Banjir Bandang Sitaro: Bocah 3 Tahun yang Hilang Ditemukan Tewas Tertimbun di Rumahnya

Dari penemuan itu, jumlah korban tewas banjir bandang Sitari bertambah menjadi 17 orang.

oleh Tim RegionalDiterbitkan 07 Januari 2026, 15:14 WIB
Tim SAR gabungan berhasil menemukan bocah tiga tahun yang dilaporkan hilang usai banjir bandang Sitaro. (Liputan6.com/ Dok Basarnas Sulut)

 

Liputan6.com, Sitaro - Tim Basarnas Sulut kembali menemukan satu korban banjir bandang dalam kondisi meninggal dunia. Korban atas nama Claiton Tatambihe, bocah tiga tahun yang dilaporkan hilang saat kejadian banjir bandang menerjang Kampung Laghaeng, Kecamatan Siau Barat Selatan, Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro). Usai penemuan itu, jumlah tewas banjir bandang Sitaro bertambah jadi 17 orang.

"Korban ditemukan di rumahnya," kata Humas Basarnas Sulawesi Utara (Sulut) Nuriadin Gumeleng, Rabu (7/1/2026).

Setelah ditemukan korban hilang Claiton Tatambihe sekitar pukul 13.34 Wita, lanjut dia, tim SAR gabungan masih mencari dua korban hilang lainnya atas nama Adris Pianaung dan Leon Pianaung, keduanya merupakan warga Kampung Bahu.

Proses pencarian dan evakuasi, ikut dibantu aparat TNI-Polri, pihak terkait lainnya, serta masyarakat.

Sebelumnya pada Senin (5/1) pukul 02.45 Wita beberapa kampung/desa di Pulau Siau diterjang banjir bandang akibat hujan dengan intensitas lebat selama kurang lebih lima jam tanpa henti.

Banjir bandang menerjang beberapa kampung/desa yang menyebabkan 16 warga meninggal, korban luka-luka, serta rumah rusak dan hilang.

Adapun permukiman terdampak bencana antara lain di Kelurahan Bahu, Kelurahan Paniki, Kelurahan Paseng, Kampung Bumbiha, Kampung Peling, Kampung Laghaeng, Kampung Batusenggo, Kampung Beong, Kampung Salili.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Sitaro, TNI, Polri, Basarnas, para pihak terkait, dan masyarakat bahu-membahu, memulihkan daerah permukiman warga yang terdampak banjir bandang tersebut.

 

 

Kerusakan Infrastruktur

Tak hanya menelan banyak korban jiwa, banjir bandang Sitaro juga menyebabkan kerusakan infrastruktur. Sejumlah akses jalan dilaporkan terputus, serta beberapa bangunan kantor dan infrastruktur mengalami kerusakan. Pendataan kerugian materiil masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, dalam upaya penanganan darurat, BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sulawesi Utara, Basarnas, unsur TNI/Polri, perangkat kecamatan dan kelurahan, serta relawan untuk melakukan pencarian korban hilang, evakuasi warga terdampak, dan pendataan kerusakan. 

Bantuan darurat juga telah disalurkan kepada masyarakat terdampak guna memenuhi kebutuhan dasar pengungsi.

Bupati Kepulauan Sitaro telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di Kabupaten Kepulauan Sitaro selama 14 hari, terhitung mulai 5 Januari hingga 18 Januari 2026. Ini sesuai dengan Keputusan Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Nomor 1 Tahun 2026.

"Hingga saat ini, kondisi di lapangan masih dalam penanganan intensif, dengan prioritas pada pencarian korban hilang dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak," ujarnya.

BNPB terus memantau perkembangan situasi dan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi di wilayah Sulut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya