Manchester United Pilih Michael Carrick: Solusi Darurat atau Sekadar Penyelamat Citra?

Manchester United resmi menunjuk Michael Carrick sebagai pelatih.

oleh Rindi AntikaDiterbitkan 15 Januari 2026, 12:00 WIB
Setelah resmi memecat Solskjaer, Setan Merah langsung menunjuk mantan gelandang MU sekaligus asisten pelatih Solskjaer, Michael Carrick, sebagai pelatih sementara. (AFP/Peter Powell)

Liputan6.com, Jakarta - Manchester United menunjuk Michael Carrick sebagai pelatih sementara hingga akhir 2025/2026. Keputusan ini dianggap sebagai upaya meredam kritik dan menyelamatkan citra klub.

Langkah manajemen Manchester United yang memilih Michael Carrick sebagai pengganti Ruben Amorim mengundang perbincangan besar.

Alih-alih mencari pelatih kelas dunia yang memiliki rekam jejak gelar juara di liga-liga top Eropa, United justru kembali ke pola lama dengan menunjuk mantan pemainnya sendiri yang dianggap memahami DNA klub.

Keputusan ini memicu kekhawatiran di kalangan pengamat, bahwa klub hanya sedang mengulang romansa masa lalu yang gagal. MU pernah merasakannya pada era Ole Gunnar Solskjaer yang berujung pemecatan tahun 2021.

Pasalnya, tidak ada jaminan Carrick memiliki kapasitas taktis yang setara dengan manajer elite Premier League lain pada saat ini.


Migrasi Staf Middlesbrough dan Bayang-Bayang Gaya Inggris

Michael Carrick merupakan mantan pemain sekaligus asisten Manajer di Mancherster United. Ia memulai kariernya setelah gantung sepatu pada 2018 silam. Kesuksesan Setan Merah menjadi runner up Liga Inggris dan Liga Europa merupakan salah satu jasanya. (Foto: AFP/Pool/Phil Noble)

Dalam upaya memperkuat posisi Carrick, klub juga mendatangkan gerbong asisten yang sangat kental dengan nuansa sepak bola tradisional Inggris, termasuk Steve Holland dari timnas Inggris dan Jonathan Woodgate dari Middlesbrough.

Langkah ini dilihat sebagai upaya United untuk membangun “The English Project”, namun sekaligus menimbulkan tanda tanya besar apakah gaya kepelatihan ini masih relevan di tengah dominasi taktik modern yang diusung manajer-manajer papan atas dunia.

Ketergantungan pada sosok-sosok yang hanya berpengalaman di level Championship atau asisten tim nasional dianggap sebagai tantangan yang sangat berisiko bagi stabilitas performa tim di level tertinggi kompetisi Eropa.


Peran Ganda Jonny Evans

Wajah kecewa pemain Manchester United (MU), Jonny Evans, setelah gol yang dicetaknya dianulir wasit karena dianggap sudah berada di posisi offside dalam pertandingan melawan Burnley pada pekan keenam Liga Inggris 2023/2024, Minggu (24/9/2023) dini hari WIB. Namun, Jonny Evans berhasil mencetak assist untuk gol penentu kemenangan yang dibuat oleh Bruno Fernandes dalam laga ini. (Richard Sellers/PA via AP)

Keputusan unik manajemen untuk memberikan peran kepada bek senior Jonny Evans sebagai staf pelatih semakin mempertegas kesan bahwa United sedang mengalami krisis kepemimpinan internal.

Evans diharapkan mampu menjadi tameng bagi Carrick dalam mengendalikan ego pemain bintang di ruang ganti yang selama ini dikenal sulit untuk diredam.

Strategi ini secara tersirat menunjukkan bahwa manajemen United lebih memprioritaskan orang dalam yang memiliki koneksi sejarah dengan Sir Alex Ferguson untuk menjaga disiplin, ketimbang melakukan perombakan total secara profesional dan modern layaknya sebuah klub sepak bola industri maju di abad ke-21.


Strategi Penyelamatan Citra Lewat Sosok Legenda

Bendera sepak pojok berlogo Manchester United di Old Trafford. (c) AP Photo/Dave Thompson

Penunjukan Michael Carrick ini juga dipercaya sebagai langkah taktis manajemen untuk mengalihkan kritik tajam publik dari kegagalan jajaran direksi dalam menyusun visi olahraga yang jelas.

Dengan menempatkan sosok legenda yang sangat dicintai oleh para penggemar, manajemen seolah-olah menggunakan karisma Carrick sebagai perisai untuk meredam amarah suporter jika hasil di lapangan tidak kunjung membaik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya