Kesaksian Pendemo Iran: Aparat Tembak Massa Tak Bersenjata dari Jarak Dekat

Seperti apa kesaksian para demonstran yang tersebar di sejumlah kota Iran?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 13 Januari 2026, 17:03 WIB
Cuplikan gambar dari video yang beredar di media sosial menunjukkan para pengunjuk rasa kembali turun ke jalan-jalan di Teheran pada Sabtu (10/1/2026), meski aparat keamanan memperketat penindakan dan akses Iran terhadap dunia luar—termasuk komunikasi—dibatasi. (Dok. UGC via AP)

Liputan6.com, Teheran - Aparat keamanan Iran dilaporkan menggunakan kekerasan untuk membubarkan gelombang protes anti-pemerintah yang meluas di berbagai kota.

Sejumlah saksi mata menyebut pasukan keamanan menembaki demonstran tak bersenjata secara langsung, dikutip dari laman BBC, Selasa (13/1/2026).

"Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri. Mereka menembak langsung ke barisan demonstran, dan orang-orang jatuh di tempat mereka berdiri," kata Omid, seorang pria berusia awal 40-an dari sebuah kota kecil di Iran selatan.

Namanya disamarkan demi keselamatan. Suaranya bergetar saat menceritakan peristiwa tersebut, seraya mengaku khawatir dilacak oleh otoritas.

Omid mengatakan ia telah ikut turun ke jalan selama beberapa hari terakhir untuk memprotes memburuknya kondisi ekonomi. Menurutnya, pasukan keamanan menggunakan senapan serbu bergaya Kalashnikov untuk membubarkan massa.

"Kami melawan rezim brutal dengan tangan kosong," ujarnya.

BBC mengaku menerima sejumlah kesaksian serupa dari berbagai wilayah Iran terkait tindakan keras aparat setelah protes meluas pekan lalu. Situasi peliputan semakin sulit setelah pemerintah memutus akses internet secara luas. BBC Persia sendiri dilarang meliput dari dalam Iran.

Salah satu aksi anti-pemerintah terbesar terjadi pada Kamis, yang menandai malam ke-12 demonstrasi. Gelombang massa disebut membesar pada Kamis dan Jumat setelah seruan dari Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang kini hidup di pengasingan.

Sehari kemudian, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan bahwa "Republik Islam tidak akan mundur." Sejumlah saksi mengatakan kekerasan terburuk justru terjadi setelah pernyataan tersebut, ketika pasukan keamanan dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) disebut menerima perintah langsung untuk bertindak.

Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan dan menyebut aksi demonstrasi sebagai "tindakan teroris", sebagaimana dilaporkan media pemerintah.

Pengakuan Perempuan Muda di Teheran

Mahsa Amini meninggal setelah ia ditangkap polisi akibat tidak pakai hijab dengan benar. Warga Iran pun demo. Dok: AP Photo

Seorang perempuan muda di Teheran menggambarkan Kamis sebagai "hari penghakiman". Ia mengatakan demonstrasi meluas hingga ke lingkungan-lingkungan terpencil di ibu kota. Namun situasi berubah drastis pada Jumat. "Pasukan keamanan hanya membunuh dan membunuh. Melihatnya sendiri membuat saya benar-benar kehilangan semangat. Jumat adalah hari yang berdarah," katanya.

Menurutnya, setelah kekerasan pada Jumat, banyak warga takut keluar rumah dan memilih meneriakkan slogan dari gang-gang sempit atau dari dalam rumah. Ia menggambarkan Teheran seperti medan perang. "Dalam perang, kedua pihak punya senjata. Di sini, orang-orang hanya berteriak lalu dibunuh. Ini perang sepihak," ujarnya.

Kesaksian serupa datang dari Fardis, sebuah kota di barat Teheran. Saksi mata mengatakan anggota pasukan paramiliter Basij tiba-tiba menyerang demonstran pada Jumat setelah berjam-jam tidak ada kehadiran polisi di jalan. Pasukan berseragam yang mengendarai sepeda motor itu disebut menembakkan peluru tajam ke arah massa.

Mobil-mobil tanpa tanda pengenal juga dilaporkan memasuki gang-gang sempit, dengan penumpangnya menembaki warga yang tidak terlibat aksi. "Dua atau tiga orang tewas di setiap gang," kata seorang saksi.

Para narasumber yang berbicara kepada BBC Persia menilai situasi di dalam Iran sulit dibayangkan oleh dunia luar. Mereka meyakini jumlah korban tewas jauh lebih besar dibanding angka yang selama ini dilaporkan media internasional.

Media asing tidak diizinkan bekerja secara bebas di Iran dan sebagian besar bergantung pada laporan kelompok hak asasi manusia di luar negeri. Pada Senin, Iran Human Rights (IHRNGO) yang berbasis di Norwegia menyebut sedikitnya 648 demonstran tewas, termasuk sembilan anak di bawah usia 18 tahun.

 

Sumber Lokal: Jumlah Korban Bisa Jauh Lebih Tinggi

Demonstrasi di Iran yang berawal pada Kamis, 28 Desember 2017. Demo dilaporkan terjadi berlarut-larut dan menyebar ke beberapa kota (screengrab)

Sumber lokal lain menyebut angka korban jauh lebih tinggi, mulai dari ratusan hingga ribuan orang di sejumlah kota. Namun BBC menyatakan belum dapat memverifikasi angka tersebut secara independen. Hingga kini, otoritas Iran juga belum merilis data resmi dan transparan mengenai jumlah korban tewas di kalangan demonstran.

Media Iran melaporkan sekitar 100 personel keamanan tewas selama kerusuhan, dan menuduh para demonstran—yang mereka sebut "perusuh"—membakar puluhan masjid dan bank. Video yang telah diverifikasi oleh tim pemeriksa fakta BBC Persia menunjukkan sejumlah kendaraan polisi dan gedung pemerintah dibakar di beberapa lokasi.

Kesaksian dan video yang diterima BBC Persia mayoritas berasal dari kota-kota besar seperti Teheran, Karaj, Rasht, Mashhad, dan Shiraz, wilayah yang memiliki akses internet relatif lebih baik melalui jaringan satelit Starlink. Informasi dari kota-kota kecil, yang disebut mengalami korban besar pada awal protes, masih sangat terbatas.

Meski demikian, konsistensi dan kemiripan laporan dari berbagai daerah menunjukkan luasnya penindakan serta penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat.

Tenaga medis dan perawat yang berbicara kepada BBC mengatakan rumah sakit di banyak kota kewalahan. Mereka melaporkan melihat banyak korban luka tembak, terutama di bagian kepala dan mata. Beberapa saksi menyebut jenazah korban ditumpuk dan tidak segera diserahkan kepada keluarga.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya