Jalan Panjang Inalum, Berawal dari Patungan Indonesia-Jepang

Sebagai perusahaan BUMN, Inalum mengelola pembangkit listrik tenaga air (PLTA) serta memproduksi aluminium primer untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri dan pasar ekspor.

oleh Septian DenyDiterbitkan 08 Januari 2026, 18:45 WIB
BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID resmi memiliki nama usaha PT Mineral Industri Indonesia usai spilt off dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum.

Liputan6.com, Jakarta - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menandai 50 tahun perjalanan perusahaannya sebagai momentum refleksi atas kontribusi dan peran strategis yang telah dijalankan dalam mendukung industri aluminium nasional.

Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, menyampaikan bahwa lima dekade perjalanan perusahaan bukan semata tentang lamanya usia, melainkan tentang konsistensi Inalum dalam menjaga relevansi, ketangguhan, dan kontribusi nyata bagi Indonesia.

“Lima puluh tahun menjadi penanda bahwa Inalum terus bertumbuh bersama Indonesia. Sejak awal berdiri, Inalum hadir sebagai industri pengolahan aluminium yang memanfaatkan energi hijau, dan hingga hari ini tetap berkomitmen memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional serta manfaat bagi masyarakat,” ujar Melati, Kamis (8/1/2026).

Perjalanan 50 tahun INALUM juga ditandai dengan capaian kinerja yang mencerminkan kekuatan fondasi perusahaan. Sepanjang tahun 2025, Inalum mencatatkan prestasi pencapaian ALL TIME HIGH PRUDUCTION 280.082 MT dan ALL TIME HIGH SALES 280.141 MT yang artinya Inalum mencapai jumlah produksi dan penjualan tertinggi sepanjang sejarah operasional perusahaan.

Hasil tersebut merupakan buah dari penerapan inovasi berkelanjutan, penguatan efisiensi operasional, strategi bisnis yang adaptif serta komitmen Insan Inalum dalam merespons dinamika industri aluminium global.

Pencapaian ini sekaligus menegaskan ketangguhan Inalum sebagai produsen aluminium nasional yang andal dan berdaya saing. Kedepannya Inalum akan terus melangkah mengambil peran penting dengan inisiatif strategis penguatan Industri Aluminium Terpadu.

 

Didirikan pada 6 Januari 1976

PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM)

Sebagai perusahaan BUMN yang bergerak di industri aluminium terintegrasi, Inalum mengelola pembangkit listrik tenaga air (PLTA) serta memproduksi aluminium primer untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri dan pasar ekspor.

Didirikan pada 6 Januari 1976 sebagai perusahaan patungan Indonesia–Jepang, Inalum sepenuhnya menjadi milik Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 2013. Sempat menjadi holding industri pertembangan di tanah air pada tahun 2018, dan Sejak 2023,

INALUM berstatus sebagai anggota Holding BUMN Industri Pertambangan MIND ID (Mining Industry Indonesia), dan terus memperkuat perannya dalam mendukung kemandirian industri strategis nasional.

 

Ekspansi Smelter Aluminium, Inalum Butuh SDM Mumpuni

Pemisahan MIND ID dan PT Inalum merupakan keputusan yang tepat melalui skema split-off, dan akan menjadikan kedua perusahaan ini lebih fokus. (Dok MIND ID)

Sebelumnya, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) bakal menambah smelter di Mempawah, Kalimantan Barat dan Kuala Tanjung, Sumatra Utara. Ada penambahan kapasitas hingga pembangunan smelter baru di lokasi-lokasi tersebut.

Perlu diketahui, Inalum sudah punya Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah. Kemudian, ada rencana pengembangan kapasitas SGAR 2 pada 2028 dan pembangunan Smelter 2 di Mempawah, Kalimantan Barat, dan Potline 4 di Smelter Kuala Tanjung, pada 2029.

Direktur Strategic Support & Human Capital Inalum, Benny Wiwoho menilai perlu sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dalam menopang perkembangan smelter tersebut.

"Seluruh progres ini menegaskan peran ICLF (Inalum Culture & Learning Festival) sebagai penggerak penguatan kapabilitas SDM, percepatan inovasi, dan peningkatan daya saing jangka panjang perusahaan," kata Benny dalam keterangannya, Rabu (10/12/2025).

Dia menjelaskan, Inalum sebagai bagian dari Holding BUMN Industri Pertambangan, MIND ID, jadi wajah dari industri aluminium terintegrasi di Indonesia. Maka, dibutuhkan karyawan yang siap terhadap dinamika perusahaan dan ekosistem industri aluminium nasional.

"Oleh karena itulah ICLF ini dibuat setiap tahun, kami menganggap bahwa Insan Inalum yang kompetitif, agile dan siap berkembang akan bisa lebih cepat membawa Inalum menjadi lebih kompetitif, inovatif, dan agile," ujar Benny.

 

Mau Bikin Smelter Baru

Inalum bagian dari holding pertambangan MIND ID. (Foto: Mind ID)

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) berencana membangun smelter baru di Mempawah, Kalimantan Barat. Total listrik yang dibutuhkan untuk operasional nantinya mencapai 1,2 gigawatt (GW).

Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita menyampaikan listrik itu perlu dipenuhi pada masa awal operasional di penghujung 2028 mendatang. Adapun, kebutuhan listriknya mencapai 932 megawatt (MW) dengan pasokan kapasitas terpasang 1,2 gigawatt (GW) untuk mengantisipasi pemadaman.

"New aluminium smelter itu dengan 600 ribu ton (kapasitas produksi) itu kita memerlukan 1,2 gigawatt (GW) instalasi terpasang," kata Melati dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI, Kamis (20/11/2025).

Dia mengatakan pasokan listrik diperlukan secara stabil atau tanpa kedip untuk menopang operasional smelter. Artinya, kebutuhan listrik itu harus konsisten sepanjang tahun.

"Karena memang musuh besar kami itu kalau listrik mati smelter kami tidak bisa recovery. Pot-nya langsung mati dan itu harus bangun lining baru untuk pot-nya. Jadi sangat berbahaya sekali kalau buat kami kalau availability-nya itu kurang dari 100 persen," tuturnya.

Dia menjelaskan, pengadaan pembangkit listrik di smelter Mempawah itu tidak masuk dalam anggaran Inalum. Berbeda dengan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I dan II yang dipasok dari pembangkit listrik pribadi milik Inalum.

"Jadi besar harapan kami, kami bisa beli listrik dari PLN," katanya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya