Trump Klaim Venezuela Akan Serahkan 50 Juta Barel Minyak ke AS Usai Penangkapan Maduro

Trump mengklaim minyak akan diangkut menggunakan kapal tangki penyimpanan dan langsung dibawa ke pelabuhan pembongkaran di AS.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 07 Januari 2026, 12:04 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat menyampaikan pernyataan di klub Mar-a-Lago miliknya di Palm Beach, Florida, pada Sabtu (3/1/2026). (Dok. AP/Alex Brandon)

Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa otoritas sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak mentah kepada Amerika Serikat dalam beberapa minggu mendatang, menyusul operasi militer yang menggulingkan Presiden Nicolas Maduro dari kekuasaan.

Trump menyampaikan pengumuman itu melalui unggahan di platform media sosial Truth Social pada Selasa (6/1/2026).

Menurutnya, minyak tersebut akan dijual di pasar internasional dengan harga pasar, dan hasil penjualannya akan "dikendalikan oleh saya sebagai Presiden Amerika Serikat" untuk memastikan dana itu digunakan demi kepentingan rakyat AS maupun Venezuela.

"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa Otoritas Sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang dikenai sanksi kepada Amerika Serikat," ujar Trump dalam unggahannya, dikutip dari laman BBC, Rabu (7/1).

"Minyak ini akan dijual sesuai harga pasar, dan uang itu akan berada di bawah kendali saya, sebagai presiden, untuk memastikan digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat."

Trump menambahkan bahwa dirinya telah mengarahkan Menteri Energi Chris Wright untuk segera mengeksekusi rencana tersebut. Ia menyebut minyak akan diangkut menggunakan kapal tangki penyimpanan dan langsung dibawa ke pelabuhan pembongkaran di AS. 

Pengumuman ini muncul hanya beberapa hari setelah pasukan AS menggelar operasi besar-besaran di Caracas yang berujung pada penangkapan Maduro dan pembawaannya ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan perdagangan narkoba federal.

 

Ambisi Pemerintahan AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan konferensi pers di klub Mar-a-Lago miliknya pada Sabtu (3/1/2026), di Palm Beach, Florida, terkait serangan ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro. (Dok. AP/Alex Brandon)

Langkah Trump itu sekaligus mencerminkan ambisi pemerintahan AS untuk mengintegrasikan kembali minyak Venezuela ke pasar global setelah bertahun-tahun sanksi yang menekan ekspor negara tersebut. Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia namun produksinya telah menurun drastis sejak awal 2000-an karena krisis ekonomi dan kurangnya investasi. 

Pengumuman Trump mengenai minyak Venezuela juga bertepatan dengan perencanaan pertemuan antara pemerintah AS dan sejumlah eksekutif dari perusahaan-perusahaan energi besar seperti Exxon, Chevron, dan ConocoPhillips, yang akan dibahas lebih lanjut di Gedung Putih dalam beberapa hari mendatang.

Reaksi pasar terhadap berita ini mulai terlihat, dengan harga minyak mentah internasional turun setelah pernyataan Trump yang memperkirakan aliran pasokan baru dari Venezuela dapat meningkatkan pasokan global.

Rencana pengalihan minyak ini dipandang sebagai langkah strategis Washington untuk memanfaatkan cadangan energi Venezuela sekaligus memperluas pengaruh geopolitik AS di wilayah tersebut di tengah ketegangan internasional yang sedang berlangsung.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya