Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah naik lebih dari 2% pada hari Selasa, (Rabu waktu Jakarta) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran dan berjanji kepada para demonstran bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.
Dikutip dari CNBC, Rabu (14/1/2026), harga minyak mentah AS naik USD 1,65, atau 2,77%, dan ditutup pada level USD 61,15 per barel. Sedangkan patokan harga minyak dunia, Brent naik USD 1,60 atau 2,51%, dan ditutup pada level USD 65,47 per barel.
Advertisement
Pasukan keamanan Republik Islam Iran telah menindak demonstrasi besar-besaran yang dilaporkan menewaskan ratusan orang. Pemerintah telah memutus akses internet di Iran, sehingga sulit untuk memverifikasi bagaimana situasi di lapangan berkembang.
Trump telah berulang kali mengancam akan campur tangan jika Republik Islam Iran membunuh para demonstran.
“Para patriot Iran, TERUSLAH BERPROTES - KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA KALIAN!!! Catat nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan,” kata Trump dalam unggahan Truth Social pada hari Selasa.
“Mereka akan membayar harga yang mahal,” kata presiden.
“Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal ini BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN. MIGA!!!”
Iran adalah anggota OPEC dan produsen minyak mentah utama. Pasar minyak memantau apakah kerusuhan tersebut dapat menyebabkan gangguan pasokan.
Trump Mengincar Iran, Siap-siap Harga Minyak Dunia Bergejolak
Sebelumnya, ketegangan geopolitik global kembali menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut-sebut mulai mengincar Iran sebagai target berikutnya. Setelah melakukan langkah keras terhadap Venezuela dan wacana penguasaan Greenland. Situasi ini dikhawatirkan akan mempengaruhi harga minyak dunia.
Situasi di Iran kian memanas seiring gelombang protes anti pemerintah yang telah memasuki pekan ketiga. Aksi tersebut dipicu oleh lonjakan inflasi tajam dan tekanan ekonomi, sebelum berkembang menjadi demonstrasi menentang rezim yang berkuasa.
Melansir laman CNBC, Senin (12/1/2026), kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, HRANA, mencatat lebih dari 500 orang tewas akibat tindakan represif aparat keamanan Iran dalam meredam protes tersebut.
Trump Isyaratkan Intervensi
Menanggapi situasi tersebut, Trump menyampaikan pernyataan kontroversial melalui Truth Social. Ia menulis bahwa Amerika Serikat akan “datang menyelamatkan” para demonstran Iran, sebuah pernyataan yang langsung memicu perhatian pelaku pasar global.
Pernyataan itu bukan sekadar kata-kata kosong. Sejumlah pejabat Gedung Putih dilaporkan telah memaparkan berbagai skenario kepada Trump mengenai langkah yang dapat diambil terhadap Iran.
Opsi tersebut mencakup tindakan militer, operasi siber, hingga tekanan ekonomi, menurut laporan MS Now dan sejumlah media internasional.
Trump juga dijadwalkan menerima pengarahan lanjutan terkait opsi-opsi tersebut dalam waktu dekat, yang semakin meningkatkan kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Ancaman bagi Pasar Minyak
Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia, sehingga setiap potensi konflik dengan Amerika Serikat diperkirakan akan berdampak langsung pada harga energi global.
Analis menilai, gangguan terhadap produksi atau distribusi minyak Iran berisiko mendorong lonjakan harga minyak mentah.
Berbeda dengan kasus Venezuela, operasi terhadap Iran dinilai jauh lebih kompleks dan berisiko, mengingat posisi strategis Iran dalam rantai pasok energi dunia.
Ketegangan ini pun mulai menimbulkan kehati-hatian di pasar keuangan, khususnya di sektor komoditas.Selain itu, konflik yang meluas di Timur Tengah berpotensi memperburuk pasar dalam jangka pendek, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.