruksi terjadi penambahan jumlah adegan.

“Tadi diperagakan 21 adegan, bertambah dari sebelumnya yang hanya 15 adegan. Ini untuk memastikan secara rinci apa saja perbuatan yang dilakukan tersangka,” terangnya. 

 

Tersangka pembunuh ayah kandungnya di Bandar Lampung saat menjalani rekonstruksi. (Liputan6.com/Ardi Munthe).

Tewas dalam Kondisi Leher Nyaris Putus

Diberitakan sebelumnya, warga Rajabasa Jaya, Bandar Lampung, dikejutkan dengan penemuan seorang pria lanjut usia yang tewas mengenaskan di dalam rumahnya pada Jumat pagi (21/11/2025). Korban, Marson (67), diduga kuat dibunuh oleh anak kandungnya sendiri. 

Dalam foto yang diterima Liputan6.com, kondisi korban terlihat sangat tragis. Ia ditemukan dalam posisi terduduk di ruang tamu, tak lagi bernyawa, dengan luka sayat dalam di bagian leher hingga nyaris putus. Luka tersebut diduga akibat sabetan senjata tajam. 

Pelaku, yang diketahui bernama Rustam (35), langsung melarikan diri setelah menghabisi nyawa ayahnya. Hingga kini, polisi masih melakukan pengejaran.

Kapolsek Kedaton, AKP Budi Harto, membenarkan adanya peristiwa tragis tersebut. Dia mengatakan, polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan sejumlah saksi. 

"Iya benar, ada dugaan pembunuhan di sebuah rumah di Rajabasa Jaya. Pelakunya diduga anak kandung korban sendiri. Kejadian sekitar pukul 09.00 WIB," ujarnya, Jumat (21/11).

Saat evakuasi, kata Budi, korban ditemukan dalam posisi terduduk di ruang tamu dengan luka parah di bagian leher.

"Lukanya pada bagian leher hampir putus, digorok menggunakan golok," jelasnya.

Pembunuhan sadis itu dipicu persoalan sepele, ajakan sang ayah untuk ikut bekerja di kebun. 

"Ada percakapan antara korban dan pelaku. Korban mengajak anaknya bekerja di Pesisir Barat. Pelaku menolak," ujar Budi, Jumat (21/11).

Namun penolakan itu diduga berubah menjadi amarah. Dari keterangan saksi keluarga yang berada di rumah, keduanya sempat cekcok di bagian belakang rumah. 

Usai adu mulut, Rustam berjalan masuk ke kamar. Marso menyusul dari belakang dan langsung digorok oleh sang anak.

"Pelaku diduga mengambil senjata tajam di kamar. Korban sempat didorong hingga terduduk, lalu pelaku menggorok leher korban," ungkapnya.

Luka sayat yang hampir memutus leher itu membuat Marso tewas seketika, bersimbah darah di ruang tamu rumahnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya