Bursa Asia Dibuka Bervariasi Usai Reli Global di Tengah Ketegangan Venezuela

Bursa Asia dan Pasifik dibuka bervariasi setelah Wall Street mencetak rekor di tengah ketegangan Venezuela.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 Januari 2026, 08:45 WIB
Reli saham global berlanjut, namun bursa Asia-Pasifik dibuka tidak searah. Di Jepang, indeks acuan Nikkei 225 menguat 1,12% sementara pasar Australia berada di zona merah.

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia-Pasifik dibuka bervariasi pada perdagangan Selasa, melanjutkan reli besar pasar global yang mencetak rekor. Investor bursa Asia masih mencermati perkembangan ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap pemimpin yang digulingkan, Nicolas Maduro.

Di Jepang, indeks acuan Nikkei 225 menguat 1,12%, sementara Topix melonjak 1,48% dan mencetak rekor tertinggi baru. Berbeda dengan Jepang, pasar Korea Selatan bergerak melemah. Indeks Kospi turun 0,85%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq naik tipis 0,09%.

Pasar Australia juga berada di zona merah. Indeks ASX/S&P 200 terkoreksi 0,42% pada awal perdagangan.

Sementara itu, pasar Hong Kong diperkirakan dibuka menguat. Kontrak berjangka Hang Seng Index diperdagangkan di level 26.562, lebih tinggi dibanding penutupan sebelumnya di 26.347,24.

Di sisi lain, kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak datar pada jam-jam awal perdagangan Asia.

 

Wall Street Reli, Dow Jones Naik Hampir 600 Poin

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Pasar saham Wall Street ditutup menguat tajam pada perdagangan Senin, meski Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap pemimpinnya, Nicolas Maduro.

Investor menilai aksi tersebut tidak akan berkembang menjadi konflik geopolitik besar yang berpotensi mengguncang pasar global.

Dikutip dari CNBC, Selasa (6/1/2026), indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 594,79 poin atau 1,23% dan ditutup di level 48.977,18, sekaligus mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Sepanjang sesi, indeks beranggotakan 30 saham ini juga sempat menyentuh rekor intraday.

S&P 500 naik 0,64% ke posisi 6.902,05, sementara Nasdaq Composite menguat 0,69% dan berakhir di 23.395,82.

Saham sektor energi memimpin penguatan Wall Street, seiring ekspektasi bahwa perusahaan-perusahaan AS akan diuntungkan dari upaya pembangunan kembali infrastruktur minyak Venezuela.

Saham Energi Melonjak

Dalam file foto 11 Mei 2007 ini, tanda Wall Street dipasang di dekat fasad terbungkus bendera dari Bursa Efek New York. (Richard Drew/AP Photo)

Saham Chevron melonjak 5,1% dan dinilai menjadi penerima manfaat terbesar karena masih memiliki kehadiran di Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Exxon Mobil menguat 2,2%. Sementara itu, saham perusahaan jasa ladang minyak seperti Halliburton dan SLB masing-masing melesat 7,8% dan hampir 9%. ETF Energy Select Sector SPDR (XLE) juga naik hampir 3%.

“Dalam jangka pendek, ini mungkin akan mendorong harga minyak karena muncul pertanyaan soal pasokan dan distribusi,” ujar Kepala Strategi Investasi CFRA Research, Sam Stovall, kepada CNBC.

“Namun dalam jangka panjang, ini bisa menjadi perbaikan karena Venezuela hanya menyumbang sekitar 1% pasokan minyak dunia dan infrastrukturnya terus memburuk selama bertahun-tahun. Infrastruktur tersebut perlu diperbaiki, dan mungkin AS bisa membantu," tambah dia. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya