IHSG Hari Ini Diproyeksi Konsolidasi, Level 8.800 Jadi Kunci

IHSG diprediksi dibayangi volatilitas dengan potensi koreksi ke 8.800. Analis KISI menilai penurunan ini merupakan koreksi wajar akibat aksi profit taking.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 13 Januari 2026, 10:55 WIB
Petugas kebersihan bekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia. Meski IHSG berisiko terkoreksi hingga level 8.800, peluang rebound ke angka 9.000 masih terbuka. Analis menyarankan investor mencermati rotasi sektor dari saham konglomerasi menuju saham blue chip yang memiliki likuiditas tinggi. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memproyeksikan pergerakan pasar saham hari ini masih diwarnai volatilitas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibayangi aksi ambil untung tetapi masih sehat.

Menurutnya, potensi koreksi lanjutan masih terbuka, terutama jika tekanan jual kembali meningkat di awal perdagangan. Secara teknikal, Wafi menilai area 8.800 menjadi level penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar.

"Potensi koreksi masih ada sampai level 8.800," kata Wafi kepada Liputan6.com, Selasa (13/1/2026).

Apabila tekanan berlanjut dan level tersebut ditembus, ruang koreksi dinilai masih cukup terbatas selama tidak menembus area support utama.

Di sisi lain, peluang rebound tetap ada meski cenderung terbatas. Wafi memperkirakan penguatan indeks, jika terjadi, berpotensi tertahan di kisaran 9.000 seiring sikap investor yang masih cenderung berhati-hati menunggu sentimen baru.

"Tapi kalau pun rebound masih terbatas hingga 9.000," ujarnya.

 

Profit Taking Picu Tekanan

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Wafi menjelaskan pelemahan pasar yang sempat membuat indeks anjlok hingga 1% pada sesi kedua perdagangan lebih dipicu oleh aksi ambil untung. Kenaikan indeks yang sudah berlangsung cukup lama mendorong sebagian investor merealisasikan keuntungan.

Tekanan juga datang dari sentimen regional, di mana mayoritas bursa Asia tercatat bergerak di zona merah pada perdagangan sebelumnya. Kondisi tersebut turut memengaruhi psikologis pasar domestik, sehingga tekanan jual tidak terhindarkan.

"Lebih ke profit taking, IHSG kan sudah naik lama. Regional juga rata-rata merah kemarin sore," ujarnya.

 

Koreksi Masih Wajar

Layar komputer menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski IHSG sempat turun ke level 8.887 dengan 444 saham melemah, Wafi menegaskan koreksi ini masih tergolong sehat. Secara teknikal, tren jangka menengah IHSG dinilai masih berada dalam fase bullish selama indeks mampu bertahan di atas area 8.750.

Ia menambahkan, pergerakan pasar ke depan cenderung mengarah ke fase konsolidasi. Di tengah volatilitas indeks acuan, pelaku pasar diperkirakan mulai melakukan rotasi sektor, terutama dari saham-saham konglomerasi yang telah naik kencang tahun lalu menuju saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid. Rotasi tersebut membuka peluang pada indeks saham unggulan seperti LQ45 dan IDX30.

"Masih koreksi wajar, secara tren turun samapai 8.750 itu masih bullish. Lebih ke konsolidasi, ada potensi rotasi sektor balik ke LQ45/IDX30 dari saham konglo yang tahun lalu sudah naik kenceng dan valuasi sekarang sudah relatif mahal," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya