Barcelona vs Real Madrid: Akhir dari Perjalanan Xabi Alonso

Pertandingan Barcelona vs Real Madrid di final Piala Super Spanyol ternyata menjadi laga terakhir Xabi Alonso sebagai pelatih Los Blancos.

oleh Dimas Satria NugrohoDiterbitkan 13 Januari 2026, 16:00 WIB
Real Madrid has officially sacked Xabi Alonso as manager after seven months, following a string of poor results. Here are the full details of the dismissal and who will replace him.

Liputan6.com, Jakarta - Pertandingan Barcelona vs Real Madrid di final Piala Super Spanyol menutup kisah Xabi Alonso di bersama El Real. Kurang dari 24 jam setelah kekalahan dramatis dari Barcelona di final Piala Super Spanyol, Madrid mengumumkan bahwa mereka berpisah dengan Alonso.

Padahal, pelatih berusia 44 tahun itu baru sekitar tujuh bulan menangani Los Blancos setelah meninggalkan Bayer Leverkusen Klub menyebut perpisahan ini sebagai keputusan bersama, sembari menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pelatih interim.

Dalam pernyataan resminya, Madrid tetap memberi penghormatan tinggi kepada Alonso sebagai legenda klub. Namun, di balik kata-kata manis itu, hasil di lapangan dan tekanan khas Bernabeu tampaknya terlalu berat. Real Madrid memang jarang memberi waktu panjang, bahkan untuk sosok sekelas Alonso.


Dianggap Tak Pernah Cocok Dengan Madrid?

Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso saat laga Grup H Piala Dunia Antarklub 2025 melawan Al Hilal di Hard Rock stadium, Miami, Amerika Serikat, Kamis (19/06/2025) WIB. (AFP/Dan Mullan)

Legenda Valencia, Gaizka Mendieta, berbicara blak-blakan soal kegagalan Alonso. Menurutnya, filosofi pressing tinggi dan permainan kompak ala Leverkusen sulit, bahkan nyaris mustahil, diterapkan di Real Madrid.

“Saya belum pernah melihat itu di Real Madrid, sama sekali,” kata Mendieta, dilansir Goal.com.

Ia menilai Madrid punya DNA berbeda, di mana tim kerap kehilangan bentuk di fase tertentu pertandingan. Apa yang sukses besar di Bundesliga, termasuk gelar liga dan DFB Pokal, tidak otomatis bisa direplikasi di Spanyol. Di Madrid, tuntutan menang instan sering berbenturan dengan proses. Alonso, menurut Mendieta, terjebak di antara idealisme taktik dan realitas klub super besar.


Bintang Los Blancos Ucapkan Terima Kasih

Penyerang Real Madrid asal Prancis, Kylian Mbappe, memberi isyarat saat laga La Liga melawan Athletic Bilbao di San Mames, Bilbao, 3 Desember 2025. (ANDER GILLENEA / AFP)

Meski masa baktinya singkat, Alonso meninggalkan kesan positif di ruang ganti. Kylian Mbappe, top skor Madrid musim ini, menyampaikan pesan emosional lewat media sosial Instagram.

Meskipun singkat, sungguh menyenangkan bermain untuk Anda & belajar dari Anda, tulis Mbappe.

Ia memuji kepercayaan yang diberikan Alonso sejak hari pertama. Arda Guler juga menyampaikan hal serupa, menegaskan bahwa Alonso berperan besar dalam perkembangan permainannya.

Kepercayaan Anda kepada saya membuat saya menjadi pemain yang lebih baik, tulis Guler.

Dukungan dari pemain ini menunjukkan bahwa masalah Alonso bukan pada relasi personal, melainkan pada hasil dan ekspektasi besar yang selalu menyelimuti Real Madrid.


Digadang Bakal Berlabuh Ke Anfield?

Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso memberikan instruksi saat melawan Juventus di Liga Champions. (AP Photo/Manu Fernandez)

Meski gagal di Madrid, banyak pihak yakin karier kepelatihan Alonso masih panjang. Legenda Liverpool, John Arne Riise, bahkan percaya Alonso suatu hari akan melatih The Reds.

“Saya yakin Xabi Alonso akan melatih Liverpool suatu hari nanti,” ujar Riise, dilansir Goal.com.

Riise menilai Alonso punya aura dan karakter yang dibutuhkan seorang manajer besar, sama seperti Steven Gerrard. Saat ini Alonso memilih rehat sejenak dari hiruk-pikuk sepak bola. Namun, pengalaman pahit di Madrid bisa menjadi pelajaran berharga. Dunia kepelatihan penuh paradoks, gagal di satu raksasa, bisa jadi sukses di raksasa lain. Nama Xabi Alonso jelas belum selesai.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya