Liputan6.com, Jakarta - Tether menjalin kerja sama strategis dengan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) untuk memperkuat keamanan aset kripto di Afrika. Kolaborasi ini bertujuan mencegah kejahatan siber dan penyalahgunaan aset digital, dengan fokus awal pada meningkatnya penggunaan USDT di Nigeria.
Kemitraan ini dinilai penting mengingat pesatnya adopsi aset kripto di Afrika, khususnya stablecoin USDT yang banyak digunakan untuk transaksi lintas negara dan lindung nilai. Melalui kolaborasi tersebut, Tether dan UNODC berupaya meningkatkan pengawasan aset digital sekaligus melindungi masyarakat dari kejahatan berbasis teknologi.
Advertisement
CEO Tether, Paolo Ardoino, menegaskan kerja sama ini tidak hanya berfokus pada aspek keamanan teknologi, tetapi juga perlindungan terhadap kelompok rentan.
“Mendukung para korban perdagangan manusia dan membantu mencegah eksploitasi membutuhkan aksi terkoordinasi lintas sektor," ujar CEO Tether Paolo Ardoino dikutip dari coinmarketcap, Minggu (11/1/2026).
"Melalui kolaborasi kami dengan United Nations Office on Drugs and Crime, kami mendukung inisiatif yang menggabungkan inovasi dan edukasi untuk memberdayakan komunitas serta membantu menciptakan peluang yang lebih aman dan inklusif bagi mereka yang paling membutuhkan,” tambah dia.
Pendekatan berbasis edukasi dan inovasi menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem kripto yang aman dan inklusif di kawasan tersebut.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Nigeria Jadi Titik Awal
Dalam kolaborasi ini, Tether berperan sebagai mitra teknologi dan industri, sementara UNODC berada di garis depan pengawasan kejahatan lintas negara. UNODC dipimpin oleh Ghada Waly, yang mengawasi berbagai program pencegahan kejahatan global, termasuk yang memanfaatkan teknologi digital.
Fokus utama kerja sama ini adalah pemberdayaan pengguna kripto dan pencegahan kejahatan siber yang memanfaatkan aset digital. Program yang dijalankan mencakup peningkatan keamanan siber, transparansi keuangan, serta perlindungan terhadap kelompok rentan dari eksploitasi.
Nigeria dipilih sebagai titik awal karena tingginya penggunaan USDT di negara tersebut. Stablecoin ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk transaksi harian, pengiriman uang lintas negara, hingga menjaga nilai aset di tengah volatilitas mata uang lokal.
Meski belum merinci anggaran yang disiapkan, Tether dan UNODC memastikan sumber daya dialokasikan untuk program edukasi, pelatihan, dan penguatan sistem keamanan kripto di Afrika.
Memerangi Aktivitas Ilegal
Dari sisi regulasi, kerja sama ini berpotensi membawa dampak pada penguatan kebijakan pengawasan aset kripto di Afrika. Langkah-langkah seperti peningkatan standar KYC (Know Your Customer) dan AML (Anti-Money Laundering) diperkirakan akan semakin diperketat seiring meningkatnya perhatian terhadap keamanan digital.
Meski belum memperkenalkan regulasi baru, kemitraan dengan lembaga internasional seperti Interpol memberi sinyal adanya pengembangan kebijakan dan sistem penegakan hukum di masa mendatang.
Bagi Tether, inisiatif ini sekaligus menegaskan komitmen perusahaan dalam memerangi aktivitas ilegal berbasis kripto. Rekam jejak kerja sama Tether dengan aparat penegak hukum sebelumnya menjadi modal penting dalam memperkuat kepercayaan pasar.