Elon Musk akan Buka Algoritma Terbaru X ke Publik Minggu Depan

Elon Musk mengumumkan algoritma terbaru X akan dibuka ke publik dalam tujuh hari ke depan, mencakup sistem rekomendasi konten dan iklan.

oleh Arief Ferdian MaulanaDiterbitkan 13 Januari 2026, 06:30 WIB
Elon Musk. (Patrick Pleul/Pool via AP, File)

Liputan6.com, Jakarta - Pemilik platform X, Elon Musk, mengumumkan rencana membuka algoritma terbaru media sosial tersebut ke publik dalam waktu dekat. Langkah ini diklaim sebagai upaya transparansi di tengah sorotan regulator Eropa terhadap sistem rekomendasi konten X.

Pernyataan tersebut disampaikan Musk melalui unggahan di X pada Sabtu (10/1/2026) waktu setempat. Ia mengatakan perusahaan bakal membuka seluruh kode sumber yang digunakan dalam sistem rekomendasi X, baik untuk unggahan organik maupun konten iklan, dalam waktu sekitar satu pekan ke depam.

“X akan membuat algoritma terbaru, termasuk seluruh kode yang menentukan rekomendasi konten organik dan iklan, menjadi open source dalam tujuh hari,” tulis Musk.

Mengutip Engadget, Selasa (13/1/2026), rencana tersebut muncul di tengah meningkatnya pengawasan terhadap sistem rekomendasi X. Algoritma platform itu tengah diselidiki otoritas Prancis dan Komisi Eropa. Bahkan, Komisi Eropa diketahui telah memperpanjang perintah penyimpanan data terhadap X hingga 2026.

Sorotan terhadap X semakin tajam setelah chatbot kecerdasan buatan milik perusahaan, Grok, sempat disorot karena menghasilkan konten pelecehan seksual terhadap anak atas permintaan pengguna.

Selain itu, Grok juga dilaporkan masih digunakan untuk memanipulasi gambar perempuan secara digital tanpa persetujuan.

X Klaim Transparansi Berkelanjutan lewat Rilis Kode Berkala

Janji membuka algoritma sebenarnya bukan hal baru bagi Musk. Sejak mengambil alih Twitter dan mengubah namanya menjadi X, ia beberapa kali menyatakan akan membuat sistem rekomendasi platform lebih transparan.

Pada 2023, X sempat merilis kode algoritma linimasa “For You” ke GitHub. Namun, sejumlah pengamat menilai kode tersebut belum sepenuhnya mencerminkan cara kerja algoritma secara utuh karena tidak memuat detail penting dan tak diperbarui secara rutin.

Kali ini, Musk mengklaim langkah transparansi akan dilakukan secara berkelanjutan. Ia menyebut pembaruan kode algoritma X akan dirilis setiap empat minggu, lengkap dengan catatan teknis dari pengembang agar perubahan yang terjadi dapat dipahami secara menyeluruh.

“Ini akan dilakukan setiap empat minggu, disertai catatan pengembang yang komprehensif untuk membantu memahami apa saja yang berubah,” ujar Musk.

X Kunci Akses Fitur Visual Grok AI untuk Pelanggan Premium

Ilustrasi: Aplikasi X alias Twitter (Liputan6.com/ Agustin Setyo Wardani)

Sebelumnya, platform media sosial, X, mulai membatasi akses pembuatan dan pengeditan gambar pada chatbot kecerdasan buatan (AI) Grok hanya bagi pelanggan berbayar.

Kebijakan ini diambil setelah muncul sorotan tajam dari berbagai negara terkait potensi penyalahgunaan teknologi tersebut dalam menghasilkan konten visual bermuatan seksual tanpa persetujuan.

Mengutip Digitaltrends, Minggu (11/1/2026), sejak Kamis malam waktu setempat, pengguna X yang ingin memanfaatkan fitur visual Grok diwajibkan berlangganan layanan X Premium dengan tarif mulai dari USD 8 (sekitar Rp 134 ribuan) per bulan. Manajemen X menilai langkah ini sebagai bentuk pengendalian risiko sekaligus upaya memperketat penggunaan fitur teknologi AI.

Meski demikian, kebijakan tersebut menuai kritikan karena dinilai tidak efektif. Sejumlah pengguna teknologi menemukan bahwa layanan pembuatan gambar Grok masih dapat diakses secara gratis melalui situs resmi dan aplikasi terpisah. Celah ini dianggap melemahkan klaim X bahwa mereka serius membatasi potensi penyalahgunaan.

Peneliti keamanan digital pun meragukan efektivitas pembatasan berbasis kartu kredit. Mereka menilai mewajibkan pembayaran tidak otomatis menghentikan praktik penyalahgunaan.

Peneliti deepfake, Genevieve Oh, mengungkapkan Grok tetap memproduksi ribuan gambar berbahaya setiap jam, bahkan setelah sistem berlangganan diberlakukan. Angka itu setara dengan sekitar 60 persen dari total output publik Grok.

Menurut Oh, laju produksi konten tidak pantas dari Grok saat ini melampaui sejumlah situs manipulasi gambar yang selama ini kerap dikenal kontroversial.

Isu itu turut menarik perhatian para pembuat kebijakan di Amerika Serikat (AS). Senator Demokrat Ron Wyden, Edward J. Markey, dan Ben Ray Luján mengirimkan surat kepada CEO Apple dan Google untuk meninjau kembali keberadaan aplikasi X di toko aplikasi mereka.

Mereka menilai pengelola platform belum menunjukkan komitmen kuat terhadap perlindungan pengguna dan standar keselamatan digital.

Aktivis Temukan Celah Grok

Tekanan serupa juga terus meningkat. Pemerintah Inggris dan India menilai sistem berbayar bukan solusi yang memadai untuk menekan risiko penyalahgunaan teknologi. Pemerintah Inggris bahkan menyebut langkah itu sebagai bentuk pelecehan terhadap korban, karena masalah keselamatan justru diubah menjadi sumber pendapatan premium.

Aktivis keselamatan digital, Jess Davies, melaporkan bahwa dirinya masih dapat menemukan celah penggunaan Grok untuk memanipulasi foto melalui aplikasi terpisah, meski kebijakan pembatasan telah diumumkan secara resmi.

Di sisi lain, dinamika ini justru membawa dampak positif terhadap pendapatan X. Data Sensor Tower menunjukkan peningkatan signifikan transaksi pembelian di aplikasi dalam waktu singkat. Kenaikan ini diduga dipicu oleh rasa penasaran pengguna terhadap fitur visual Grok.

Kalangan pakar hukum mengingatkan bahwa pembatasan administratif tanpa penguatan teknologi keamanan berpotensi tidak bertahan lama di pengadilan. Jaksa Agung North Carolina, Jeff Jackson, menilai kasus Grok menjadi momentum penting bagi penguatan regulasi keselamatan AI.

Ia menegaskan pendekatan inovasi cepat tanpa perlindungan memadai tidak lagi dapat ditoleransi ketika menyangkut hak privasi dan keselamatan publik.

X kini dihadapkan pada keputusan strategis: memperketat pengamanan sistem secara menyeluruh atau menghadapi risiko pembatasan distribusi aplikasi di sejumlah negara.

Langkah yang diambil perusahaan akan menentukan apakah Grok dapat bertahan sebagai produk AI yang bertanggung jawab atau justru menjadi kontroversi berkepanjangan.

Infografis Aplikasi Berbalas Pesan Terpopuler

infografis Aplikasi Berbalas Pesan Terpopuler

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya