13 Januari 1993: Sekutu AS Lancarkan Serangan Terhadap Irak Selatan

Apa yang menyebabkan Sekutu kembali melancarkan serangan ke Irak Selatan?

oleh Faqih Nur ImanDiterbitkan 13 Januari 2026, 06:00 WIB
Serangan itu terjadi pada 27 Juni 1993 atas perintah penerus Bush, Bill Clinton. Kapal-kapal Angkatan Laut AS di Teluk dan Laut Merah menembakkan 23 rudal jelajah ke markas intelijen Irak di Baghdad sebagai pembalasan, kata Pentagon, atas keterlibatan negara itu dalam rencana pembunuhan Bush. (Dok. Jassim Mohammed/AP)

Liputan6.com, Baghdad - Jet tempur Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis melancarkan serangkaian pengeboman di wilayah selatan Irak. Langkah militer tersebut diambil setelah pasukan Irak berulang kali melanggar zona larangan terbang setelah Perang Teluk serta melakukan penyerbuan ke perbatasan Kuwait. Peristiwa bersejarah tersebut tercatat terjadi pada 13 Januari 1993.

Mengutip laporan BBC, Selasa, (13/1/2026), operasi udara berlangsung pada sore hari pukul 17.00 GMT waktu setempat, di bawah pimpinan pesawat pengebom siluman Amerika yang bermarkas di Arab Saudi. Armada tersebut mendapat dukungan dari kapal induk AS di Teluk, pesawat pengebom Tornado milik Inggris, serta jet Mirage Prancis yang ikut bergabung dalam serangan tersebut.

Sasaran utama gempuran meliputi situs rudal dan pangkalan komando pesawat. Laporan awal menyebutkan misi berjalan sukses tanpa adanya korban jiwa dari pihak sekutu.

Gedung Putih memberikan peringatan keras meski Duta Besar Irak untuk PBB, Nizar Hamdoon, telah berjanji menghentikan serangan ke Kuwait. Juru bicara Gedung Putih, Marlin Fitzwater, menegaskan posisi sekutu melalui pernyataannya, "Pemerintah Irak harus mengerti bahwa pembangkangan terus-menerus terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB tidak akan ditoleransi."

Fitzwater menambahkan ancaman serangan lanjutan tanpa peringatan jika serbuan lintas batas terus terjadi. Sementara itu, Perdana Menteri Inggris, John Major, menyebut tindakan tersebut "terbatas dan proporsional". Menurut Major, langkah tersebut bertujuan menjamin keamanan pesawat Inggris agar dapat kembali beroperasi di zona larangan terbang.

Eskalasi Konflik dan Nasib Saddam

Irak menerima gencatan senjata pada 3 Maret 1991. Namun, pasukan yang pergi telah membakar ladang minyak Kuwait dan menjarah negara Arab kecil itu. Pemberontakan di utara dan selatan negara itu ditumpas oleh pasukan setia Saddam, tetapi pada musim panas 1992 - ketika Irak melanggar gencatan senjata dengan menolak akses ke inspektur senjata - presiden Amerika George Bush mengancam akan melakukan serangan udara lebih lanjut. (Dok. Michael Liphitz/AP)

Koresponden BBC di Baghdad, Michael Macmillan, melaporkan bahwa serangan udara tersebut justru berpotensi memperkuat dukungan rakyat bagi Saddam Hussein. Masyarakat Irak mendukung perlawanan Saddam terhadap Barat karena sanksi ekonomi yang berlaku sejak Perang Teluk terasa sangat berat.

Ketegangan antara kedua belah pihak terus berlanjut setelah peristiwa tersebut. Pasukan AS meluncurkan rudal jelajah ke markas intelijen Irak di Baghdad pada Juni 1993 sebagai balasan atas percobaan pembunuhan Presiden George Bush.

Irak kemudian secara resmi menerima batas wilayah dengan Kuwait sesuai ketetapan PBB pada November 1994. Namun, Konflik kembali memanas pada Maret 2003 saat George W. Bush melancarkan serangan besar ke Irak. 

Sebulan kemudian Bush mengklaim kemenangan, tetapi senjata pemusnah massal yang menjadi alasan penyerangan tidak pernah ditemukan. Saddam Hussein tertangkap pada 2003 setelah bersembunyi selama beberapa bulan, menjalani sidang, lalu dieksekusi pada Desember 2006. Kekuasaan secara resmi kembali ke tangan Irak oleh Amerika Serikat pada 28 Juni 2004.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya